Menuju konten utama

Apa Itu Hujan Buatan & Benarkah Bisa Atasi Polusi Udara Jakarta?

Mengenal apa itu hujan buatan dan apakah efektif untuk mengatasi polusi udara di Jakarta?

Apa Itu Hujan Buatan & Benarkah Bisa Atasi Polusi Udara Jakarta?
Seorang warga menggunakan payung saat turun di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Selasa (4/10/2022). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/tom.

tirto.id - Hujan buatan hasil operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) mengguyur wilayah Jabodetabek pada Minggu malam, 27 Agustus 2023. Lalu, apakah hujan buatan ini efektif atasi polusi udara?

Rencana operasi TMC hujan buatan di Jakarta sudah dipaparkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar sejak Senin, 21 Agustus 2023.

Menurut Siti, hujan buatan adalah salah satu respons terhadap kondisi polusi udara Jakarta saat ini. Hujan buatan diharapkan dapat berkontribusi dalam mengurangi polusi udara.

Sebagaimana diketahui, Ibu Kota Jakarta dalam beberapa pekan terakhir konsisten menempati status tidak sehat menurut situs pemantauan polusi udara IQAir.

“Terhadap situasi (polusi) seperti ini, kita lakukan hujan buatan di lokal sehingga udaranya jadi bersih. Kita sudah minta hari ini atau besok itu sudah dilakukan, harus ada hujan buatan agar sedikit membersihkan,” kata Siti dikutip Antara News.

Operasi TMC sudah dimulai sejak 24 Agustus 2023, dengan memanfaatkan gelombang Rossby di sekitar wilayah Jawa Barat yang sebelumnya sudah diprediksi aktif pada periode 26 - 27 Agustus 2023.

Gelombang Rossby merupakan gelombang dengan massa udara hangat yang berasal dari wilayah ekuator ke wilayah kutub. Adanya gelombang ini telah meningkatkan penguapan pada sebagian wilayah yang dilewati. Efeknya yaitu terdapat peningkatan curah hujan.

Kemudian, dengan melakukan operasi TMC, terjadilah hujan ringan hingga lebat pada Minggu malam di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, hingga Bekasi.

Apa yang Dimaksud dengan Hujan Buatan?

Hujan buatan adalah hujan yang terjadi akibat campur tangan manusia alias tidak alami. Dalam kasus hujan buatan di Jakarta, pihak yang melakukannya adalah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

BMKG dalam melakukan operasi TMC mengamati potensi sumber hujan melalui radar cuaca atau satelit. Sumber hujan yang dimaksud adalah awan konvektif yang mengandung banyak uap air dan volume besar di ketinggian tertentu.

Setelah awan berpotensi hujan ditemukan BMKG menyemai garam ke dalam awan dengan bantuan pesawat terbang. Jenis garam tersebut adalah natrium klorida seperti yang dipakai sebagai garam dapur dengan dicampur urea dan asam sitrat. Kegunaan garam sebagai inti kondensasi yaitu partikel penarik uap air sehingga menimbulkan tetesan air.

Usai penyemaian garam dan ban lain di awan, BMKG melakukan evaluasi menggunakan data curah hujan dari stasiun hujan otomatis (AWS) dan stasiun pengamatan cuaca (SPC).

Proses penyemaian yang berhasil akan menghasilkan curah hujan yang diharapkan seperti yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya pada Minggu malam, 27 Agustus 2023.

Apakah Hujan Buatan Bisa Turunkan Polusi Jakarta?

Hujan buatan yang mengguyur Jakarta pada Minggu malam berhasil menurunkan tingkat polusi udara. Namun meski turun, polusi udara di Jakarta masih dalam status tidak sehat menurut situs IQAir di skor PM 2,5 pada hari yang sama.

Polusi udara Jakarta berada di tingkat paling rendah pada pukul 20.00 WIB Minggu malam. Tetapi, ketika hujan mulai reda, tingkat polusi kembali berangsur naik.

Oleh karena itu, hujan buatan dapat dikategorikan sebagai tindakan reaktif bukan solutif. Pasalnya, hujan buatan hanya dapat meredam polusi udara Jakarta dalam waktu singkat. Dengan kata lain bukanlah solusi jangka panjang.

Juru Kampanye Keadilan Perkotaan Greenpeace Indonesia, Charlie Albajili menjelaskan pada Jumat, 25 Agustus 2023 bahwa solusi yang ditawarkan pemerintah tidak akan menyelesaikan masalah kalau tidak menyasar sumber-sumber pencemaran, entah dari transportasi, industri, pembakaran sampah, maupun pembakaran batubara dari industry PLTU.

Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Katja Friedrich, seorang profesor di bidang ilmu atmosfer dan kelautan di University of Colorado, kepada The Daily Beast bahwa menggunakan hujan buatan sebagai solusi untuk membersihkan polusi udara bukanlah rencana yang efektif.

Friedrich memaparkan bahwa menjadikan hujan buatan sebagai solusi jangka panjang adalah pemahaman yang salah kaprah.

"Hujan memang menghilangkan polusi dari udara. Tidak diragukan lagi," kata Friedrich.

"Namun, menurut saya, lebih mudah untuk menyelesaikan masalah polusi udara daripada mencoba menyelesaikannya dengan penyemaian awan," katanya.

Baca juga artikel terkait POLUSI UDARA DI JAKARTA atau tulisan lainnya dari Balqis Fallahnda

Kontributor: Balqis Fallahnda
Penulis: Balqis Fallahnda
Editor: Nur Hidayah Perwitasari