Menuju konten utama

Apa Itu DME dan Benarkah akan Gantikan LPG?

Apa itu DME sebenarnya dan benarkah akan gantikan LPG? Gasifikasi batu bara (Dimethyl Ether/DME) bisa menjadi energi alternatif pengganti LPG.

Apa Itu DME dan Benarkah akan Gantikan LPG?
Pekerja menaiki anak tangga untuk melakukan pengecekan operasional Kilang Ekstraksi LPG Prabumulih milik PT Perta-Samtan Gas (PSGAS) di Prabumulih, Sumatera Selatan, Kamis (18/09/2025). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Proyek hilirisasi Dimethyl ether (DME) termasuk menjadi salah satu dari daftar 18 hilirisasi strategis. Rencananya, DME bakal mulai dijalankan pada 2026. Lantas, apa itu DME sebenarnya dan bernarkah akan menggantikan LPG?

Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan pihaknya sudah melaporkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto terkait 18 proyek hilirisasi strategis pada tahun 2026.

Katanya, 18 proyek hilirisasi strategis 2026 tidak mengalami masalah pendanaan. Pria yang juga menjabat sebagai CEO Danantara itu menambahkan bahwa pihaknya masih melakukan evaluasi terhadap DME.

Tujuannya agar proyek DME tidak berhenti lagi dan berjalan sesuai target yang sudah ditetapkan.

"Kami juga memastikan dulu untuk teknologinya. Teknologi yang kita utamakan, yang up-to-date (terbaru, red.), dan yang paling efisien, karena DME ini dulu pernah dicoba dijalankan, sempat groundbreaking, tetapi kemudian berhenti," ujar Rosan Roeslani, seperti dikutip Antaranews, Kamis, 6 November 2025.

"Nah, hal itu yang kami, kalau di Danantara, tidak (ingin) ada, tidak mau ada hal itu terjadi lagi. Jadi, kami benar-benar, kalau evaluasi, benar-benar secara menyeluruh sehingga saat mulai berjalan atau groundbreaking itu akan berjalan secara penuh dan sesuai dengan target-target yang dicanangkan," lanjutnya.

DME Bisa Jadi Energi Alternatif Pengganti LPG

Mengutip laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral,gasifikasi batu bara (Dimethyl Ether/DME) bisa menjadi energi alternatif pengganti Liquified Petroleum Gas (LPG).

Oleh sebab itu, DME dapat memenuhi kebutuhan energi hingga dinilai mampu mengurangi impor LPG.

DME sendiri merupakan senyawa eter paling sederhana yang mengandung oksigen. Rumus kimianya adalah CH3OCH3 dengan wujud gas. Proses pembakaran dianggap berlangsung lebih cepat daripada LPG.

Pengembangan proyek DME adalah sebagai subtitusi alias pengganti terhadap penggunaan LPG. Di lain sisi, LPG dahulu juga pernah menjadi subtitusi minyak tanah.

"Apalagi 75% penggunaan LPG di dalam negeri itu berasal dari impor. Kalau kita tergantung impor, dari sisi ketahanan energi akan tidak terlalu baik," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi.

Kemudian, DME juga dinilai memiliki karakteristik kesamaan dengan LPG, baik dari sisi sifat kimia dan fisika. Maka, DME diklaim bisa menggunakan infrastruktur LPG. Contohnya tabung, storage, dan handling eksisting.

"Campuran DME sebesar 20% dan LPG 80% dapat digunakan kompor gas eksisting," demikian disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) ESDM, Dadan Kusdiana.

Selain itu, DME juga dianggap mempunyai sejumlah kelebihan. Salah satunya dapat diproduksi dari berbagai sumber energi. Semisal biomassa, limbah, dan Coal Bed Methane (CBM).

Batu bara termasuk menjadi bahan baku pilihan yang ideal untuk proyek pengembangan DME. DME memang dilengkapi kandungan panas (calorific value) 7.749 Kcal/Kg. Sedangkan LPG 12.076 Kcal/Kg.

Namun, massa jenis DME lebih tinggi. Perbandingan kalori DME dengan LPG adalah sekitar 1:1,6. Kelebihan DME selanjutnya yaitu mudah terurai di udara, tidak merusak ozon, serta mampu meminimalisir gas rumah kaca hingga mencapai 20%.

Kualitas nyala api DME lebih biru dan stabil, tidak menghasilkan partikulat matter (pm) dan NOx, serta tidak mengandung sulfur.

Penetapan harga batu bara acuan periode kedua September

Ilustrasi batu bara. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/bar

Sementara menurut laman Alternative Fuels Data Center (AFDC), Dimethyl ether (DME) memang bisa diproduksi dari biomassa, metanol, dan bahan bakar fosil.

Akan tetapi, bahan baku yang paling mungkin dipilih untuk produksi DME dalam skala besar di Amerika Serikat (AS) adalah gas alam.

Tak hanya itu, DME katanya juga dapat diproduksi secara langsung dari gas sintesis yang dihasilkan dari gas alam, batu bara, atau biomassa.

Metode lain adalah diproduksi secara tidak langsung dari metanol melalui reaksi dehidrasi meskipun nyatanya DME belum tersedia secara komersial di AS.

Jurnal berjudul "Energy Optimization of Dimethyl Ether (DME) Production Process from Methanol Dehydration" menyebutkan hasil penelitiannya mampu mengoptimalkan proses produksi DME dari dehidrasi metanol dengan menerapkan strategi integrasi energi.

Hasil modifikasi termasuk mengganti pemanas dengan penukar panas dan memanfaatkan energi berlebih dari proses pendinginan. Lalu menghasilkan pengurangan signifikan sebesar 65,8% dalam konsumsi energi bersih dari 8,54×10⁶ kJ/jam menjadi 2,92×10⁶ kJ/jam total konsumsi energi bersih.

Temuan ini diklaim mampu memberikan peran optimasi energi dalam proses kimia industri, menawarkan jalur berkelanjutan, serta lebih ekonomis jika ingin melakukan produksi DME.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan proyek gasifikasi batu bara menjadi DME bakal memakai teknologi China atau Eropa.

"Dua aja kalau enggak Eropa, China. DME ini adalah hilirisasi dari batu bara dengan menggunakan low calorie dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan LPG," ungkap Bahlil, mengutip Antaranews, Jumat, 24 Oktober 2025.

Sementara Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menjelaskan kebutuhan domestik Indonesia terhadap DME diproyeksikan bisa jadi mencapai angka 11 juta ton per tahun.

"Investasi di bidang DME tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka ruang transfer teknologi dan peningkatan kemampuan industri dalam negeri," tutur Agus Gumiwang.

Baca juga artikel terkait ENERGI atau tulisan lainnya dari Beni Jo

tirto.id - Edusains
Penulis: Beni Jo
Editor: Iswara N Raditya