tirto.id - Bencana banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatra menimbulkan duka yang mendalam untuk banyak orang. Kini, faktor penyebab banjir ramai diperbincangkan, membuka dugaan faktor selain hujan.
Per Rabu (3/12/2025) sore, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak 26 November lalu telah merenggut 755 nyawa.
Sementara itu, sebanyak 647 orang dinyatakan hilang akibat banjir dan 2,6 ribu orang lainnya mengalami luka-luka. Kerusakan fasilitas umum dan kawasan hunian membuat 531,6 ribu orang kini mengungsi.
Bencana banjir yang merendam 49 kabupaten/kota tersebut menjadi salah satu bencana paling mematikan di Indonesia pada tahun ini.
Semula, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengaitkan bencana dengan cuaca ekstrem imbas Siklon Tropis KOTO yang berkembang di Laut Sulu, Filipina dan Bibit Siklon 95B yang menjadi Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka.
Belakangan, banyak pihak menilai hujan berintensitas tinggi bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan bencana banjir tersebut begitu meluas dan mematikan.
Apa Saja Faktor Penyebab Banjir di Sumatra?
Banjir yang melanda puluhan kabupaten/kota di Pulau Sumatra terjadi di tengah cuaca ekstrem yang melanda kawasan tersebut.
Setidaknya sejak 26 November, kawasan Sumatra diguyur hujan berintensitas tinggi, antara sedang hingga lebat. Di banyak tempat, hujan tersebut disertai dengan angin kencang.
Pada 26 November itu pula, BMKG mencatat bahwa Bibit Siklon 95B di Selat Malaka berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar.
“Dalam 24 jam ke depan, Siklon Tropis Senyar bergerak ke arah barat hingga barat daya dan masih di daratan Aceh dengan kecepatan pergerakan 4 knot (7 km/jam)," tutur Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani pada 26 November.
Siklon tropis tersebut kemudian betulan bergerak ke arah barat, menuju daratan Aceh hingga Kota Medan, sebelum berbelok ke Malaysia dan punah dalam 48 jam.
Akan tetapi, meskipun punah dalam waktu tak sampai 3 hari, BMKG menyatakan bahwa dampak turunan terciptanya Siklon Tropis Senyar masih akan dirasakan, yakni cuaca ekstrem yang terjadi dalam 2-3 hari sejak kepunahan siklon tropis tersebut.
Dalam keterangannya pada 27 November lalu, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menyatakan bahwa dampak turunan itu berupa hujan berintensitas lebat hingga ekstrem di Aceh dan Sumatera Utara, juga hujan berintensitas sedang hingga lebat di Sumatera Barat dan Riau.
Yang terjadi kemudian adalah banjir bandang yang meluas di banyak wilayah di Pulau Sumatra. Dengan cepat, jaringan jalan darat di wilayah terdampak terputus akibat rusaknya jembatan atau longsor.
Sejumlah daerah kemudian mengumumkan status darurat bencana, seperti di Provinsi Aceh pada 28 November dan Provinsi Sumatera Barat pada 25 November.
Sementara, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menilai bahwa hujan bukan faktor utama penyebab banjir jadi begitu mematikan.
Menurut Manajer Pencegahan dan Penanganan Bencana, Eksekutif Nasional Walhi, Melva Harahap, bencana banjir di Pulau Sumatra menjadi begitu mematikan imbas penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan di kawasan penyangga.
Menurutnya, kerusakan ekologis di zona penyangga (buffer zone) di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh merupakan pemicu utama bencana banjir jadi begitu mematikan.
Seharusnya, zona penyangga berfungsi sebagai pelindung kawasan dari potensi bahaya bencana alam. Umumnya, zona ini mewujud sebagai ruang terbuka hijau alami seperti hutan dan rawa, atau area buatan seperti sungai.
Akan tetapi, alih fungsi lahan hutan di kawasan Sumatera ia sebut telah berkontribusi terhadap ketidakmampuan zona penyangga melindungi kawasan dari bencana banjir.
"Itu yang pertama. Jadi tutupan hutannya itu sudah hilang. Satu sisi memang iya bahwa intensitas hujan meningkat. Pola-pola masuk di bulan November dan Desember memang mengalami peningkatan, dan itu dipengaruhi oleh krisis iklim ataupun situasi iklim saat ini,” ujar Melva kepada Tirto, Kamis (27/11).
Salah satu yang disorot Melva adalah alih fungsi lahan Hutan Batang Toru di Sumatera Utara. Bentang Toru selama ini dikenal sebagai bentang hutan tropis esensial di Sumatera Utara, menjadi sumber air dan pencegah banjir dan erosi.
Akan tetapi, peralihan fungsi lahan akibat aktivitas industri di sana membuat Batang Toru kehilangan fungsinya.
“Batang Toru, misalnya, sejak awal berfungsi sebagai hutan penyangga hidrologis. Lima hingga sepuluh tahun lalu, banjir memang pernah terjadi, tetapi belum pernah menimbulkan kerusakan sebesar sekarang. Kini, dari Aceh hingga Sumatra Barat, tercatat 33 kabupaten/kota terdampak banjir,” ujarnya.
Melva juga menuturkan bahwa pihaknya sebelumnya telah melakukan kajian terkait potensi bahaya bencana di kawasan Sumatera Utara. Mereka memprediksi dampak bahaya yang terjadi hingga ke Mandailing Natal jika kawasan penyangga tidak dijaga.
“Dan prediksi itu hari ini terbukti: begitu intensitas hujan meningkat, buffer zone hilang, daerah-daerah penyangganya nggak ada, dan kita nggak pernah menyiapkan masyarakat ataupun pemerintah menghadapi bencana sebesar ini,” ujarnya.
Akan tetapi, berbeda dari Melva, Profesor Klimatologi dan Perubahan Iklim dari Pusat Riset dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menyatakan bahwa faktor cuaca ekstrem masih jad faktor dominan dalam bencana yang kini melanda Pulau Sumatra.
Menurutnya, mayoritas wilayah terdampak banjir merupakan lokasi cuaca ekstrem terjadi. Terlebih, banjir bandang ia sebut selalu memerlukan pemicu ekstrem yang mendadak.
"Berarti memang 80 persen penyebabnya adalah faktor anomali cuaca, bukan cuma anomali biasa tetapi berkaitan erat dengan badai yang sangat besar, sirkulasi siklon itu besar," katanya kepada Tirto, Kamis (27/11).
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id


































