Menuju konten utama

Berita Netanyahu Terkini: Muncul di Konpers & Ancam Mojtaba

Netanyahu mengadakan konferensi pers pertama sejak perang dimulai. Dalam konpers tersebut, ia mengancam Iran dan pemimpin barunya.

Berita Netanyahu Terkini: Muncul di Konpers & Ancam Mojtaba
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memimpin rapat kabinet mingguan, di kementerian luar negeri di Yerusalem, Minggu, 5 Juli 2020. (Foto oleh Gali Tibbon / Pool via AP)

tirto.id - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu muncul ke publik untuk pertama kali dalam sebuah konferensi pers di Dubai, Kamis (12/3/2026).

Dalam konpers tersebut, Netanyahu mengecam pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei dan menyebutnya sebagai “boneka Garda Revolusi”.

Di sisi yang lain, Iran menyampaikan pesan dari pemimpin tertinggi mereka. Mojtaba menekankan pentingnya persatuan di tengah perang, dan menyatakan akan terus berjuang melawan AS-Isreal.

Konpers Pertama Netanyahu Sejak Perang

Ini merupakan kemunculan pertama Netanyahu sejak perang berkecamuk di wilayah Iran, Israel, dan Timur Tengah. Kemunculan Netanyahu juga membantah isu ia tewas karena rudal.

Berbicara pada Kamis malam dalam sebuah konferensi pers, Netanyahu mengatakan bahwa serangan Israel telah menewaskan ilmuwan nuklir terkemuka Iran.

Ia juga menyebut pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, sebagai “boneka Islamic Revolutionary Guard Corps” yang tidak dapat tampil di depan publik.

Netanyahu juga menyampaikan pesan kepada rakyat Iran dengan mengatakan bahwa momen menuju “jalan baru kebebasan” sudah semakin dekat dan bahwa Israel berdiri di pihak mereka.

“Namun pada akhirnya, itu tergantung pada kalian. Itu ada di tangan kalian,” katanya, dikutip Arab News.

Netanyahu Ancam Bunuh Mojtaba Khamenei

Netanyahu juga mengeluarkan ancaman terselubung untuk membunuh pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba.

Netanyahu mengatakan bahwa Iran “bukan lagi Iran yang sama” setelah hampir dua minggu pertempuran udara oleh AS dan Israel.

Berdiri di antara dua bendera Israel dan menjawab pertanyaan melalui sambungan video, Netanyahu bersumpah akan terus menyerang Hezbollah di Lebanon setelah kelompok yang didukung Iran itu melepaskan tembakan pada 2 Maret untuk membalas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran di awal perang.

Ketika ditanya tindakan apa yang mungkin diambil Israel terhadap Mojtaba Khamenei, dan pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, Netanyahu mengatakan:

“Saya tidak akan mengeluarkan polis asuransi jiwa bagi para pemimpin organisasi teroris mana pun … Saya tidak bermaksud memberikan pesan yang tepat di sini tentang apa yang kami rencanakan atau apa yang akan kami lakukan,” ujarnya, dikutip Al Arabiya, Kamis (12/3).

Netanyahu menambahkan bahwa ia berbicara setiap hari dengan Presiden AS, Donald Trump, dan percakapan mereka berlangsung secara bebas dan terbuka.

Mojtaba Sampaikan Pesan Pertama ke Publik Sejak Ia Terpilih

Di sisi lain, Iran pada Kamis (12/3) mengeluarkan pesan pertama atas nama pemimpin tertinggi, Mojtaba Khamenei.

Mojtaba Khamenei

Foto arsip 31 Mei 2019 menunjukkan putra Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, menghadiri demonstrasi untuk memperingati Hari Yerusalem di Teheran. (Photo by Morteza Nikoubazl via Reuters Connect)

Khamenei menyatakan bahwa Iran akan tetap menutup Selat Hormuz dan terus menyerang pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Pesan tersebut dibacakan di televisi pemerintah, bukan disampaikan secara langsung atau melalui video.

Dalam pesannya, Khamenei mengatakan ia akan menuntut kompensasi dari Amerika Serikat atas serangan-serangannya.

Jika Washington menolak, ia menyatakan akan memerintahkan penghancuran aset-aset AS yang nilainya setara dengan jumlah yang menurut Iran harus dibayar.

Khamenei Berpesan untuk Angkatan Bersenjata & Persatuan Iran

Dalam pesan tersebut, Khamenei memuji angkatan bersenjata Iran dan menyerukan agar perlawanan militer terus dilanjutkan terhadap apa yang ia sebut sebagai agresi oleh Amerika Serikat dan Israel.

“Tuntutan massa rakyat adalah kelanjutan dari pertahanan yang efektif dan membuat musuh menyesal,” tulisnya, dikutip Iran International, Kamis (12/3).

Ia juga mengatakan Iran harus terus menggunakan ancaman penutupan Selat Hormuz sebagai alat tekanan dalam konflik tersebut.

“Tentu saja tuas untuk memblokir Selat Hormuz harus terus digunakan,” tulisnya.

Khamenei menambahkan bahwa pejabat Iran sedang mempelajari kemungkinan memperluas perang ke front-front tambahan di mana pihak lawan dianggap rentan.

Pernyataan itu juga memuji apa yang oleh Iran disebut sebagai “Poros Perlawanan” atau Axis of Resistance, serta berterima kasih kepada kelompok-kelompok bersenjata sekutu di kawasan yang mendukung Teheran.

“Kami menganggap negara-negara di front perlawanan sebagai sahabat terbaik kami. Front perlawanan adalah bagian yang tak terpisahkan dari nilai-nilai Revolusi Islam.”

Ia secara khusus menyebut Houthi Movement di Yaman, Hezbollah di Lebanon, serta kelompok-kelompok bersenjata di Irak yang menurutnya tetap berdiri bersama Iran meskipun menghadapi berbagai hambatan.

Sebagian besar pesan tersebut ditujukan kepada publik di dalam negeri, dengan seruan untuk menjaga persatuan dan mobilisasi selama masa perang.

Khamenei mengatakan bahwa pada hari-hari setelah kematian ayahnya—ketika Iran untuk sementara tidak memiliki pemimpin tertinggi atau panglima tertinggi—rakyat Iran menunjukkan ketangguhan.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Dipna Videlia Putsanra

tirto.id - Flash News
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Abdul Aziz