tirto.id - Indonesia termasuk wilayah berisiko tsunami karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik dengan zona sumber gempa dan gunung api di sekitar pesisir. Kondisi ini membuat sistem peringatan dini di dalam negeri perlu mendeteksi tsunami yang tidak selalu diawali gempa tektonik.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA) untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami dengan memantau perubahan muka air laut secara langsung.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Semedi Husrin, menjelaskan bahwa PUMMA dirancang untuk mendeteksi anomali muka air laut yang bisa jadi indikasi adanya tsunami.
Apa Itu PUMMA dan Apa Keunggulannya?
PUMMA dikembangkan sebagai perangkat pemantau muka air laut dengan biaya lebih murah jika dibanding alat pantau tsunami lainnya seperti tsunami buoy (pelampung khusus di laut dalam yang berfungsi untuk mendeteksi perubahan tekanan air laut akibat gempa bawah laut, lalu mengirim peringatan dini tsunami secara real-time ke daratan).
Berbeda dengan tsunami buoy yang diletakkan di laut dalam, IDSL PUMMA bisa ditempatkan di wilayah pesisir, sehingga lebih mudah diterapkan di negara kepulauan seperti Indonesia.
Dalam Jurnal Kelautan Nasional, Semedi Husrin dan kolega melalui Analisa Kinerja IDSL/PUMMA untuk Peringatan Dini Tsunami di Pangandaran (2021:87) menjelaskan PUMMA sebagai stasiun pengukur pasang surut secara real-time. Uji alat ini di Pangandaran menunjukkan lebih dari 91 persen data berhasil direkam dengan interval kurang dari 10 detik, sementara 99 persen data bisa ditransmisikan dalam waktu kurang dari 25 detik.
Penelitian tersebut juga mencatat biaya perangkat relatif rendah. Sistem IDSL yang menjadi dasar pengembangan PUMMA hanya butuh kurang dari 2.000 dollar AS untuk pengadaan awal, termasuk rangka perangkat, dengan biaya internet sekitar 5 dollar AS per bulan.

Keunggulan lain terletak pada pemasangan dan perawatannya. Perangkat bisa memakai panel surya dan baterai, sehingga tidak selalu bergantung pada jaringan listrik di lokasi.
Pengembangan PUMMA terkait dengan kebutuhan memperkuat sistem peringatan tsunami yang sudah ada. Sistem peringatan dini tsunami Indonesia sebelumnya sangat bergantung pada sensor gempa dan pemodelan tsunami.
Pengalaman tsunami Selat Sunda pada 2018 menunjukan keterbatasan sistem dalam menghadapi ancaman tsunami non-tektonik.
"Puma ini hadir untuk memperkuat sistem gempa bumi dan tsunami tersebut, untuk penguatan, terutama tsunami yang memang berasal dari non seismik, misalnya tsunami yang diakibatkan oleh aktivitas gunung api," kata Semedi.
Bagaimana Cara Kerja PUMMA?
Pada pengembangan awal, PUMMA memakai sensor radar untuk mengukur tinggi muka air laut secara berkala. Data dikirim ke server melalui jaringan komunikasi, sementara kamera dipakai untuk membantu memeriksa kondisi di sekitar perangkat.
Semedi Husrin dkk. dalam IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (2022:2) menjelaskan bahwa sistem PUMMA ini memakai Kalman Filter untuk memprediksi pola muka air normal. Perubahan yang melewati ambang batas tertentu kemudian dianggap sebagai anomali, lalu memicu peringatan yang dikirim melalui SMS atau surel.
Adapun dalam wawancara terbaru, Semedi menjelaskan mekanisme tersebut sudah dikembangkan lebih lanjut untuk membaca dinamika muka air laut dan mengenali anomali secara cepat.
"Puma ini tidak mengukur pasang surutnya tetapi dia mengukur anomali yang terjadi di pasang surut itu sendiri," ujar Semedi.
Kecepatan pengumpulan dan pengiriman data jadi bagian penting dalam sistem ini. Menurut Semedi, kerapatan data PUMMA bisa mencapai satu detik, sedangkan transmisi data dari perangkat di lapangan ke server bisa berlangsung 10-15 detik.
Mengapa Indonesia Sangat Membutuhkan PUMMA?
Salah satu alasan utama pengembangan PUMMA yakni karakter tsunami di Indonesia yang bisa tiba dalam tempo singkat. Tsunami yang bersumber dari wilayah dekat pantai berpotensi sampai daratan dalam puluhan menit atau bahkan lebih cepat.
Sistem berbasis pengukuran muka air laut memberi informasi tambahan setelah sumber tsunami terjadi. Data tersebut membantu memperkuat keputusan peringatan, terutama ketika tsunami tidak sesuai dengan pola yang diperkirakan berdasar gempa tektonik.
Pengembangan ini juga sudah diuji melalui jaringan perangkat di sejumlah wilayah pesisir. Semedi mengatakan jaringan PUMMA di pesisir selatan Jawa dan Sumatera Barat saat itu bisa mendeteksi tsunami akibat letusan gunung bawah laut Hunga Tonga pada Januari 2022.

Setelah kejadian itu, pengembangan perangkat di sekitar kawasan Anak Krakatau juga dilakukan. Lokasi tersebut penting karena tsunami Selat Sunda pada 2018 dipicu aktivitas vulkanik, bukan gempa tektonik sebagai sumber utama.
Adapun PUMMA tidak berdiri sendiri sebagai pengganti sistem peringatan dini tsunami. Perangkat ini ditempatkan sebagai lapisan tambahan yang memberi data muka air laut secara cepat, alias untuk memperkuat sistem yang sudah ada.
BRIN juga mengembangkan kemungkinan agar deteksi anomali PUMMA bisa terhubung langsung dengan sistem peringatan di tingkat lokal. Dalam pengujian di Pangandaran, sistem tersebut dikaji untuk memicu sirene secara otomatis ketika anomali terdeteksi.
"Sirenya bisa di-trigger secara otomatis dari Puma ini yang mendeteksi anomali muka airnya," kata Semedi.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id
































