Menuju konten utama

Apindo Minta Dilibatkan Perencanaan Proyek di Pantai Utara Jawa

Sanny menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada komunikasi resmi yang melibatkan pengusaha dalam perencanaan proyek tersebut.

Apindo Minta Dilibatkan Perencanaan Proyek di Pantai Utara Jawa
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sanny Iskandar di Kantor Apindo di Jakarta, Kamis (28/8/2025). Tirto.id/Nanda Aria Putra

tirto.id - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta dilibatkan dalam tahap perencanaan mega proyek strategis nasional di sekitar Pantai Utara Jawa (Pantura).

Hal ini menyusul dibentuknya Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa, yang bertugas untuk mempercepat pembangunan tanggul raksasa atau Giant Sea Wall dengan tujuan melindungi ekosistem sekitar dari perubahan kontur alam, termasuk kawasan industri.

“Jadi mungkin bisa juga onshore daripada pelaku usaha itu juga terlibat di dalam perencanaan daripada proyek ini. Mega proyek ini,” kata Wakil Ketua Apindo, Sanny Iskandar, di kantornya, Kamis (28/8/2025).

Namun, Sanny menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada komunikasi resmi yang melibatkan pengusaha dalam perencanaan proyek tersebut.

"Secara khusus belum ya, ini baru dibentuk badannya. Itu proyek yang sangat-sangat panjang sekali. Namun, saya pikir memang harus dimulai," ujarnya.

Sanny menekankan bahwa pelibatan dunia usaha sejak dini sangat penting untuk memastikan proyek tidak hanya berdampak pada infrastruktur, tetapi juga pada pengembangan industri dan penyerapan tenaga kerja.

"Jadi bagaimana di dalam perencanaan pembangunan ini, itu betul-betul bisa dikaitkan. Karena di sepanjang Pantura Jawa, dari Banten sampai Banyuwangi, memang potensi pengembangan kegiatan industri, misalnya industri manufaktur," ujarnya.

Ketika ditanya apakah pengusaha sudah tertarik untuk berinvestasi dalam proyek Giant Sea Wall, Sanny belum dapat berkomentar. "Tertarik apa? Ditawarkan saja belum,” ucapnya.

Apindo Dorong Pemanfaatan PLB untuk Tekan Biaya Logistik

Di sisi lain, Apindo dan Perkumpulan Pusat Logistik Berikat Indonesia (PPLBI) mendorong pemanfaatan Pusat Logistik Berikat (PLB) untuk menekan biaya logistik nasional yang masih mencapai 23,08 persen dari PDB, jauh di atas standar negara maju yang hanya 8-10 persen.

"PLB hadir sebagai game changer yang mampu menekan biaya logistik, mengoptimalkan cash flow, dan memperkuat compliance,” kata Ketua Umum APINDO, Shinta W Kamdani.

Menurut Shinta, sektor Migas dan otomotif telah membuktikan manfaat PLB dalam efisiensi rantai pasok. Tak hanya memangkas biaya logistik, PLB juga terbukti mengoptimalkan cash flow, menghadirkan fleksibilitas dalam rantai pasok global.

“Hingga memberikan fasilitas kepabeanan dan perpajakan khusus serta mendorong aktivitas manufaktur berorientasi ekspor dalam meningkatkan daya saing industri nasional," ucap Shinta.

Adapun, Ketua PPLBI Utami Prasetiawati menambahkan bahwa PLB mampu menekan risiko dan meningkatkan kepastian operasional.

"Bagi operasi migas, waktu adalah segalanya. PLB memberi kepastian dan mengurangi risiko keterlambatan yang dapat berdampak hingga jutaan dolar," ungkap Utami.

Baca juga artikel terkait APINDO atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra