tirto.id - Bencana banjir yang terjadi di Provinsi Aceh sejak akhir November 2025 lalu masih belum sepenuhnya teratasi. Berikut peta banjir terbaru dan juga sebaran wilayah yang terdampak.
Banjir bandang yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mulai 25 November 2025 itu memakan korban jiwa hingga ratusan.
BMKG menyebut jika penyebab banjir bandang yang melanda Pulau Sumatera itu disebabkan oleh anomali atmosfer dari Siklon Senyar di Selat Malaka.
Peta Banjir Aceh Terbaru & Wilayah Terdampak
Berdasarkan informasi yang diunggah di laman resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh per 2 Desember 2025 pukul 16.00 WIB, berikut wilayah di Aceh yang masih terdampak banjir.

Daerah Siaga Darurat
- Kab. Aceh Singkil: 9 kecamatan terdampak
- Kota Subulussalam: 5 kecamatan terdampak
- Kab. Aceh Selatan: 6 kecamatan terdampak
- Kab. Aceh Tenggara: 16 kecamatan terdampak
- Kab. Gayo Lues: 11 kecamatan terdampak
- Kab. Aceh Tengah: 14 kecamatan terdampak
- Kab. Nagan Raya: 4 kecamatan terdampak
- Kab. Pidie Jaya: 8 kecamatan terdampak
- Kab. Bireun: 17 kecamatan terdampak
- Kota Lhokseumawe: 4 kecamatan terdampak
- Kab. Aceh Utara: 27 kecamatan terdampak
- Kab. Aceh Timur: 24 kecamatan terdampak
- Kab. Bener Meriah: 10 kecamatan terdampak
- Kota Langsa: 5 kecamatan terdampak
- Kab. Aceh Tamiang: 12 kecamatan terdampak
Daerah Siaga Bencana
- Kab. Pidie: 22 kecamatan terdampak
Daerah Tanggap Darurat
- Kab. Aceh Besar: 23 kecamatan terdampak
- Kab. Aceh Barat: 12 kecamatan terdampak
Tiga Bupati di Provinsi Aceh Nyatakan Menyerah Tangani Banjir
Tiga bupati di Provinsi Aceh telah menuliskan pernyataan menyerah atau tidak sanggup menangani bencana banjir yang melanda wilayah mereka.
Ketiga bupati itu adalah Bupati Aceh Tengah Haili Yoga, Bupati Aceh Selatan Mirwan MS, dan Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi.
Menanggapi hal itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memahami jika ketiga pemimpin kabupaten itu mengibarkan bendera putih, namun ia juga berharap mereka bersama para pemimpin lainnya tetap tegak untuk memulihkan keadaan seperti sedia kala.
"Nah, khusus tadi misalnya ada Kepala Daerah yang menyatakan tidak sanggup, ya gimana mau sanggup. Kondisinya enggak akan mungkin mampu," ujar Tito dikutip Kumparan (1/12).
"Tapi pemerintah pusat, mau dia [kepala daerah] katakan mampu, mau dia katakan nyerah, enggak mampu, pasti kita akan bekerja, membantu. Dan itu sudah sejak hari pertama. Kita menilai sendiri juga, mana-mana yang mampu, yang mana yang tidak. Yang kita anggap mampu pun kita bantu. Apa lagi yang mengatakan sudah nggak mampu," jelasnya.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id





























