Menuju konten utama

Apa Isi Film Dokumenter Pesta Babi Sampai Nobarnya Dibubarkan?

Pesta Babi, film dokumenter karya Dandy Laksono, jadi polemik usai acara nobarnya banyak dibubarkan. Isi film ini tidak lepas dari kehidupan adat Papua.

Apa Isi Film Dokumenter Pesta Babi Sampai Nobarnya Dibubarkan?
Film Pesta Babi. Youtube/Indonesia Baru
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Acara nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi (2026) dibubarkan paksa di sejumlah daerah. Dalam kasus terbaru, pembubaran bahkan dilakukan oleh aparat TNI. Memangnya, apa isi film bikinan sutradara Dhandy Laksono itu?

Pembubaran acara nobar film Pesta Babi oleh aparat TNI terjadi di Kota Ternate, Maluku Utara pada Jumat (8/5/2026). Semula, film hasil kolaborasi Watchdoc, Media Jubi, Greenpeace Indonesia, Pusaka Bentala Rakyat, dan Ekspedisi Indonesia Baru itu hendak diputar di Pendopo Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah.

Pemutaran film di Ternate itu dijadwalkan tayangpada pukul 20.00 WIT. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Ternate dan Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) Maluku Utara selaku panitia acara merencanakan pemutaran film yang akan diikuti diskusi setelahnya.

Namun, Komandan Kodim 1501 Ternate Letkol Inf Jani Setiadi tiba-tiba mendatangi acara tersebut. Bersamanya, sejumlah orang tak dikenal memotret panitia dan peserta diskusi.

Jani Setiadi lalu membubarkan acara tersebut. Tanpa menunjukkan bukti, Jani mengklaim aksinya itu didasari penolakan masyarakat atas film Pesta Babi karena dianggap memiliki judul provokatif.

Dalam video yang beredar di internet, peserta yang tak sepakat dengan klaim Jani sempat meminta Dandim 1501 Ternate itu untuk menonton sendiri isi filmnya untuk membuktikan bahwa film itu tidak provokatif. Namun, acara tetap dibubarkan.

Pembubaran di Ternate itu hanya selang sehari pasca-pembubaran serupa di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Kamis (7/5). Di NTB, pembubaran nobar Pesta Babi terjadi di Universitas Mataram (Unram).

Aksi pembubaran paksa di Unram dilakukan oleh Wakil Rektor 3 bidang Kemahasiswaan Sujita. Ia dilaporkan datang bersama 30 satpam ke lokasi nobar sebelum film sempat diputar.

“Film ini saya kira kurang baik untuk ditonton,” kata Sujita, dinukil dari laman Media Unram.

Sujita menyebut bahwa pembubaran sepihak ini ia lakukan atas perintah Rektor Unram Sukardi. Sujita tak merinci alasan pembubaran acara itu, ia hanya menyebut aksinya dilakukan demi menjaga kondusifitas kampus.

Peristiwa serupa juga terjadi di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram pada Jumat malam, sehari setelah pembubaran di Unram. Pemutaran film ini di UIN Mataram dibubarkan paksa oleh sejumlah satpam kampus.

Para peserta pemutaran film dilaporkan sempat bernegosiasi dan meminta kejelasan terkait alasan aksi pembubaran itu. Namun, setelah film sempat diputar selama tiga menit, proyektor dimatikan paksa dan satpam kampus menyebut mereka diperintah oleh Rektor UIN Mataram Masnun Tahir.

Ada tiga peristiwa pembubaran film Pesta Babi dalam rentang waktu berdekatan selama sepekan kemarin. Memangnya, apa isi film dokumenter itu sampai-sampai aparat TNI mengklaim dapat dijadikan alat provokasi?

Dokumenter Pesta Babi, Film Tentang Apa?

Pesta Babi adalah film dokumenter yang dibuat oleh sutradara Dhandy Laksono dan Cypri Paju Dale. Film ini bergenre dokumenter investigatif yang menyoroti kehidupan masyarakat adat Papua Selatan di tengah ekspansi proyek strategis nasional (PSN).

Ada tiga tempat yang ditampilkan dalam film, yakni Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Film ini menemukan adanya konflik lahan antara masyarakat adat setempat dengan proyek pembangunan negara yang semakin masif belakangan ini.

Sepanjang film, Dhandy Laksono dan Cypri Paju Dale berusaha merekam peristiwa tersingkirnya masyarakat lokal dari tanah leluhur mereka. Hutan-hutan adat yang selama ini mereka diami, telah dibuka untuk berbagai proyek pembangunan seperti untuk pekebunan tebu, sawit hingga food estate.

Melalui Pesta Babi, kedua sutradara itu juga berupaya menampilkan realitas ikut sertanya militer dalam konflik lahan tersebut. Masyarakat adat di Papua Selatan ikut terdesak dari tanah mereka karena pengerahan pasukan tentara di sana.

Bentrokan kepentingan antara masyarakat adat untuk hidup di tanah mereka dan kepentingan negara untuk membuka lahan hutan serta memperluas skala proyek pembangunan jadi pusat intrik dalam film Pesta Babi.

Judul Pesta Babi sendiri diambil dari tradisi masyarakat suku Muyu. Tradisi ini dikenal sebagai “Awon Atatbon” dalam bahasa lokal, merupakan ritual adat dengan hewan babi sebagai simbol sosial dan budaya.

Babi merupakan salah satu hewan yang penting dalam kearifan lokal Papua. Hewan ini kerap digunakan dalam ritual keagamaan dan dianggap sebagai barang yang berharga.

Namun, konflik kepentingan antara negara dan masyarakat adat bukan satu-satunya sudut pandang yang disorot dalam film ini. Pesta Babi juga menyoroti dampak lingkungan akibat aktivitas proyek pembangunan di Papua Selatan.

Di Papua Selatan, pemerintah tengah melakukan alih fungsi lahan berskala besar hingga jutaan hektare untuk berbagai proyek. Alih fungsi yang masif dan berlangsung cepat ini dinilai memiliki dampak langsung terhadap ekosistem hutan dan lingkungan tanah Papua.

Baca juga artikel terkait FILM DOKUMENTER atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar