Menuju konten utama

Arsari Tambang Bangun Pusat Riset Timah & Logam Tanah Jarang

Aryo Djojohadikusumo, ponakan Prabowo, bangun pusat riset timah dan logam tanah jarang di Bangka lewat Arsari Tambang guna perkuat hilirisasi mineral RI.

Arsari Tambang Bangun Pusat Riset Timah & Logam Tanah Jarang
CEO PT Arsari Tambang, Aryo Djojohadikusumo, menjadi pembicara pada Indonesia Critical Mineral Conference and Expo 2025 di Jakarta, Rabu (4/6/2025). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Arsari Tambang, perusahaan milik Hashim Djojohadikusumo yang dipimpin oleh Aryo Djojohadikusumo, berencana membangun pusat riset timah dan logam tanah jarang (rare earth elements) di Bangka. Langkah strategis ponakan Prabowo Subianto ini bertujuan untuk menguasai teknologi hilir mineral secara domestik, sekaligus memperkuat daya saing industri timah nasional di pasar global.

Keberadaan pusat riset menjadi kebutuhan mendesak untuk memperkuat daya saing industri timah nasional di tengah meningkatnya kebutuhan teknologi global. Apalagi, logam tanah jarang khususnya unsur neodymium (NdPr) dan dysprosium merupakan salah satu produk yang memiliki nilai strategis tinggi untuk masa depan industri global, terutama dalam mendukung transisi energi dan teknologi tinggi.

“Bayangin, industri timah Indonesia sudah ada selama 150 tahun dan kita tidak punya pusat riset timah,” kata Aryo dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (12/5/2026).

Karenanya, Arsari Tambang menargetkan pusat riset tersebut dapat menjadi basis pengembangan teknologi timah dan pengolahan logam tanah jarang yang selama ini masih terbatas di dalam negeri.

“Semoga kita bisa mendapatkan manfaat dari itu. Salah satu hal yang kami lakukan adalah berinvestasi membangun pusat riset timah dan logam tanah jarang di Bangka,” tambahnya.

Dengan tingginya nilai produk hilirisasi timah dan logam tanah jarang ini, Aryo menilai Indonesia perlu mulai menguasai teknologi hilir berbasis timah, termasuk pengembangan solder untuk industri semikonduktor yang memerlukan formulasi campuran logam (alloy) dengan standar tinggi. Pengembangan teknologi tersebut tidak bisa hanya bergantung pada pasar luar negeri, melainkan harus didukung kapasitas riset domestik dan penguatan ekosistem nasional agar inovasi, kolaborasi industri, serta nilai tambah ekonomi tetap berada di Indonesia.

“Kita perlu menguasainya, dan ini harus dimiliki oleh Indonesia, diteliti di Indonesia, dan dibuat di Indonesia,” katanya.

Seiring dengan rencana pembangunan pusat riset ini, Arsari Tambang membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk akademisi, perusahaan swasta, dan perusahaan pelat merah sektor timah. Aryo menyebut kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang telah lama bergerak di industri timah dapat menjadi langkah penting membangun ekosistem penelitian mineral nasional.

“Pusat riset ini menjadi bagian dari agenda lebih luas Arsari Tambang dalam memperkuat hilirisasi mineral. Sebelumnya, Arsari Tambang telah membangun pabrik solder di Batam, yaitu PT Solder Tin Andalan Indonesia, sebagai upaya memperluas rantai nilai industri timah dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah,” tutup Aryo.

Baca juga artikel terkait PERSOALAN TAMBANG atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah