Menuju konten utama

Asa Pelapak Buku Terminal Senen di Tengah Geliat Penataan Area

”Pasar buku bekas di Pasar Senen sudah ada lebih dulu sebelum citra keras dan sarang judi yang ditemplokkan kepadanya.”

Asa Pelapak Buku Terminal Senen di Tengah Geliat Penataan Area
Deretan lapak pedagang buku bekas yang masih bertahan dan beroperasi seperti biasa di kawasan samping Terminal Senen, Jakarta Pusat, Rabu (8/7/2026). tirto.id/Hanang Septioyudho
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sabtu (4/7/2026), penjual buku langka sekaligus pemilik Toko Balzac, Harri Gieb, melalui akun X @harrigieb mengabarkan lapak-lapak buku lawas di samping Terminal Senen, Jakarta Pusat, tengah dibongkar. Kabar itu dilambari pula dengan sebuah video situasi pembongkaran. Bagi netizen yang pernah punya kenangan berburu buku di lapak-lapak buku yang mula berdiri sekira awal 1980-an itu, kabar pembongkaran itu tentu menerbitkan sedih dan tanya.

Beberapa netizen yang mengomentari unggahan Harri bertanya-tanya, apakah para pedagang buku lawas di sana akan pindah? Pindah ke mana? Sebagian netizen lain turut berbagi kisah dan pengalamannya terkait tempat legendaris itu.

Kabar tentang pembongkaran lapak-lapak buku bekas di samping Terminal Senen ini memang tak sampai mengundang atensi khalayak ramai. Namun, pembongkaran wahana literasi bersejarah tentu tak bisa dianggap berita sekadar lalu saja.

Tirto pun berupaya mencari tahu dengan datang langsung ke Terminal Pasar Senen pada Rabu (8/7/2026). Dari sana, setidaknya ada kabar yang cukup bikin lega.

Sebagian area kios buku memang dibongkar, namun toko-toko di sisi dalam kawasan terminal masih berdiri dan beroperasi seperti biasa. Pedagang buku yang Tirto jumpai bercerita bahwa pembongkaran hanya menyasar beberapa lapak yang terletak di bagian belakang, tepatnya yang berdekatan dengan area kios buku binaan.

Newsplus Masa Depan Lapak Buku Bekas Senen

Kondisi salah satu sudut area di bagian belakang Lokasi Binaan Kios Buku Terminal Senen yang telah dibongkar dan mulai memasuki tahap pembangunan, Rabu (8/7/2026). tirto.id/Hanang Septioyudho

Juntak, salah satu pedagang buku senior di area terdampak, bercerita bahwa pembongkaran itu bukanlah penggusuran. Pengelola kawasan disebutnya memang tengah melakukan peremajaan terhadap area kios buku.

"Sebenarnya kami ini enggak diusir, Bang, cuma diperingatkan saja dan dikasih waktu 90 hari untuk siap-siap. Pembangunannya kan memang bertahap. Teman-teman pedagang yang di area lain malah sudah dari dua bulan lalu kena peringatannya. Makanya bagian lapak saya ini masih dikasih waktu," jelas Juntak kepada Tirto.

Pedagang yang telah bertahun-tahun menggantungkan hidup dari berjualan buku di Senen ini lantas menceritakan awal mula proyek peremajaan di tempatnya berdagang.

"Setahu saya, ini dulunya program Pak Anies Baswedan waktu beliau masih jadi gubernur. Terus sempat terhenti pembangunannya pas beliau maju jadi capres kemarin," tuturnya.

Juntak mulai berjualan di kios buku Terminal Senen pada 2004. Oleh karena itu, dia paham betul pasang dan surutnya kawasan tempatnya mencari nafkah ini. Perubahan arus perniagaan buku di Senen terekam jelas di memorinya.

"Kalau ditanya pendapatan, beda jauh sama dulu. Dulu mah lumayan rame, sehari bisa lima orang lebih yang beli buku. Kalau sekarang, ya begitulah, cuma sesekali aja ada yang mampir beli," katanya.

Newsplus Masa Depan Lapak Buku Bekas Senen

Juntak, salah satu pedagang buku bekas di kawasan samping Terminal Senen, saat ditemui Tirto di lapaknya, Rabu (8/7/2026). tirto.id/Hanang Septioyudho

Meski kondisi pasar lesu, rencana peremajaan lapak buku di Terminal Senen memercikkan optimisme di benaknya.

"Tempat ini mau dibongkar karena memang ingin diperbagus, dibikin jadi toko-toko gitu. Kami pedagang lama diajak juga kok untuk menempati toko baru nanti, tapi ya harganya kayaknya lebih mahal. Harapan saya semoga kalau tempatnya sudah bagus nanti bisa jadi lebih rame lagi yang beli. Apalagi kan posisi kami dekat banget sama Pasar Senen yang memang rame terus setiap hari," kata Juntak.

Ya, Juntak memang tak memungkiri bahwa asa itu terbit beriringan dengan kegelisahan terkait konsekuensi ekonominya. Dia masih galau dengan kemungkinan naiknya harga sewa kios yang baru nanti. Apalagi, proyek itu nantinya dikelola oleh instansi berbeda.

"Lapak yang sekarang ini, kami dikasih surat izin dagang sama Dishub di area Terminal Senen ini. Tapi, bayar pajaknya langsung ke Bank DKI, hitungannya 90 ribu/meter. Kalau gak salah, nanti bangunan yang baru itu dikelolanya sama Pasar Jaya," ungkapnya.

Lapak Perbukuan dan Nostalgianya

Perubahan semacam itu memang tak terelakkan dalam dinamika sejarah perkembangan kota metropolitan Jakarta. Dalam riwayatnya, kawasan Pasar Senen—termasuk area literasi yang tumbuh di sana—pun telah mencecap rangkaian perubahan hingga kita melihat wajahnya yang sekarang.

Sejarawan JJ Rizal menegaskan bahwa ekosistem perbukuan di Pasar Senen ini memiliki akar sosiokultural yang jauh lebih tua ketimbang sekadar program penataan dari pemerintah.

”Pasar buku bekas serta ruang literasi di Pasar Senen sudah ada lebih dulu sebelum citra keras dan sarang judi yang ditemplokkan kepadanya,” kata Rizal kepada Tirto, Kamis (9/7/2026).

Masyarakat Jakarta tempo dulu, menurut Rizal, telah menjadikan ruang tersebut sebagai titik temu yang setara bagi siapa saja yang haus akan ilmu pengetahuan.

”Identitas historis yang memancar dari Senen itu Jakarta dulu adalah kota yang gandrung dengan bacaan. Dan, bacaan itu melompati batasan kelas serta ras. Orang Eropa dan pribumi mencari bacaan. Dalam bacaan itu, tidak ada batas kelas atau ras. Semua mencari aufklarung alias pencerahan,” urai Rizal.

Oleh karena itu, Rizal turut urun catatan kritis bagi proyek peremajaan tata kota yang sedang berjalan agar tidak sampai melumat nyawa asli kawasan perbukuan di Pasar Senen.

”Jakarta mau jadi kota global berbudaya tidak juga insyaf bahwa ekonomi itu sekarang di antero kota besar dunia bersumber dari economic story. Sejarah budaya kota yang khas menjadi reaktor pembangkit kekhasan sekaligus keuangan kota. Jadi, penataan kota harus sadar betul jangan sampai mematikan modal sejarah budaya yang melekat dari kota,” tuturnya.

Nilai pencerahan yang melampaui sekat kelas sosial yang disinggung sejarawan JJ Rizal itu masih membekas kuat di ingatan Rizki Aulia Rahman. Mahasiswa di salah satu universitas di Jakarta ini merupakan pembeli setia yang kerap menyusuri lorong lapak buku bekas di Terminal Pasar Senen.

“Kalau ditanya soal rutin, mungkin dari awal kuliah karena banyak diminta untuk cari-cari buku. Tapi, kalau tahu tempat ini, saya tahu sejak saya SMP,” ungkap Rizki kepada Tirto, Rabu (8/7/2026).

Newsplus Masa Depan Lapak Buku Bekas Senen

Plang penanda Lokasi Binaan Kios Buku yang berdiri di kawasan samping Terminal Senen, Jakarta Pusat, Rabu (8/7/2026). tirto.id/Hanang Septioyudho

Rizki merasakan betul sensasi berburu buku di kios buku Terminal Senen. Sensasi itu, menurutnya, tak dia didapatkan di toko buku besar arus utama. Deretan buku dari berbagai zaman yang ditata secara sederhana baginya adalah ruang eksplorasi tanpa batas. Di sinilah, dia kerap mendapat kejutan berupa literatur berharga yang sulit dicari orang.

“Lumayan sering datang ke sana karena tempatnya itu sendiri yang sekarang ini udah jarang toko buku masih nyimpen buku-buku all genre yang dijual murah. Paling berkesan banget nemu buku karya Merari Siregar, Azab dan Sengsara, yang versi lawasnya,” kenang Rizki.

Selain itu, Rizki juga merasakan kenyamanan tersendiri kala menjelajahi lapak-lapak buku yang keadaanya sangat sederhana dan apa adanya. Baginya, itu memberinya ruang untuk sejenak melarikan diri dari rutinitas.

“Tempatnya itu gak mengintimidasi kita sebagai seseorang yang datang kadang cuma mau lihat-lihat atau baca-baca sejenak aja,” tambah Rizki.

Keleluasaan inilah yang membuat sentra buku bekas selalu memiliki ruang khusus di hati para penikmatnya. Pengalaman mencari harta karun literasi menawarkan kepuasan tersendiri yang tak bisa dibeli dibandingkan model beli buku instan secara daring.

“Soalnya kita sebagai pembeli atau pembaca yang seneng ngacak-ngacak atau mencari buku itu sendiri. Kita sebagai pembeli dan pembaca ada perasaan bebas untuk mencari apa yang kita mau,” katanya.

Saat ditanya soal pendapatnya tentang perombakan tata ruang yang tengah berlangsung di kawasan perbukuan langganannya, Rizki merespons dengan sikap mendua.

“Lumayan seneng, tapi ngerasa agak mengurangi experience sih. Karena ini untuk segi kerapian, jadi mau gak mau setuju sih,” ujarnya.

Rizki menyadari bahwa perubahan adalah keniscayaan. Menurutnya, peremajaan kawasan bukan masalah, asalkan proyek itu tak menghilangkan begitu saja “napas utama” dari kawasan tersebut.

“Semoga dari sisi pedagangnya tetap mempertahankan kuantitas bukunya. Masih tetap banyak menyediakan berbagai macam buku,” harap Rizki.

Pedagang Lama Tetap Diwadahi

Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Agus Himawan, memberi penjelasan perihal kekhawatiran pedagang mengenai siapa otoritas yang bakal mengelola kawasan lapak buku setelah peremajaan selesai.

“Kegiatan Pembongkaran pedagang di Area Terminal Pasar Senen adalah dalam rangka penataan pedagang K-5 di kawasan terminal yang dilaksanakan oleh Pihak Terminal Pasar senen,” sebut Agus dalam keterangan tertulis, Jumat (10/7/2026).

Sejauh ini, pihak Perumda Pasar Jaya sama sekali belum menentukan apalagi merilis besaran harga sewa kios usai kawasan baru dibangun. Agus menjelaskan bahwa hal-hal mengenai pengelolaan lapak buku bekas nantinya akan diurus oleh pengelola Terminal Pasa Senen.

“Terkait Konsep, skema biaya (bisnis plan), dan pengelolaan pedagang tersebut sejak awal adalah kewenangan pihak Terminal Pasar Senen,” terang Agus.

Agus menyebut instansinya tengah menggarap proyek yang akan disiapkan juga untuk mewadahi para pedagang lama agar menempati bangunan baru nanti.

“Saat ini, pihak Pasar Jaya juga akan melaksanakan Pembangunan Pasar Senen Blok VI yang berlokasi bersebelahan dengan lahan Terminal Pasar Senen yang diperuntukan untuk pedagang existing Pasar Senen Blok VI,” pungkas Agus.

Baca juga artikel terkait TOKO BUKU atau tulisan lainnya dari Hanang Septioyudho

tirto.id - News Plus
Reporter: Hanang Septioyudho
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Fadrik Aziz Firdausi