tirto.id - Situasi mencekam terjadi di Rio de Janeiro, Brazil saat ratusan jenazah berjejer di jalanan. Dilaporkan setidaknya 132 orang tergeletak tak bernyawa dalam operasi besar polisi di Rio de Janeiro yang menargetkan bandar narkoba.
Video-video penembakan yang dilakukan oleh polisi Rio de Janeiro dengan target para bandar narkoba beredar luas di media sosial. Tak hanya darah bercecer, namun juga mobil-mobil terbakar dalam operasi tersebut.
Apa yang Terjadi di Brazil? Ratusan Jenazah Berjejer di Jalanan
Pemerintah Brazil mengukuhkan komitmen mereka dalam memerangi para bandar narkoba. Pada Selasa, 28 Oktober 2025, satuan kepolisian Rio de Janeiro, Brazil melakukan operasi besar-besaran penangkapan bandar narkoba.
Dilaporkan Al Jazeera, operasi berskala militer ini menargetkan kelompok kriminal paling kuat di Rio, yaitu Comando Vermelho. Polisi mengerahkan sekitar 2.500 personelnya di kawasan utara kota, khususnya di kompleks Penha dan Alemao.
Dari operasi tersebut, 132 orang dilaporkan tewas. Korban tidak hanya berasal dari kelompok yang diduga geng narkoba tersebut, melainkan juga dari kepolisian Brazil.
Tindakan polisi Rio de Janeiro memberantas narkoba dalam operasi tersebut nyatanya juga menuai kecaman dari sebagian masyarakat Brazil. Menurut kelompok yang tidak setuju, menyebut jika operasi itu bukanlah operasi pemberantasan melainkan operasi pembantaian.
Kontroversi Operasi Besar Polisi Brazil yang Tewaskan 132 Orang
Operasi besar kepolisian Rio de Janeiro, Brazil ternyata tidak hanya mendapat kecaman dari masyarakat Brazil, melainkan juga Presiden Brazil, Luiz Inacio Lula da Silva.
Dikatakan Menteri Kehakiman Brazil, Ricardo Lewandowski, Presiden Luiz merasa kaget saat mengetahui adanya operasi tersebut apalagi saat korban mencapai ratusan orang.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga turut berkomentar mengenai operasi tersebut. Ia mendesak pemerintahan Brazil untuk segera membentuk tim untuk mengusut apakah tindakan kepolisian mematuhi hukum dan standar hak asasi manusia internasional.
"Saya dapat menyampaikan bahwa Sekretaris Jenderal sangat prihatin dengan banyaknya korban jiwa dalam operasi kepolisian yang dilakukan kemarin di favela-favela di Rio de Janeiro," kata juru bicara Stephane Dujarric dikutip Reuters.
Berbeda dengan Presiden Luiz dan juga Sekjen PBB, Gubernur Rio de Janeiro, Claudio Castro, justru mengapresiasi langkah kepolisian Rio de Janeiro tersebut. Menurutnya, operasi itu adalah langkah nyata yang dilakukan aparat dalam memerangi narkoba. Ia juga meyakini jika semua korban tewas adalah kriminal.
Dalam operasi tersebut, polisi dilengkapi dengan senjata berat, kendaraan lapis baja, helikopter, serta drone.
Polisi menampik jika operasi besar ini dilakukan guna menjaga ketertiban Brazil menjelang event internasional, seperti C40 World Mayors Summit yang akan digelar pada 3-5 November 2025 di Rio de Janeiro dan COP30 yang akan diselenggarakan di Belem pada 10-21 November 2025.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































