Menuju konten utama

Bahaya Ikan Asin Disemprot Racun Serangga & Alasan Itu Dilakukan

Insektisida mengandung senyawa kimia aktif yang diformulasikan merusak sistem saraf serangga. Apabila terkontaminasi makanan, dapat memicu keracunan.

Bahaya Ikan Asin Disemprot Racun Serangga & Alasan Itu Dilakukan
Ikan asin. ANTARA FOTO/Muhammad Rizky Febriansyah/app/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebuah video menampilkan proses pembuatan ikan asin yang disemprot dengan kaleng racun serangga tengah viral di media sosial. Dalam video yang beredar luas di ranah maya, belum diketahui pasti isi kaleng tersebut.

Namun, insektisida bukan bahan pengawet makanan. Apabila digunakan dalam pembuatan ikan asin maka dapat membahayakan. Menanggapi video viral tersebut, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Prof Taruna Ikrar menjelaskan bahwa penggunaan bahan kimia tersebut berisiko membahayakan konsumen.

"Pelaku usaha dan nelayan dan pelaku industri di bidang ini belum paham betapa bahayanya penggunaan disinfektan atau penggunaan Baygon terhadap kesehatan kita. Karena kita tahu kandungannya kan banyak kimia-kimia yang berbahaya. Dan itu tidak hilang pada saat disemprot memang lalatnya terbang. Tetapi setelah itu nanti ikannya dimakan oleh rakyat kita konsumen ini berbahaya," ujar Taruna Ikrar, dikutip dari ANTARA, pada Selasa (27/10).

Kenapa Ikan Asin Disemprot Racun Serangga?

Proses pembuatan ikan asin memerlukan waktu berhari-hari. Nelayan umumnya masih menggunakan cara manual yaitu dengan membersihkan ikan terlebih dahulu, memfillet, lalu dijemur di bawah terik matahari.

Agar ikan asin tahan lama, nelayan mencampurkan garam secukupnya sebagai pengawet alami. Selama proses penjemuran, lalat dapat hinggap pada ikan yang sedang dijemur dan bertelur. Jika lalat berhasil hinggap pada ikan yang dijemur, maka ikan asin akan terkontaminasi dengan beragam bakteri. Sebab, lalat cenderung menyukai sampah, bangkai, hingga kotoran hewan.

Saat lalat hinggap di ikan asin, kaki dan tubuh lalat cenderung membawa mikroorganisme dan parasit yang berbahaya. Mikroorganisme tersebut akan berpindah ke ikan asin yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan hingga penyakit serius jika dikonsumsi masyarakat.

Saat produk masih cukup lembap, sangat mendukung perkembangan larva. Lalat betina biasanya meletakkan telur langsung pada ikan yang basah atau setengah kering. Belatung yang menetas kemudian memakan daging ikan, menciptakan lorong-lorong serta kondisi tidak higienis yang memicu kontaminasi bakteri.

Pengusaha ikan asin kesulitan bahan baku

Ilustrasi ikan asin. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/rwa.

Guna menghindari hal tersebut, sebagian oknum nelayan menggunakan racun serangga dengan tujuan mengusir lalat dan membuatnya menjauhi ikan. Sayangnya, tindakan ini bukanlah cara yang tepat. Meski bertujuan untuk menjaga kualitas ikan asin, praktik ini tidak dibenarkan karena insektisida bukan bahan pengawet makanan.

Kendati video viral tersebut menampilkan proses pembuatan ikan asin yang tidak aman, tidak semua pelaku usaha dan nelayan menggunakan praktik serupa. Banyak produsen yang memilih meninggalkan insektisida dan menjajal cara lain untuk membuat ikan asin yang lebih higienis dan aman dikonsumsi.

Menyikapi video viral ini, BPOM memerintahkan kepada otoritas terkait untuk memberikan edukasi kepada nelayan agar tidak menggunakan bahan kimia pembasmi serangga pada produk pangan. Para produsen ikan asin juga diimbau untuk tidak melakukan hal serupa.

"... Kami berharap supaya itu jangan diedarkan karena itu berbahaya. Kami punya hak untuk menyita barang-barang UMKM ini, pelakunya," lanjut Taruna Ikrar.

Bahaya Racun Serangga bagi Kesehatan

Insektisida mengandung senyawa kimia aktif yang diformulasikan untuk merusak sistem saraf serangga. Apabila dikonsumsi manusia dalam jumlah banyak, senyawa aktif ini dapat menjadi racun yang dapat memicu terjadi gejala keracunan, seperti mual, diare, hingga tenggorokan seperti terbakar.

Salah satu zat kimia yang digunakan untuk racun serangga yaitu Organofosfat. Apabila organofosfat masuk tubuh manusia melalui saluran cerna, napas, maupun kulit dan mukosa, maka dapat menghambat enzim kolinesterase.

Bagi tubuh, enzim kolinesterase berfungsi mengubah asetilkolin terhidrolisis menjadi asetat dan kolin. Melansir laman Ikatan Dokter Anak Indonesia, asetilkolin menopang kinerja sistem saraf autonom untuk mengatur kerja pupil mata, jantung, pembuluh, darah. Selain itu, Asetilkolin juga merupakan neurotransmiter yang memengaruhi jantung, berbagai kelenjar, dan otot polos saluran napas.

ikan asin

Ikan asin. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/agr

Organofosfat yang berukuran kurang dari 10 mikron dapat masuk ke paru jika terhirup melalui hidung dan mulut. Sementara, partikel yang lebih besar atau lebih dari 50 mikron akan menempel di selaput lendir atau kerongkongan. Selain itu, Organofosfat juga dapat memicu keracunan pada saluran pencernaan.

Secara umum, keracunan organofosfat dapat berlangsung 6-12 jam setelah terkontaminasi dengan gejala ringat berat hingga sedang. Gejala awal yang ditimbulkan biasanya mencakup iritasi kulit, mual, muntah, lemas, sakit kepala, dan gangguan penglihatan.

Jika imun tubuh tidak mampu mengatasi organofosfat, maka gejala yang lebih parah berupa keluar ludah berlebihan, keluar lendir dari hidung, diare, hingga keringat berlebihan. Jika organofosfat masuk dalam tubuh dalam jumlah yang banyak, maka dapat memicu kelumpuhan otot rangka, sukar berbicara, hilangnya refleks, kejang, hingga koma.

Racun serangga juga mengandung pyrethrin yang berasal dari tumbuhan bunga krisan. Apabila pyrethrin terhirup atau tertelan dalam jumlah banyak, dapat menimbulkan reaksi alergi hingga gangguan pernapasan. Selain itu, senyawa carbamates dan paradichlorobenzene juga ada dalam kandungan racun serangga dan membahayakan tubuh manusia.

Adapun gejala keracunan paradichlorobenzene antara lain sensasi terbakar di mulut, sakit perut, mudah lelah, napas pendek, bicara cadel, hingga penyakit kuning. Sementara, senyawa carbamates dapat memicu jantung berdetak lebih lambat, pupil mengecil, mata berair, hingga produksi air liur meningkat.

Tips Aman Mencegah Lalat

Ikan asin menjadi salah satu komoditas yang banyak diproduksi di negara yang beriklim tropis. Keberadaan sinar matahari yang relatif stabil dapat menunjang hasil produksi yang berkualitas. Guna membuat ikan asin yang aman dari lalat, pastikan kadar air yang ada dalam ikan asin seimbang pada tingkat kelembapan relatif di bawah 70%. Angka tersebut dapat mencegah hinggapnya lalat dan tungau.

Berikutnya, lakukan proses pengeringan yang lebih cepat dengan tetap memerhatikan kadar air yang aman. Semakin cepat ikan mengering, semakin singkat pula waktu yang tersedia bagi lalat untuk bertelur pada ikan tersebut.

Mengutip laman Agriculture Institute, cara tersebut dapat dilakukan dengan membuat rak pengering yang memungkinkan masuknya sirkulasi udara di bagian bawah dan bagian atas ikan. Jika memungkinkan, gunakan alat pengering tenaga surya dengan penutup kaca atau plastik. Cara ini dapat menghasilkan ikan dengan kualitas tinggi di banding mengeringkan ikan asin di bawah sinar matahari secara terbuka.

Sebelum dikeringkan, berikan garam terlebih dahulu untuk mengganggu keseimbangan air dan elektrolit pada serangga serta memberikan perlindungan yang efektif. Dalam sebuah eksperimen, perendaman dalam air garam selama 1,5 jam dengan kadar garam 9,2% terbukti dapat mencegah hinggapnya larva hingga 100%.

Selama proses pengolahan, buang semua isi perut yang menjadi tempat berkembang biak bagi serangga. Menjaga area sekitar agar tetap bersih dari vegetasi yang tidak diperlukan juga dapat mengurangi populasi serangga di lingkungan tersebut.

Kemangi

Kemangi. FOTO/iStockphoto

Studi berjudul The Effectiveness of Lemon Basil as a Fly Repellent in Salted Fish from Three Spot Gourami (Trichopodus trichopterus) karya Rinto Rinto dan tim menemukan bahwa ekstrak daun kemangi dapat digunakan untuk mengurangi jumlah lalat pada saat penjemuran ikan asin dan dapat mereduksi jumlah lalat yang hinggap. Perlakuan penyemprotan menggunakan ekstrak daun kemangi 10% memberi hasil paling efektif.

Pemberian ekstrak daun kemangi pada ikan asin berpengaruh terhadap warna ikan asin, yaitu mengurangi lightness dan redness namun meningkatkan yellowness pada daging. Temuan ini dapat digunakan oleh masyarakat sebagai alternatif untuk menghalangi lalat hinggap di ikan asin saat proses penjemuran.

Setelah ikan asin kering, pastikan menyimpannya di tempat yang aman dari hama. Selain itu, tempat penyimpanan memiliki ventilasi yang baik, terlindung dari hujan dan air tanah, serta dijaga agar tingkat kelembapannya tetap rendah. Jika memungkinkan, menyimpan ikan kering pada suhu di bawah 10°C dengan tingkat kelembapan di bawah 65% akan sangat menekan aktivitas serangga.

Lakukan pemantauan berkala untuk mengamati populasi serangga dapat berkembang biak secara eksponensial. Deteksi dini menjadi sangat penting untuk menjaga kualitas ikan dari kulit larva yang terkelupas, kotoran serangga, kerusakan akibat lubang yang dibuat hama, akumulasi serbuk halus, serta bau yang tidak sedap.

Terakhir, sebelum melakukan pengemasan, pastikan kondisi ikan benar-benar baik, tanpa serangga. Setelah itu, simpan ikan asin dalam kantong polietilena tertutup rapat agar dapat bertahan hingga satu tahun tanpa penurunan kualitas yang berarti.

Baca juga artikel terkait IKAN LAUT atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora