Seri Intelijen Revolusi

Badan Istimewa: Lembaga Intelijen Pertama Setelah Merdeka

Oleh: Petrik Matanasi - 12 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
Badan Istimewa didirikan Zulkifli Lubis tak lama setelah Indonesia merdeka, tapi berumur singkat karena kacaunya zaman.
tirto.id - Maksud Zulkifli Lubis datang ke Yogyakarta adalah menghabiskan masa SMA. Sayangnya, Jepang keburu datang. Dunia pendidikan pun jadi kacau. SMA ala Jepang tak menarik minatnya.

Zulkifli kemudian malah terseret dalam pelatihan militer Jepang. Dia termasuk pemuda pilihan yang dikirim belajar ke Seinen Dojo Tangerang. Di situ dia bertemu dengan guru Jepangnya, Letnan Yanagawa Munenari. “Itulah pertama kali saya belajar intelijen,” kata Zulkifli kepada Tempo (29/7/1989).

Setelah jadi perwira Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA), Lubis sempat dikirim ke Singapura. Di pulau itu dia memperdalam lagi ilmu intelijennya. Lubis lalu kembali ke Jawa dan sempat singgah di Palembang. Pada akhir Agustus 1945, dia sudah berada di Jakarta.

“Di situlah [Jakarta] saya mempersiapkan untuk membentuk suatu Intelijen Awal. Saya anggap, setiap gerakan apa pun, intelijen itu penting, harus ada. Istilahnya waktu itu, mudah sekali, kita sebut Badan Istimewa,” ingat Lubis.

Pemuda Lubis, yang kala itu berumur 21, pun membentuk sebuah badan intelijen untuk Republik Indonesia yang baru merdeka. Mulanya, dia sempat bingung hendak ditaruh di mana badan ini. Dia lalu menemui Ketua Badan Keamanan Rakyat (BKR), seorang bekas daidancho (komandan batalyon PETA) bernama Kafrawi; juga wakil ketuanya, Arifin, yang bekas syodancho (komandan peleton PETA). Dari situlah organisasi intelijen Badan Istimewa bermula.


Melibatkan Para Residivis

Awalnya, Lubis mengumpulkan 40 orang, yang dipanggil lewat BKR. Mereka dilatih di sekitar Pasar Ikan, Jakarta. “Saya dididik sekitar seminggu untuk aplikasi intelijen, terutama untuk informasi, sabotase, dan psywar. Bukan aplikasi teori,” aku Lubis.

Lubis mengarahkan mereka memimpin jaringan di daerah. Markasnya kala itu di Jalan Pejambon. Selain itu mereka juga punya kantor di Lapangan Banteng, yang merupakan kantor BKR Pusat. Pelatihan oleh Lubis itu tentu penuh keterbatasan. Menurut Irawan Ketjeng Soekarno dalam Aku “Tiada” Aku Niscaya: Menyingkap Lapis Kabut Intelijen (2011), materi pelatihannya terkait Combat Intelligence—yang meliputi informasi, sabotase, dan perang urat syaraf. Intelijen tempur macam itu tentu sangat dibutuhkan Republik.

“Mereka pun mendapat sebutan Penjelidik Militer Choesoes (disingkat PMC),” kata Irawan (hlm. 3).

Mereka kemudian disebar ke daerah luar Jawa. Kala itu, belum semua orang Indonesia tahu apa itu merdeka dan apa itu Republik Indonesia. Mereka, menurut Ken Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia (2007: 2), ditugasi “mencari dukungan bagi Republik dan melaporkan gerak-gerik musuh.”

Setelah 5 Oktober 1945, barulah Indonesia punya tentara. Dalam kondisi kacaunya Revolusi Indonesia itu, Lubis pun mengangkat dirinya menjadi kolonel. PMC dan Badan Istimewa, yang pelatihan dan rekrutmennya ala kadarnya itu, segera punya reputasi sebagai “tukang sweeping” di masa kacau tersebut. PMC kerap bentrok dengan banyak satuan militer, termasuk dengan Divisi Siliwangi yang dipanglimai Kolonel Abdul Haris Nasution.


Menurut Nasution dalam autobiografinya, Memenuhi Panggilan Tugas: Kenangan Masa Muda (1989), orang-orang PMC terlibat dalam kasus penembakan kepala stasiun Padalarang, dekat Bandung. Wilayah itu adalah daerahnya Divisi Siliwangi.

“Maka terpaksa PMC ditindak. Semua badan penyelidik yang beroperasi dibawah markas besar atau kementerian pertahanan di Yogya, berangsur-angsur kena penertiban oleh Divisi saya,” ungkap Nasution (hlm. 217).

Di antara mantan anggota PMC konon terdapat Kahar Muzakkar (1921-1965). Orang ini tentu saja anggota yang potensial. Sebagai pemuda asal Sulawesi, dia tentu kenal wilayah seberang. Selain itu, Kahar punya jaringan pemuda-pemuda Sulawesi yang siap dikirim ke wilayah seberang demi eksistensi Republik Indonesia. Belakangan, Kahar terlibat dalam pengiriman pemuda ke daerah Sulawesi.

“Kahar Muzakkar sendiri dulu datang pada saya untuk mengembangkan pasukan di daerah, di seberang. Lalu saya tanya, orangnya dari mana. Dia bilang, diambil dari Nusakambangan. Kemudian, penjahat berat itu, termasuk yang dari Sulawesi Selatan, orang Bugis maupun dari Timor, direkrut. Ada ratusan orang yang dia bawa. Lalu mereka dibawa ke Pingit, di barat Yogya, untuk dilatih beberapa bulan,” aku Lubis kepada Tempo (29/7/1989).


Menurut Barbara Sillars Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: dari Tradisi ke DI/ TII (1989: 140-144), Kahar Muzakkar yang belakangan masuk ke Biro Perjuangan pernah membentuk Tentara Rakyat Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS) dan orang-orang yang dibebaskan dari penjara angker Nusakambangan dijadikan pasukan dengan nama Badan Kemadjuan Indonesia (BKI). Para residivis dari Nusakambangan itu terdiri dari bermacam latar belakang; ada tahanan politik, pencopet, dan bandit.

Alumni PMC terkenal lainnya adalah mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen (BAKIN) Letnan Jenderal Sutopo Juwono (1927-1999). Kata Jenderal Soemitro dalam Pangkopkamtib Jenderal Soemitro Dan Peristiwa 15 Januari '74 (1998: 24) yang disusun Heru Cahyono, Sutopo Juwono adalah sponsor Prabowo Subianto—anak Soemitro Djojohadikusumo—ketika mendaftar di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri).

Infografik Seri Intelijen Revolusi Penjelidik Militer Choesoes

Dibubarkan Pemerintah

Orang-orang yang ikut Lubis dalam organisasi intelijen ini terdapat para mantan PETA atau Gyugun. Lubis mengaku lebih suka merekrut pelajar atau orang yang pernah sekolah.

Ketika tentara Sekutu memasuki Jakarta, Lubis pindah ke Jawa Tengah. Lagi-lagi Lubis melatih lebih banyak pemuda eks PETA. Dalam sejarah intelijen di awal kemerdekaan, Lubis layaknya seorang pencari bakat.

Ken Conboy menjelaskan bahwa Lubis melatih hasil rekrutannya di sebuah gereja Katolik di Ambarawa, di kawasan perkebunan kopi yang lebat. Lubis menghendaki mereka menjadi prajurit bayangan dalam adu pintar melawan musuh. Di situ terdapat mantan awak U-Boat Jerman yang melatih mereka dalam hal pertempuran kelompok kecil. Sementara Lubis melatih soal intelijen. “Tigahpuluh enam orang ia pilih sengaja mewakili suku-suku nusantara,” tulis Ken Conboy (hlm. 7).

Pada Mei 1946, pasukan itu sudah siap di Yogyakarta, yang sudah jadi ibu kota Republik Indonesia. Tapi perubahan besar terjadi di bidang intelijen: PMC tutup usia.

Panglima Besar Letnan Jenderal Sudirman bikin keputusan untuk membubarkan PMC pada 3 Mei 1947, begitu yang tercatat dalam "Arsip Kementerian Pertahanan RI Nomor 752 (Surat dari Pimpinan Badan Rahasia Negara (BRANI) tanggal 22 Agustus 1946)".

Babak pertama kiprah Zulkifli Lubis untuk sejarah intelijen Indonesia pun berakhir. Babak selanjutnya, pemerintah bikin badan intelijen lagi.


==========

Sepanjang Oktober-November, Tirto menayangkan edisi khusus bertajuk "Seri Intelijen Revolusi". Serial ini hadir setiap Jumat.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan