Menuju konten utama

Bahlil Sebut Kerja Sama Nikel RI-Filipina Bentuknya B2B

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengatakan pemerintah RI tengah fokus mengembangkan bisnis hilirisasi, terutama terkait komoditas nikel.

Bahlil Sebut Kerja Sama Nikel RI-Filipina Bentuknya B2B
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia dalam keterangan pers, di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (16/4/2026). tirto.id/Qonita Azzahra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebutkan kerja sama terkait nikel antara RI-Filipina berbentuk business to business (B2B). Dengan demikian, Pemerintah RI tidak secara langsung menjalin kerja sama dengan Pemerintah Filipina.

Menurut dia, Presiden Prabowo Subianto juga tidak membahas soal kerja sama terkait nikel dengan pimpinan negara lain saat mengunjungi Filipina pada pekan lalu.

"Di dalam pembahasan antar-pimpinan bilateral tidak ada [pembahasan soal nikel]. Yang ada itu adalah B2B antara teman-teman pengusaha yang ada di Indonesia dengan teman-teman pengusaha yang ada di Filipina, tapi tidak dimasukkan dalam bagian pembicaraan antarnegara," kata Bahlil di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/5/2026).

Bahlil tidak secara spesifik menyampaikan soal isi kerja sama B2B nikel pengusaha RI-Filipina tersebut. Ia hanya menyatakan, kerja sama itu sekadar bisnis antar-pengusaha.

Di satu sisi, Bahlil berujar, Pemerintah RI tengah fokus mengembangkan bisnis hilirisasi. Utamanya, terkait komoditas nikel.

Ia mengakui bahwa Filipina merupakan negara yang tidak mempunyai industri nikel. Akan tetapi, Filipina memiliki stok bahan baku nikel.

"Total cadangan nikel di dunia kita itu, kan, 43 persen, dan Filipina itu kurang lebih sekitar ya kurang lebih ya 15 persen-20 persen [cadangan nikel]," tuturnya.

"Jadi, akumulasi [cadangan nikel] Filipina sama Indonesia itu di atas 60 persen, kalau diakumulasikan," lanjut dia.

Karena itu, Bahlil mengaku tidak mempersoalkan dengan adanya kerja sama terkait nikel antara pengusaha tanah air dan di Filipina.

"Saya pikir, ruang itu silakan saja, enggak ada masalah. Selama pasti ya memang nilai ekonomisnya akan dipertimbangkan secara matang," ucap Bahlil.

Sebagai informasi, dalam rangkaian The 27th Meeting of the ASEAN Economic Community (AEC) Council and Related Meetings (KTT AECC ke-27) di Cebu, Filipina, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto bersama Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Hon Maria Cristina A Roque menyaksikan langsung penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA).

Penandatanganan berlangsung dalam rangkaian Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable di Jpark Island Resort, Cebu, Kamis (7/5/2026). Forum bisnis tingkat tinggi ini digelar bertepatan dengan kunjungan resmi Presiden RI Prabowo Subianto ke Filipina untuk menghadiri KTT ASEAN ke-48, serta menjadi tindak lanjut konkret dari pembahasan kerja sama ekonomi regional dalam KTT AECC ke-27 yang berlangsung pada 6-7 Mei 2026.

Baca juga artikel terkait NIKEL atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama