Menuju konten utama

Apa Saja yang Terjadi dalam Perang Iran vs AS-Israel Hari ke-13?

Kondisi perang Iran vs Israel-AS pada hari ke-13 memiliki berbagai peristiwa. Simak peristiwa yang terjadi sepanjang Kamis (12 Maret 2026) ini.

Apa Saja yang Terjadi dalam Perang Iran vs AS-Israel Hari ke-13?
Asap mengepul dari lokasi serangan udara Israel di desa Abbasiyeh di Lebanon selatan pada 10 Maret 2026. AFP/KAWNAT HAJU

tirto.id - Perang Iran vs Amerika Serikat (AS)-Israel memasuki hari ke-13 per Kamis (12/3/2026), serangan militer masih terjadi dan korban terbunuh meningkat. Iran juga ungkap syarat penghentian perang di saat harga minyak dunia masih tak stabil.

Saling balas serangan masih terjadi di kawasan Teluk dan Mediterania, memicu lonjakan harga minyak dunia. Seturut Al Jazeera, Teheran kini melancarkan serangan di kawasan itu untuk mengganggu pasar energi dunia.

Ketegangan yang tak kunjung mereda di kawasan Teluk membuat harga minyak dunia meroket. Kini, harga minyak telah mencapai USD100 per barel. Badan Energi Internasional (IEA) menyebut konflik telah menyebabkan "gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global".

IEA kemudian melakukan langkah mitigasi dengan merilis 400 juta barel minyak mentah ke pasar demi menenangkan gejolak pasar. Dari 400 juta barel itu, 172 juta di antaranya berasal dari sumbangan AS.

Iran Serang Kapal Tanker di Selat Hormuz

Ketidakstabilan harga minyak salah satunya dipicu oleh serangan Iran di fasilitas energi kawasan Teluk dan serangan serupa di Selat Hormuz.

Menukil CNN, Iran dilaporkan menyerang dua kapal tanker minyak di Selat Hormuz, membuat setidaknya satu orang terbunuh dan 38 awak lainnya harus mengungsi. Sebuah kapal kontainer di lepas pantai Uni Emirat Arab (UAE) juga dilaporkan rusak akibat terkena proyektil pada Kamis pagi.

Sejauh ini, ada enam kapal yang diserang di Teluk Persia dalam dua hari terakhir.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan kelompok bersenjata Hizbullah menyatakan telah melakukan serangan bersama ke Israel pada Rabu (11/3/2026). Serangan berdurasi lima jam itu disebut menargetkan 50 target di Israel.

Serangan Israel ke Lebanon Makin Intens

Di sisi lain, Israel melakukan serangan intensif ke Lebanon dengan target berupa fasilitas Hizbullah di Beirut. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, membuat pernyataan pada Kamis bahwa pihaknya akan memperluas jangkauan operasi militer di Lebanon, menyebabkan ratusan ribu orang di Lebanon selatan dan tengah terpaksa mengungsi.

Negara-negara non-Iran di kawasan Teluk juga masih terus melaporkan adanya upaya serangan Iran ke wilayah mereka. Banyak di antara mereka melaporkan serangan dengan target berupa fasilitas energi.

Arab Saudi, misalnya, membuat pernyataan pada Kamis bahwa dua drone Iran berusaha menyerbu ladang minyak Shaybah sebelum dicegat di atas gurun Empty Quarter kerajaan. Bahrain juga melaporkan serangan serupa dengan target berupa tangki bahan bakar di Muharraq.

Serangan dengan target fasilitas energi juga dilaporkan terjadi di beberapa tangki bahan bakar di pelabuhan Salalah, Oman. Serangan ini dikutuk oleh Qatar sebagai eskalasi berbahaya, namun Iran membantah telah melakukan serangan tersebut.

Trump Umumkan Kemenangan atas Perang Iran

Di tengah ketidakpastian keamanan di kawasan Teluk yang terus berlangsung, Presiden AS Donald Trump membuat pernyataan tentang akhir peperangan.

Dalam keterangannya pada Rabu, Trump menyebut bahwa pertempuran di Iran "telah memasuki titik akhir". Ia juga menyebut bahwa AS telah memenangkan perang.

Meski Trump menyatakan bahwa Perang Iran akan segera berakhir, pernyataan itu tampak berlainan dengan Israel. Menteri Pertahanan Israel menyatakan bahwa kampanye militer di Teluk "akan berlanjut tanpa batas waktu".

Secara tak langsung, Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menolak pernyataan Trump bahwa AS telah menang. Pada Kamis dini hari, Pezeshkian menyebut bahwa Iran akan mengakhiri perang jika tercapai tiga syarat.

Ketiga syarat itu adalah "pengakuan hak Iran, pembayaran ganti rugi pertempuran, dan jaminan internasional yang tegas terhadap agresi di masa mendatang". Pezeshkian menyebut bahwa ketiga syarat itu adalah "satu-satunya cara untuk mengakhiri perang".

AS Rogoh Kocek 11,3 Miliar Dolar di Perang Iran dan Korban Meningkat

Untung rugi dalam jalannya peperangan hingga hari ke-13 juga mulai jadi pembahasan. Militer AS merilis biaya perang yang telah digelontorkan pada enam hari pertama operasi di Iran, total biaya yang telah digunakan dalam enam hari itu mencapai USD11,3 miliar.

Selain untung rugi dari secara ekonomi, Perang Iran vs AS-Israel juga telah menimbulkan kerugian kemanusiaan yang terus meluas. UNICEF baru saja melaporkan bahwa konflik telah menciptakan situasi bencana dengan 1.100 anak-anak disebut terluka dan terbunuh selama peperangan berlangsung.

Perwakilan Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, juga menyebut bahwa setidaknya 1.348 warga sipil telah terbunuh dalam 13 hari jalannya peperangan sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu.

Israel, yang menerapkan sensor pemberitaan yang ketat selama perang, menyebut bahwa 14 tentara telah terluka sejak perang dimulai. Kementerian Kesehatan Israel juga menyebut bahwa 179 orang telah terluka dalam 24 jam terakhir karena peperangan.

Jatuhnya korban juga dilaporkan terjadi di Beirut. Kementerian Kesehatan Lebanon kembali melaporkan adanya tujuh orang yang terbunuh di Beirut dan 21 lainnya mengalami luka-luka.

Pemerintah Lebanon menyebut bahwa serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon telah menyebabkan lebih dari 630 orang terbunuh dan 80.000 orang telah terdaftar sebagai pengungsi.

Insiden di Minab Diduga AS Salah Menarget Sasaran

Seiring jalannya peperangan, misteri siapa yang bertanggung jawab di balik serangan ke sekolah putri di Minab, Iran pada 28 Februari juga mulai terkuak. Investigasi independen sejumlah media melaporkan bahwa tewasnya ratusan siswi usia sekolah dasar itu kemungkinan besar terjadi akibat rudal Tomahawk bikinan AS.

The New York Times merilis laporan berisi dugaan bahwa tragedi itu terjadi akibat kesalahan penargetan militer AS dalam serangan 28 Februari. Dugaan itu berasal dari sumber anonim The New York Times yang dijelaskan sebagai seorang pejabat AS.

Akan tetapi, meskipun laporan investigasi media-media AS mengungkap dugaan AS sebagai dalang di balik serangan mematikan itu, Donald Trump tak mengakui tanggung jawab pihaknya dalam serangan tersebut.

Pada Selasa (10/3), Trump menyebut bahwa Tomahawk "dijual dan digunakan banyak negara lain". Trump menyebut alasan itu jadi indikasi bahwa AS belum tentu jadi pihak yang bertanggung jawab atas terbunuhnya ratusan siswi Iran dan menegaskan bahwa insiden itu masih dalam investigasi.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar