Menuju konten utama

Apakah PUBG Aman Bagi Anak? Ini Penyebab Game Harus Dibatasi

Wacana pembatasan game online PUBG oleh pemerintah mulai santer terdengar. Ketahui alasan pembatasan tersebut dan apakah PUBG aman dimainkan oleh anak-anak.

Apakah PUBG Aman Bagi Anak? Ini Penyebab Game Harus Dibatasi
Ilustrasi PUBG. foto/https://snapdragonconquest.com/sea/

tirto.id - Pemerintah Indonesia mulai mempertimbangkan pembatasan game online PUBG setelah insiden ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara. Game dengan tema kekerasan pertempuran senjata seperti ini dinilai bisa memberikan pengaruh buruk pada anak-anak.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto meminta langkah konkret untuk mengurangi dampak negatif game online terhadap perilaku pelajar.

Game online memang sudah sangat populer di kalangan anak muda. Bahkan, tak sedikit gamer yang berprestasi di bidang e-sport dan patut untuk diapresiasi. Meski demikian, tak bisa dipungkiri bahwa game online pun memiliki dampak negatif tersendiri.

Menurut Prasetyo Hadi, game perang seperti PUBG memiliki potensi untuk memengaruhi perilaku anak ke arah yang negatif, terutama karena kontennya yang sarat dengan penggunaan senjata.

Insiden ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading akhirnya mendorong Presiden Prabowo untuk meminta para guru agar lebih waspada. Prasetyo Hadi juga mengingatkan pentingnya mencegah perundungan di lingkungan pendidikan karena bullying bisa menjadi pemicu tindakan yang lebih berbahaya.

Sementara itu, sejumlah kementerian dan pemerintah daerah turut merespons kekhawatiran tersebut. Menteri Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, berencana menggelar diskusi untuk merumuskan kebijakan pembatasan game demi melindungi anak-anak.

Respons serupa juga datang dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang menilai gim dengan unsur kekerasan perlu dibatasi agar kejadian serupa tidak terulang.

Apakah PUBG Aman untuk Anak-Anak?

Battlegrounds First Person

Battlegrounds First Person. Screenshot/PUBG Mobile

PUBG (PlayerUnknown’s Battlegrounds) merupakan game online bergenre battle royale. Di game ini, sekelompok pemain dalam satu arena harus bertahan hidup hingga tersisa satu pemenang.

Para pemain diterjunkan di sebuah wilayah tanpa perlengkapan, lalu harus mencari senjata, perlindungan, serta berbagai item pendukung sambil menyerang sekaligus menghindari serangan lawan.

PUBG menjadi permainan yang menarik karena membutuhkan taktik, strategi, sekaligus memacu adrenalin. Game online ini juga akan terasa lebih seru ketika dimainkan bersama dengan teman-teman. Akan tetapi, apakah PUBG aman untuk anak-anak?

Berdasarkan informasi dari Google Play Store, PUBG diberi rating 12+ dengan keterangan “Kekerasan Tingkat Menengah”. Dikutip dari laman resmi Google, rating 12+ dideskripsikan sebagai berikut:

“Kekerasan yang melibatkan karakter fantasi dan/atau kekerasan non-grafis yang melibatkan karakter seperti manusia atau hewan diizinkan. Ketelanjangan non-grafis, bahasa kasar ringan, dan simulasi perjudian juga diizinkan, namun umpatan kasar yang bersifat seksual tidak diizinkan.”

Secara rating, PUBG memang boleh dimainkan oleh anak-anak usia remaja, tapi orang tua tetap perlu memberi perhatian lebih karena PUBG ternyata memiliki beberapa dampak negatif sebagai berikut:

  • Kekerasan
Dibandingkan game lain yang lebih “gore”, PUBG dengan grafik bagusnya mungkin tidak terlihat terlalu sadis. Namun, bagaimanapun juga tujuan dari game ini adalah “membunuh” pemain lain untuk menang dan hal itu masuk dalam kategori kekerasan.

Dikutip dari laman Harvard Health Publishing, organisasi seperti American Academy of Pediatrics (AAP) dan American Academy of Child & Adolescent Psychiatry (AACAP) berpendapat bahwa media kekerasan, termasuk game, dapat berkontribusi pada perilaku agresif di dunia nyata.

Mereka menilai interaktivitas dalam game membuat pemain secara tidak langsung "berlatih" tindakan kekerasan. Namun, hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti dan butuh penelitian lebih lanjut.

  • Bahasa Kasar
Game seperti PUBG tak hanya dimainkan anak-anak, tapi juga orang dewasa dari berbagai latar belakang. Suasana kompetitif di dalam game bisa membuat para pemain meluapkan emosi melalui kata-kata kasar.

Anak-anak yang ikut bermain akan ikut terpapar kata-kata kasar dan kemungkinan akan mempraktikkannya di dunia nyata untuk meluapkan emosinya.

  • Cyberbullying
Bermain game kekerasan seperti PUBG juga memiliki potensi menimbulkan cyberbullying. Awalnya mungkin hanya adu argumen, tapi bisa berujung pada perundungan. Pemain yang kalah atau dianggap tidak berkompeten juga bisa di-bully dengan kata-kata yang tidak pantas lewat fitur chat

  • Risiko Bertemu Predator
PUBG memiliki fitur proximity voice chat, memungkinkan anak-anak dapat berbicara dengan orang asing atau pemain lain dalam jarak tertentu. Meski tidak selalu terjadi, tapi fitur ini berpotensi membuka interaksi antara anak-anak dengan orang tak dikenal, termasuk predator online.

  • Kecanduan
PUBG menawarkan permainan seru yang dapat membuat pemain betah bermain berjam-jam. Jika tidak dibatasi dan diawasi, kebiasaan ini bisa berkembang menjadi kecanduan yang bisa berdampak negatif ke segala hal.

Mengapa Game Seperti PUBG Perlu Dibatasi?

PERLOMBAAN GAME PUBG DI ACEH

Sejumlah peserta mengikuti perlombaan game Player Unknown’s Battle Grounds (PUBG) di Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Sabtu (22/6/2019). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/hp.

Game online seperti PUBG menawarkan gameplay yang seru dan menegangkan. Namun, di balik itu semua, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, mulai dari paparan konten kekerasan, interaksi dengan orang asing, hingga potensi kecanduan.

Tak hanya itu, PUBG juga mengandung simulasi penggunaan senjata api realistis. Seperti yang diungkapkan oleh Mensesneg Prasetyo Hadi, PUBG memungkinkan anak-anak belajar tentang berbagai senjata dan bahkan bisa menormalisasi adanya tindak kekerasan.

Wacana pembatasan PUBG memiliki tujuan positif yang secara keseluruhan berpihak kepada anak-anak. Berikut beberapa alasan mengapa game seperti PUBG perlu dibatasi:

Perlindungan Anak sebagai Prioritas

Melindungi anak dari pengaruh negatif dunia digital menjadi alasan utama perlunya pembatasan game seperti PUBG. Sebenarnya tak hanya PUBG, banyak game yang menghadirkan unsur kekerasan, penggunaan senjata api, atau adegan pertempuran intens yang belum tentu sesuai dengan kemampuan emosional anak.

Paparan berulang terhadap konten semacam ini dapat memengaruhi cara anak memaknai perilaku agresif, terutama pada usia ketika mereka masih mudah meniru apa saja yang mereka lihat. Terbiasa dengan konten kekerasan bisa membuat mereka menormalisasi perilaku agresif atau kasar.

Tak hanya soal kekerasan, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, game seperti PUBG memiliki sejumlah risiko lain yang tidak bisa diabaikan, seperti paparan kata-kata kasar hingga kecanduan.

Oleh karena, pembatasan perlu dilakukan untuk melindungi anak-anak dari seluruh pengaruh negatif ini. Perlindungan anak tidak hanya soal membatasi akses bermain, tapi juga memastikan lingkungan digital tetap aman, sehat, dan sesuai usia.

Langkah-langkah seperti pendampingan, edukasi mengenai keamanan digital, serta pengaturan durasi bermain oleh orang tua perlu dilakukan secara bersamaan agar anak-anak dapat menikmati game tanpa harus terpapar hal-hal buruk.

PUBG New State

Ilustrasi PUBG. FOTO/pubg.com

Kebutuhan Pengaturan dan Edukasi

Pembatasan game seperti PUBG dilakukan sebagai salah satu langkah pengaturan, artinya pemerintah maupun orang tua harus berupaya memastikan aktivitas bermain tetap berada dalam batas yang aman dan sesuai usia.

Dengan adanya batasan yang jelas, anak tidak dibiarkan mengakses game secara bebas tanpa pengawasan. Dengan demikian, potensi atau risiko negatif bisa diminimalkan.

Perlu dipahami pula bahwa upaya ini bukan untuk melarang anak bermain sepenuhnya, melainkan mengatur pemanfaatan game online yang lebih sehat, terarah, tetap proporsional, dan tidak mengganggu perkembangan anak-anak.

Selain itu, pembatasan game seperti PUBG juga bisa sebagai langkah edukasi, baik bagi anak-anak, orang tua, maupun pemain secara umum. Dengan pembatasan ini, masyarakat diharapkan bisa lebih aware terhadap bahaya atau risiko dari game online, terutama yang mengandung konten kekerasan.

Baik anak maupun orang tua harus memiliki pemahaman yang tepat tentang bagaimana menggunakan teknologi dan game online secara bijak.

Anak juga perlu diberi pemahaman bahwa apa yang mereka lihat di dalam game, termasuk kekerasan, tidak boleh diterapkan di kehidupan nyata. Dengan edukasi yang tepat, maka anak-anak tidak akan mudah meniru dan menjadi pribadi yang lebih sadar, kritis, serta mampu melindungi dirinya sendiri.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa tujuan pembatasan game seperti PUBG yang dilakukan oleh pemerintah bukanlah untuk menghapus game secara paksa. Pembatasan ini dilakukan untuk memastikan keamanan dan kesehatan mental generasi muda.

Maka, wacana pembatasan game ini pun diharapkan bisa direspons oleh masyarakat secara bijak karena tujuan sejatinya adalah untuk melindungi anak-anak.

Ingin tahu berita terbaru tentang PUBG atau game online lain? Cek selengkapnya di tautan berikut ini:

Kumpulan Artikel tentang Game Online

Baca juga artikel terkait GAME ONLINE atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Byte
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani