Menuju konten utama

Apa Itu Suar Matahari? Kenali Penyebab, Dampak, dan Mitigasinya

Suar matahari atau flare matahari adalah fenomena angkasa yang bisa memengaruhi berbagai sistem di bumi. Kenali penyebab, dampak, dan mitigasinya di sini.

Apa Itu Suar Matahari? Kenali Penyebab, Dampak, dan Mitigasinya
Ilustrasi matahari. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Matahari sejatinya adalah bola gas raksasa dengan aktivitas internal yang sangat eksplosif. Dibalik kehangatan, cahaya, serta manfaatnya sebagai sumber energi terbesar, matahari ternyata juga menyimpan potensi ledakan dahsyat. Salah satu fenomena paling intens dari aktivitas matahari ini dikenal sebagai suar matahari.

Suar matahari adalah sebuah ledakan energi dahsyat, yang mampu melepaskan energi setara dengan jutaan bom hydrogen. Fenomena ini terjadi karena ketidakstabilan medan magnet matahari.

Suar matahari dinilai sebagai fenomena yang sangat menarik oleh para ilmuwan. Meski terjadi di luar angkasa, dampaknya juga sangat memengaruhi teknologi dan kehidupan di bumi.

Fenomena ini sering terjadi tanpa peringatan dan mengganggu sinyal komunikasi, navigasi GPS, bahkan sistem kelistrikan di bumi. Namun, apa itu suar matahari sebenarnya? Mengapa fenomena ini bisa terjadi, dan sejauh mana pengaruhnya terhadap kehidupan di bumi?

Artikel ini akan membahas secara ringkas dan padat tentang suar matahari, dari definisi, penyebab, dampaknya, hingga upaya-upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak bencana dari adanya fenomena ini.

Gerhana Matahari Hibrida

Ilustrasi Matahari. (FOTO/iStockphoto)

Apa Itu Suar Matahari?

Suar matahari, disebut juga sebagai flare matahari, merupakan ledakan energi besar yang terjadi di permukaan matahari. Seringnya terjadi di sekitar bintik matahari (sunspot), area dengan medan magnet yang sangat kuat.

Flare matahari berlangsung dalam beberapa menit hingga beberapa jam. Fenomena ini terjadi karena adanya gangguan medan magnet matahari, sehingga matahari melepaskan energi secara tiba-tiba.

Energi yang dilepas berupa radiasi elegtromagnetik yang mecakup spektrum luas, mulai dari gelombang radio, sinar ultraviolet, sinar-X, dan sinar gamma. Radiasi yang dipancarkan menyebar ke segala arah, termasuk bumi.

Mulanya fenomena ini diamati oleh astronom bernama Richard Carrington pada tahun 1859. Di mana tiba-tiba ia melihat kilatan cahaya terang pada permukaan matahari.

Beberapa jam setelah itu, bumi dilanda badai gelombang geomagnetik besar dan mengganggu sistem telegraf. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai Peristiwa Carrington, dan menjadi bukti awal bahwa fenomena di matahari bisa berdampak langsung ke bumi.

Suar matahari dibedakan menjadi beberapa kategori berdasarkan kekuatan ledakan dan intensitas sinar-X yang dihasilkan, antara lain :

  • Kelas B & C: Ledakan kecil yang sering terjadi, tetapi jarang berdampak signifikan untuk bumi.
  • Kelas M: Ledakan sedang yang dapat menyebabkan gangguan komunikasi radio di wilayah tertentu.
  • Kelas X: Ledakan terkuat yang berpotensi menyebabkan badai geomagnetik besar dan memengaruhi teknologi di bumi.
Fenomena ini juga sering dikaitkan dengan Coronal Mass Ejection (CME), yaitu lontaran massa korona matahari yang terdiri dari plasma dan medan magnet. Namun, tidak semua suar matahari diikuti oleh CME.

Penyebab Terjadinya Suar Matahari

Permukaan matahari bukanlah permukaan padat, melainkan lautan plasma panas dengan aktivitas magnetik yang sangat kompleks. Sehingga di area tertentu, medan magnet bisa terkumpul sangat kuat dan terkontaminasi.

Flare matahari tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa penyebab utama yang memicu terjadinya fenomena ini, antara lain :

1. Aktivitas Medan Magnet

Ketika garis-garis medan magnet pada matahari saling berkumpul dan bertumpukan, memungkinkan adanya gesekan dari dua medan magnet dengan arah berlawanan. Sehingga terjadi rekognesi magnetik di mana energi yang dilepaskan sangat besar dan menyebar ke ruang angkasa. Proses ini menjadi inti dari penyebab suar matahari.

2. Perubahan Struktur Medan Magnet

Terkadang medan magnet pada permukaan matahari berubah secara tiba-tiba karena pergerakan plasma pada permukaan bawah. Perubahan ini dapat menyebabkan ketidakstabilan yang memicu flare matahari.

3. Interaksi antara Bintik Matahari

Bintik matahari (sunspot) adalah bagian dari permukaan matahari yang lebih dingin dengan medan magnet yang lebih kuat. Saat dua atau lebih kelompok sunspot aktif saling berdekatan, potensi interaksi medan magnetnya meningkat. Interaksi ini dapat menyebabkan medan magnet saling terpuntir dan pecah, sehingga menghasilkan ledakan.

4. Fase Siklus Matahari

Matahari memiliki aktivitas dengan siklus setiap 11 tahun, yang dikenal sebagai siklus matahari. Pada puncak siklus ini, jumlah sunspot meningkat dan kemungkinan munculnya flare matahari juga lebih tinggi. Periode ini disebut sebagai solar maximum dan ditandai dengan aktivitas matahari yang sangat tinggi.

FENOMENA HALO MATAHARI

Bendera merah putih berkibar saat terjadinya Halo Matahari di Kayu Aro Barat, Kerinci. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/wsj.

Dampak Suar Matahari

Suar matahari bukan fenomena luar angkasa biasa, karena radiasi dan partikel dengan energi besar yang dipancarkan dapat memengaruhi berbagai sistem di bumi. Berikut ini beberapa dampak utama dari fenomena suar matahari :

1. Gangguan Komunikasi Radio

Gangguan terhadap sinyal radio, terutama dengan frekuensi tinggi (HF), dapat terjadi karena lapisan ionosfer bumi mengambil ionisasi berlebihan saat terjadi ledakan. Hal ini dapat memengaruhi komunikasi di pesawat, kapal laut, dan daerah terpencil yang bergantung pada sinyal HF.

2. Kerusakan Satelit

Suar matahari dapat merusak perangkat elektronik di satelit, memperpendek umur satelit, bahkan membuatnya tidak berfungsi. Partikel berenergi tinggi dapat menyebabkan single event upset (SEU) yang mengubah bit memori secara acak dan memicu kerusakan sistem, atau bahkan menghentikan operasi satelit.

3. Gangguan Navigasi GPS

Sinyal GPS bergantung pada kestabilan ionosfer. Ketika flare matahari terjadi, sinyal dari satelit GPS bisa terdistorsi atau tertunda. Hal ini bisa menyebabkan sinyal GPS mengalami kesalahan posisi atau bahkan hilang sama sekali selama badai matahari.

4. Gangguan Sistem Kelistrikan

Badai geomagnetik yang dipicu oleh suar matahari dan CME dapat menginduksi arus listrik dalam jaringan listrik di bumi. Arus ini bisa merusak transformator dan peralatan lain, bahkan menyebabkan pemadaman listrik massal.

5. Ancaman untuk Astronot dan Misi Antariksa

Astronot yang berada di luar atmosfer bumi, seperti di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), sangat rentan terhadap radiasi dari flare matahari. Oleh karena itu, pemantauan terhadap aktivitas matahari sangat penting agar astronot bisa berlindung saat terjadi flare besar.

6. Munculnya Aurora yang Spektakuler

Kemunculan aurora borealis dan australis di kutub terjadi karena partikel bermuatan dari matahari berinteraksi dengan medan magnet bumi dan atmosfer atas.

7. Dampak Biologis dan Kesehatan

Sinar ultraviolet selama flare matahari bisa meningkatkan risiko kanker kulit dan memengaruhi sistem kekebalan.

Mitigasi dari Dampak Suar Matahari

Dalam menghadapi ancaman dari suar matahari, berbagai sektor telah melakukan antisipasi yang bertujuan mengurangi risiko gangguan terhadap teknologi, infrastruktur, serta keselamatan manusia akibat ledakan energi besar dari matahari.

Strategi mitigasi yang telah dikembangkan sejauh ini, antara lain sebagai berikut :

1. Pemantauan dan Peringatan Dini

Lembaga seperti NASA, NOAA, ESA, dan BMKG melakukan pemantauan aktivitas matahari secara langsung menggunakan satelit seperti SOHO, SDO, dan STEREO. Sistem peringatan dini juga dikembangkan untuk memberi tahu lembaga penerbangan, komunikasi, dan kelistrikan tentang potensi flare.

2. Proteksi Terhadap Satelit dan Teknologi Antariksa

Satelit modern dilengkapi pelindung tambahan untuk komponen elektronik dan memasukkan mode aman (safe mode) pada satelit untuk mengurangi kerusakan akibat radiasi. Mitigasi juga dilakukan dengan menunda peluncuran roket atau manuver luar angkasa jika diprediksi terjadi flare besar

3. Pengamanan Sistem Kelistrikan

Menginstal sistem penahan lonjakan (surge protector) dan perangkat monitoring GIC (Geomagnetically Induced Current). Selain itu, jaringan listrik atau transformator juga dinonaktifkan sementara di area berisiko tinggi.

4. Perlindungan Astronot dan Stasiun Luar Angkasa

Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) memiliki area shelter dengan perisai radiasi tambahan. Aktivitas luar angkasa (spacewalk) juga dihentikan saat radiasi tinggi terdeteksi dan menempatkan astronot di modul berlindung saat badai besar.

5. Meningkatkan Kesadaran Publik dan Operator Teknis

Masyarakat perlu memahami risiko dan langkah mitigasi suar matahari. Selain itu, pelatihan bagi operator infrastruktur perusahaan listrik, telekomunikasi, dan penerbangan agar dapat merespons ancaman badai.

6. Membuat Desain Infrastruktur yang Tahan Flare

Infrastruktur seperti jaringan listrik dan transformator, satelit dan sistem komunikasi, serta sistem navigasi dan GPS dibangun menggunakan komponen elektromagnetik tahan radiasi agar tidak terjadi gangguan elektromagnetik saat flare.

Ilustrasi Cuaca

Ilustrasi matahari bersinar. foto/istockphoto

Suar matahari adalah bukti nyata bahwa matahari bukan hanya sumber kehidupan, tapi juga bisa menjadi sumber gangguan besar jika aktivitasnya meningkat drastis. Dengan memahami apa itu suar matahari, penyebab, dan dampaknya, masyarakat bisa lebih sadar akan pentingnya pemantauan aktivitas matahari.

Flare matahari mungkin tidak bisa dicegah, tetapi melalui teknologi dan ilmu pengetahuan yang terus berkembang, manusia kini lebih siap menghadapi ancaman kosmik tersebut.

Baca juga artikel terkait MATAHARI atau tulisan lainnya dari Nirmala Eka Maharani

tirto.id - Edusains
Kontributor: Nirmala Eka Maharani
Penulis: Nirmala Eka Maharani
Editor: Lucia Dianawuri