Menuju konten utama

Belajar dari SVB, Purbaya Mau Ubah Indikator Likuiditas di KSSK

Menkeu Purbaya akan membenahi indikator likuiditas KSSK usai menemukan ketidakakuratan yang dinilai berisiko memicu krisis seperti SVB.

Belajar dari SVB, Purbaya Mau Ubah Indikator Likuiditas di KSSK
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) bersama Wakil Menteri Keuangan Juda Agung (kiri) dan Suahasil Nazara (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026). Komisi XI DPR menyetujui pagu indikatif Kementerian Keuangan dalam pembicaraan pendahuluan RAPBN tahun anggaran 2027 sebesar Rp49,8 triliun. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan rencana perbaikan indikator likuiditas yang digunakan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Langkah ini diambil setelah menemukan ketidakakuratan data yang disebut-sebut turut menjadi pemicu krisis perbankan seperti kasus Silicon Valley Bank (SVB) di Amerika Serikat pada 2023.

Purbaya mengaku mulai menaruh perhatian pada indikator base money atau uang primer (M0) setelah melihat pertumbuhan uang di Indonesia hampir nol pada periode April-Agustus 2025. Ia menilai kondisi ini berbahaya bagi perekonomian.

"Kalau kita lihat indikator keuangan yang betul menurut Milton Friedman yang dipegang bank sentral dunia, kita lagi enggak ada pertumbuhan uang. Artinya, ekonomi lagi direm," ujar Purbaya saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Ia mencontohkan kesalahan serupa pernah dilakukan bank sentral AS (The Fed) yang tidak memonitor M0. Akibatnya, M0 ditarik ke bawah hingga minus 15,3 persen dan memicu kekeringan likuiditas dan bermuara pada kebangkrutan Silicon Valley Bank pada Maret 2023.

"Bank sentral AS pernah melakukan kesalahan yang sama, dia enggak monitor M0. Suatu saat M0 ditarik ke bawah minus 15,3 persen. Apa yang terjadi? Maret 2023, ada kasus Silicon Valley Bank. Dampaknya itu," ucapnya.

Menurut Purbaya, setelah insiden tersebut, The Fed mulai menginjeksi uang ke sistem sehingga pertumbuhan M0 kembali positif. "Ini yang menyebabkan AS bisa tumbuh sampai sekarang, walau kadang-kadang bunganya agak tinggi," tambah Purbaya.

Di Indonesia, kata Purbaya, selama ini KSSK menggunakan indikator yang dinilai keliru. Meski bank-bank dan otoritas seperti LPS, BI, dan OJK mengklaim likuiditas ample (cukup), faktanya perbankan mengeluhkan kekurangan uang.

"Saya di LPS cukup lama, saya minta ke orang-orang LPS. Coba deh cari indikator yang pas, kenapa ample tapi bank-nya kurang uangnya? Karena kita monitor, interbank naik kenceng, kadang deposito naik kenceng. Jadi ada kesalahan data atau indikator yang kita pakai oleh KSSK selama ini," ungkapnya.

Purbaya mengaku telah meminta tim KSSK memperbaiki indikator tersebut, namun hasilnya belum sesuai harapan. "Saya sudah minta tim KSSK perbaiki itu, tapi rupanya belum dapat," keluhnya.

Ia menekankan pentingnya indikator M0 sebagai acuan untuk melihat apakah uang di sistem tersedia atau tidak. Hal ini, klaimnya, terbukti setelah pemerintah menginjeksi likuiditas perbankan dengan penempatan SAL Rp200 triliun ke Bank Himbara pada September 2025.

Penempatan dana pemerintah ini memicu pertumbuhan M0 dari 0 persen menjadi 11 persen pada September 2025, bahkan mendekati 13 persen.

"Ini merupakan salah satu acuan yang saya pegang. Sampai sekarang lumayan, kita lihat kita inject, uangnya tumbuh dari 0, September naik jadi 11 persen, mendekati 13 persen. Itu yang membuat ekonomi kita tumbuh jadi 5,39 persen di kuartal IV-2025," jelasnya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana