Balada Kematian dan Pemakaman di Jakarta

Infografik Pemakaman di Jakarta
Warga berdoa untuk kerabat saat ziarah kubur di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta, Senin (26/6). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari.
Oleh: Irfan Teguh - 5 Agustus 2019
Dibaca Normal 4 menit
Kematian senantiasa mengintai setiap yang hidup, dan manusia kerap mencemaskan tempat peristirahatannya yang terakhir.
tirto.id - Mula-mula adalah dua kisah tentang kematian. Pertama, Siti Maswiyah yang meninggal di usia 60 tahun. Di Desa Waru, Kecamatan Parung, Bogor, jenazahnya ditanam di kebun belakang rumahnya. Tata cara penguburannya amat sederhana.

“Tak ada karangan bunga. Tak ada prosesi panjang. Tak ada bunyi tangis sesenggukan. Tak ada wanita-wanita berkerudung hitam dengan kacamata ryben menutupi air mata menetes-netes. Tak ada ucapan dengan sambutan-sambutan panjang. Tak ada salvo…,” tulis Farid Gaban dalam esai bertajuk “Di Bawah Pohon Durian” yang terdapat dalam Belajar Tidak Bicara: Solilokui (1997).

Jasad Siti Maswiyah bersemayam di bawah lindungan udara Parung yang sejuk. Dilingkung pohon melinjo yang setiap pagi meneteskan embun dari daun dan bulir buahnya, pohon pisang yang menari-nari ditiup angin, dan pohon kelapa yang menjulang. Cahaya mentari jatuh di atas pusara lewat celah daun pohon durian dan rambutan.

“Persemayaman yang sempurna, yang membuat iri setiap orang Jakarta—tempat orang hidup berimpitan, mati pun bingung mencari ruang kosong yang damai dari penggusuran,” imbuh Farid.

Kisah kedua datang dari Bro, seorang eksil yang meninggal dunia di Paris. Setelah meninggal dunia jasadnya dikremasi. Sebagian abunya dibawa ke Indonesia, ke daratan Nantalu, Sumatera Utara. Kawannya membawa cawan berisi abu jenazah itu ke tepi sungai, hendak dilarung.

Bro dan kawannya tak pernah mengangankan istirahat panjang dengan cara seperti itu. Waktu kecil mereka mendambakan kelak dikuburkan di bawah langit biru jernih di sekitar hutan hujan.

Dari dalam kubur mereka bisa menyaksikan dan mendengarkan deru air yang jatuh meluncur membasuh tebing, dan menghanyutkan jutaan kiambang buih, serta meninggalkan jejak pelangi di pepohonan.

“Kalau kami mati, kami ingin dikuburkan di daratan Nantalu, di hulu sungai ini, di mana hutan tak mengenal tepi. Kami tak merasa nyaman dengan pekuburan umum, yang membuat kami terus-menerus merasa dikejar-kejar perasaan bersalah, karena membiarkan orang tua kami menjalani istirahat penghabisan dengan ancaman banjir dan limbah rumah tangga yang amis,” ujar kawan Bro.

Kisah tersebut merupakan penggalan dari cerpen bertajuk “Melarung Bro di Nantalu” karya Martin Aleida.

Kematian dan kuburan. Narator pada dua cerita tersebut mendambakan makam yang jauh dari bahaya yang ditimbulkan akibat aktivitas dan keputusan-keputusan manusia.

Farid Gaban menyebut Jakarta dengan cara yang amat tipikal. Ibukota negara digambarkan dari sudut pandang yang paling klise: “tempat orang hidup berimpitan, mati pun bingung mencari ruang kosong yang damai dari penggusuran”.

“Berimpitan” dan “penggusuran” adalah siksaan khas bagi masyarakat marginal di perkotaan yang hidup bagai kutu loncat, dan tak jelas kewarganegaraannya karena KTP pun kerap tidak punya.

Sedangkan Martin Aleida menyebut bahaya itu dengan “ancaman banjir dan limbah rumah tangga yang amis”. Aktivitas manusia memang kerap merampok tempat mereka yang telah mati. Pekuburan Tionghoa yang tak pelit mendirikan tembok, tak jarang dijadikan sebagai tempat jemuran, tempat tidur, dan main kartu.

“Mana yang lebih penting, orang hidup atau orang mati?” kata Ali Sadikin ketika menggusur sebuah permakaman. Saat menjadi Gubernur Jakarta, ia menggusur sekitar 26 Tempat Permakaman Umum (TPU).


Makam Tumpang dan Makam Pahlawan

Belakangan permintaan makam tumpang atau bertumpuk meningkat di Jakarta. Menurut Kepala Seksi Pelayanan dan Perpetakan Makam Dishut DKI Jakarta, Ricky Putra, seperti dilansir CNN, pada 2017 makam tumpang sebanyak 37 persen, sementara pada 2018 meningkat menjadi 39 persen, dan tahun ini kembali bertambah.

Peningkatan ini terjadi karena pada sejumlah TPU yang dianggap strategis, kapasitasnya semakin menipis. Banyak ahli waris tak mau menguburkan kerabatnya di TPU-TPU pinggiran kota yang relatif masih kosong dengan sejumlah alasan: terlalu jauh dari tempat tinggal, dan agar satu kompleks pekuburan dengan kerabat lain yang lebih dulu meninggal dunia.

Menurut Ricky, jika TPU-TPU yang kurang strategis itu dimanfaatkan dengan baik, setidaknya sampai tahun 2037 lahan permakaman di Jakarta masih tersedia untuk menampung sekitar empat ratus ribu jenazah baru.

