tirto.id - Seorang pria di Yogyakarta memamerkan alat kelamin dan masturbasi di depan perempuan pada (23/10/2026). Warga sekitar kemudian ramai-ramai menangkapnya karena perilaku tersebut.
Peristiwa serupa juga pernah terjadi di Tanjungpinang pada Agustus 2025. Seorang pria berinisial AP (28) ditangkap di daerah Batu 10, Tanjungpinang setelah melakukan aksi eksibisionisme di berbagai tempat.
Selain itu, di Bandung, seorang pria berinisial RJK (19 tahun) mempertontonkan tubuhnya dalam keadaan telanjang kepada pengemudi ojek online (ojol) saat mengambil pesanan makanan
Aksi-aksi eksibisionisme tersebut adalah aksi yang sempat dilaporkan dan diberitakan media. Namun di luar itu, sangat mungkin ada peristiwa yang sama, menyasar perempuan ataupun laki-laki, baik secara langsung maupun lewat internet.
Maka, penting bagi masyarakat umum untuk mengenali apa itu eksibisionisme dan faktor penyebabnya. Ketahui juga cara penanganan dan apakah eksibisionisme ini bisa sembuh.
Eksibisionisme, Gangguan Psikis atau Penyakit Medis?
Aksi eksibisionisme kerap terjadi di ruang publik, meski tak jarang pula terjadi di media sosial. Tindakan ini termasuk pelecehan seksual sebab mengancam ruang aman orang-orang di sekitarnya sehingga merasa terintimidasi, terganggu, bahkan takut untuk berada di ruang publik.
Eksibisionisme sendiri, mengutip penjelasan di Symptoms of Exhibitionism that Regress with Bupropion: A Case Report (2023), merupakan salah satu gangguan parafilik. Etiologi penyakit ini tidak diketahui, tapi menyebabkan penderitaan dan kehilangan fungsi yang signifikan dalam kehidupan penderitanya.
Ini merupakan penyakit yang ditandai oleh fantasi, dorongan, atau perilaku berulang yang merangsang secara seksual dan intens. Penderitanya memperlihatkan alat kelamin kepada orang asing yang tidak mengharapkan tindakannya tersebut setidaknya selama 6 bulan.
Lebih lanjut, mengutip Science Direct, eksibisionisme merupakan pencapaian gairah seksual dengan memperlihatkan alat kelamin. Biasanya ini dilakukan kepada orang asing yang tidak curiga.
Kemudian, istilah ini juga bisa merujuk pada keinginan ekstrem untuk ditonton orang lain saat penderita melakukan aktivitas seksual dengan orang lain.
Gangguan ini melibatkan tindakan yang didasarkan pada dorongan tersebut dengan individu yang tidak setuju atau mengalami tekanan atau gangguan fungsi yang signifikan akibat dorongan atau impuls itu.
Kendati demikian, para eksibisionis sebagian besar tidak memenuhi kriteria klinis untuk parafilia karena mereka tidak mengalami tekanan yang signifikan secara klinis, gangguan fungsi, atau menyebabkan kerugian bagi orang lain.
Artinya, sebagian besar eksibisionis (pelaku eksibisionisme) tidak mengalami gangguan eksibisionis, mengacu laman Manual MSD. Dokter mendiagnosis gangguan eksibisionis ketika orang tersebut merasa sangat tertekan atau menjadi kurang bisa berfungsi dengan baik karena perilaku mereka.
Pada pria, eksibisionisme biasanya terjadi pada 2–4 persen populasi dan lebih rendah pada perempuan. Sangat sedikit perempuan yang didiagnosis dengan gangguan eksibisionisme. Umumnya, eksibisionis berjenis kelamin laki-laki dan melakukannya sambil masturbasi.

Menurut klasifikasi DSM-V, dalam artikel Wdowiak, dkk. (2025), gangguan eksibisionisme dicirikan oleh kriteria diagnostik yakni selama periode 6 bulan, gairah seksual yang berulang dan intens dari paparan alat kelamin seseorang kepada orang yang tidak curiga. Ini dimanifestasikan oleh fantasi, dorongan, atau perilaku.
Individu tersebut bertindak berdasarkan dorongan seksual ini dengan orang yang tidak setuju. Dorongan atau fantasi seksual tersebut menyebabkan penderitaan atau gangguan yang signifikan secara klinis dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya.
Selain itu, dalam klasifikasi ICD-10, eksibisionisme memiliki kriteria diagnostik yakni kecenderungan berulang atau persisten untuk memperlihatkan alat kelamin kepada orang asing yang biasanya lawan jenis. Hal ini dilakukan tanpa mengundang atau bermaksud untuk kontak lebih dekat.
Biasanya, meski tidak selalu, ada gairah seksual pada saat paparan. Tindakan itu umumnya diikuti oleh masturbasi.
Di samping itu, dalam klasifikasi ICD-11, eksibisionisme memiliki kriteria yakni ditandai dengan pola gairah seksual yang berkelanjutan, terfokus, dan intens. Ini dimanifestasikan oleh pikiran, fantasi, dorongan, atau perilaku seksual yang terus-menerus.
Pelakunya memperlihatkan alat kelamin kepada individu yang tidak curiga di tempat umum. Biasanya, tindakannya tanpa mengundang atau bermaksud untuk kontak lebih dekat.
Gangguan ini secara khusus mengecualikan perilaku eksibisionisme konsensual yang terjadi dengan persetujuan orang atau orang-orang yang terlibat, serta bentuk-bentuk eksibisionisme yang disetujui secara sosial.
Laman Medicover Hospitals mendefinisikan eksibisionisme sebagai kondisi kesehatan mental dan diklasifikasikan sebagai gangguan parafilia ketika dorongan tersebut menyebabkan penderitaan yang signifikan, mengganggu fungsi sehari-hari, atau dilakukan tanpa persetujuan.
Gejala utama eksibisionisme yakni dorongan berulang untuk memperlihatkan alat kelamin kepada orang asing yang tidak curiga. Dorongan ini bisa sangat kuat dan sulit dikendalikan sehingga menyebabkan kejadian berulang.
Selain itu, tindakan ini juga biasanya menimbulkan gejolak emosi yang signifikan. Di antaranya mungkin meliputi perasaan gembira, cemas, dan bahkan rasa bersalah atau malu.
Perilaku eksibisionis juga bisa menyebabkan gangguan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. Termasuk di antaranya, yakni hubungan pribadi, kinerja pekerjaan, dan interaksi sosial.
Faktor Penyebab Eksibisionisme
Eksibisionisme bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Ini karena etiologi eksibisionisme bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologi, dan sosiokultural.
Mengacu pada laman Medicover Hospitals, dalam faktor biologis, penelitian menunjukkan bahwa kelainan neurobiologis tertentu bisa membuat individu lebih rentan terhadap perilaku eksibisionisme.
Hal tersebut bisa mencakup ketidakseimbangan neurotransmiter, seperti serotonin dan dopamin, yang memainkan peran penting dalam mengatur suasana hati dan perilaku seksual.
Di sisi lain, pengalaman masa kanak-kanak awal, khususnya yang melibatkan perilaku atau paparan seksual yang tidak pantas, juga bisa berkontribusi pada perkembangan kecenderungan eksibisionisme.
Itulah faktor psikologis yang menyebabkan eksibisionisme. Individu dengan eksibisionisme sering menunjukkan ciri-ciri, seperti impulsif, rendah diri, dan kebutuhan akan perhatian dan validasi.
Selain itu, pengaruh budaya dan sosial juga bisa membentuk perilaku eksibisionisme. Norma dan nilai-nilai masyarakat mengenai seksualitas, privasi, dan kesopanan publik bisa memengaruhi bagaimana perilaku tersebut dipersepsikan dan diwujudkan.
Cara Penanganan & Apakah Eksibisionisme Bisa Sembuh?
Penanganan eksibisionisme membutuhkan pendekatan multimodal yang mengatasi penyebab mendasar dan membantu mengelola gejala. Pilihan penanganan mencakup psikoterapi, pengobatan, dan intervensi perilaku.
Melalui psikoterapi, terapi kognitif-perilaku (CBT) merupakan salah satu bentuk psikoterapi yang paling efektif untuk mengobati eksibisionisme. Terapi ini bisa membantu mengidentifikasi dan mengubah pola pikir dan perilaku yang maladaptif.
Teknik-teknik yang digunakan dalam CBT mencakup terapi paparan, terapi aversi, dan pelatihan keterampilan sosial.
Selain itu, obat-obatan, seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) dan anti-androgen bisa membantu mengelola gejala eksibisionisme. Umumnya, SSRIs digunakan untuk mengatasi gangguan suasana hati yang mendasarinya, sedangkan anti-androgen bisa mengurangi dorongan dan gairan seksual.

Cara selanjutnya yakni dengan intervensi perilaku yang berfokus pada modifikasi perilaku spesifik yang terkait dengan eksibisionisme. Ini bisa mencakup strategi untuk meningkatkan pengendalian impuls, mengembangkan mekanisme penanggulangan yang lebih sehat, serta meningkatkan keterampilan sosial dan komunikasi.
Penting untuk diketahui, pemulihan melibatkan terapi yang konsisten, perubahan perilaku, dan dukungan berkelanjutan untuk mengelola dorongan secara efektif. Sesi terapi rutin berfungsi untuk mengatasi pemicu.
Dalam proses pemulihan, dukungan diperlukan dari keluarga atau kelompok konseling. Selain itu, komitmen jangka panjang terhadap perubahan perilaku juga sangat dibutuhkan.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id


