Tahun lalu hal serupa sempat disampaikan oleh Kepala Dinas Kehutanan, Pertamanan, dan Pemakaman DKI Jakarta, Djafar Muchlisin. Menurutnya, yang tidak cukup di Jakarta bukan ketersediaan lahan permakaman, melainkan lahan permakaman yang strategis.

“Pasti akan ada satu tempat penuh, sedangkan di satu tempat lainnya enggak. Contoh Pondok Ranggon kan masih banyak. Termasuk Tegal Alur, karena ini lokasinya di pinggiran, kurang strategis, makanya kurang peminat,” ujarnya.

Lain halnya dengan alasan Ali Sadikin. Saat wafat, mantan Gubernur Jakarta yang kesohor itu dikuburkan di TPU Tanah Kusir secara tumpang di atas makam istrinya sesuai dengan wasiatnya.

“Karena lahan di Jakarta sudah semakin sempit,” ucap Benny Sadikin mengenang perkataan ayahnya sepeti dikutip Liputan 6.

Tak hanya di sejumlah TPU strategis, kini di Taman Makam Pahawan (TMP) Kalibata pun kondisinya sudah semakin sesak. Laporan Tirto pada Februari 2017 menunjukkan bahwa TMP tersebut tinggal menyisakan sepenggal lahan yang hanya bisa digunakan untuk 789 petak makam baru.

Masalahnya, lahan seluas 25 hektare tersebut tak hanya diisi oleh mereka yang menyandang gelar pahlawan nasional, penyandang bintang republik, bintang mahaputera, dan bintang gerilya sesuai dengan undang-undang yang berlaku, tapi juga dipenuhi oleh para pensiunan tentara dan kepolisian yang dimakamkan di sana.

“[Sebelum SBY mengeluarkan Undang-undang Nomor 20 tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan] hampir semua pensiunan Polri saja bisa masuk sini,” ucap Bahder Husni kepada Tirto.


Selain mengoptimalkan makam tumpang dan sejumlah TPU di pinggiran kota yang relatif masih kosong, pemerintah juga bisa menjadikan TPU sebagai tempat wisata.

“Dinas TPU masih berkutat pada kegiatan rutin gali lubang tutup lubang, menguburkan jenazah, dan menguber-uber setoran retribusi makam,” tulis Nirwono Joga dan Yori Antar dalam Komedi Lenong: Satire Ruang Terbuka Hijau (2007).

Menurut mereka, menjadikan makam sebagai tujuan wisata masih jauh dari pemikiran aparat dan pejabat Pemprov DKI Jakarta. Padahal, imbuhnya, sejumlah kota di pelbagai negara seperti Sydney, London, Paris, Washington DC dan lain-lain, telah menjadikan makam sebagai salah satu penghasil Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Di Jakarta, hal serupa mestinya bisa dilakukan. Sebagai contoh, TPU Karet Bivak seharusnya dapat dikelola secara baik sebagai tempat wisata makam karena di sanalah tempat dikuburkannya sejumlah tokoh terkenal seperti Bing Slamet, Benyamin Sueb, Pramoedya Ananta Toer, MH Thamrin, dan Ismail Marzuki.

Di TPU Karet Bivak juga “Si Binatang Jalang” Chairil Anwar dikuburkan sesuai dengan puisinya:

“di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin”.



Tukang Ojek dan
Kecemasan dari Liang Kubur

Cita-cita tiap orang memang berbeda-beda, termasuk dalam soal kuburan. Ada cerita cukup legendaris di keluarga saya. Salah satu saudara kakek adalah seorang penakut. Kebetulan ia yang paling akhir meninggal dunia dibandingkan semua saudaranya. Konon setiap kali mengantar saudaranya yang hendak dikuburkan, atau saat ziarah setiap lebaran, ia selalu berpesan kepada anak-anaknya bahwa ia ingin dikuburkan dekat jalan raya.

“Kelak kalau emak meninggal dunia, jangan dikuburkan di ujung permakaman yang ada pohon beringin itu, di sini saja, dekat jalan raya,” ucapnya.

“Kenapa Mak?” tanya anak-anaknya.

“Di sini tidak akan terlalu menakutkan dan kesepian, sebab banyak tukang ojek yang lewat,” jawabnya.

Ya, cita-cita tiap orang memang berlain-lainan. Permakaman sebagai ruang perpisahan—karena kematian sekaligus ruang perjumpaan setiap kali ziarah—antara yang hidup dan yang mati, ternyata masih menjadi panggung pelbagai keinginan dan kecemasan.


Kota yang tumbuh bergegas dan menubruk-nubruk, kerap menyisakan pelbagai kekhawatiran termasuk bagi mereka yang masih hidup terhadap mereka yang telah mati. Kecemasan paling dasar tumbuh sebab permakaman tak imun terhadap ancaman penggurusan, banjir, polusi limbah, juga kondisinya yang sesak dan semenjana.

Lapisan berikutnya adalah kehendak untuk bisa mengakses permakaman secara mudah dengan memilih yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal, juga keinginan untuk mengumpulkan semua kerabat dalam satu komplek permakaman.

Sebagai pengecualian, pada kasus di TMP Kalibata, kita barangkali boleh menduga, bahwa para pensiunan tentara dan polisi yang berbondong-bondong dikuburkan di sana adalah juga ejawantah atas cita-cita untuk menjadi pahlawan atau dianggap pahlawan.

Baca juga artikel terkait PEMAKAMAN atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight