Ambisi Proyek Luar Angkasa India

Oleh: Tony Firman - 12 September 2017
Dibaca Normal 3 menit
ISRO, organisasi badan antariksa milik India berhasil meluncurkan 104 satelit dalam satu misi saja, mengembangkan roket Avatar yang dapat pulang pergi dari bumi ke luar angkasa, dan sederet ambisi proyek luar angkasa lainnya.
tirto.id - 15 Februari 2017 lalu menjadi hari bersejarah bagi dunia penerbangan antariksa India. Sebanyak 104 satelit dengan bobot lebih dari satu ton dengan sukses diluncurkan oleh roket PSLV-C37 milik India dalam sebuah misi tunggal.

Jumlah peluncuran satelit ini telah menyalip rekor yang dipegang Rusia pada 2014 lalu dengan peluncuran 37 satelit sekaligus.

Diluncurkan dari Sriharikota di India selatan, 104 satelit tersebut terdiri dari 103 satelit berawak dan satu satelit seri Cartosat-2 untuk kebutuhan pengamatan bumi. Mayoritas sebanyak 96 satelit lainnya berasal dari perusahaan asal Amerika Serikat, selebihnya masing-masing dari Kazakhstan, Israel, Belanda, Swiss, Uni Emirat Arab dan dua satelit nano dari India.

Sebagian besar satelit yang dibawa memiliki kemampuan pencitraan bumi. Satelit kartografi India, yang diyakini mampu mengambil gambar beresolusi tinggi juga ada di roket yang membawa ratusan satelit ini mengorbit di luar angkasa. Dengan teknologi resolusi tinggi, diharapkan dapat memantau saingan berat India seperti Pakistan dan Cina.

Perdana Menteri India Narendra Modi menjadi orang pertama yang memberi ucapan selamat terhadap kerja keras para ilmuwan anak bangsa India “Prestasi yang luar biasa oleh @isro ini merupakan saat yang membanggakan bagi komunitas ilmiah antariksa dan bangsa kita. India memberi hormat kepada ilmuwan kita.” kicau Modi dalam akun twitternya.

Baca juga: Ekonomi India Moody di Bawah Modi

Kesuksesan peluncuran ratusan satelit secara massal dalam satu misi tunggal ini makin memperkuat posisi India dalam pasar industri luar angkasa yang memang sedang berkembang. Selama dua dekade terakhir, India telah menjadi pemain kunci di pasar ruang komersial yang menguntungkan dengan menawarkan alternatif berbiaya rendah. Termasuk capaian tahun 2016 lalu yang berhasil meluncurkan 20 satelit dalam satu misi.

India sebelumnya juga sukses menorehkan sejarah misi penempataan pesawat ruang angkasa ke orbit sekitar Mars pada September 2014 lalu yang dikerjakan oleh organisasi Mars Orbiter Mission (MOM). Capaian ini menjadikan India berada di urutan keempat yang berhasil menjalankan misi tersebut setelah AS, Uni Soviet dan Badan Antariksa Eropa.

Baca juga: Saat Kennedy Ingin Amerika Serikat Mendarat di Bulan

Semua aktivitas peluncuran ini ditangani oleh ISRO, sebuah organisasi badan antariksa nasional milik India yang bermarkas di Kota Bengaluru. Apa yang membuat unik lagi bahwa India menjalankan usaha ini dengan biaya rendah, misalnya saat misi menjalankan misi menuju orbit Mars, India hanya menghabiskan anggaran sebesar 73 juta dolar, dibandingkan dengan NASA dalam misi yang sama telah menggelontorkan dana sebesar 631 juta dolar.

Dengan jumlah segitu, Modi menyindir bahwa biaya yang dikeluarkan Mars Orbiter Mission (MOM) lebih sedikit dibanding pembuatan film Gravity yang diproduksi Hollywood.

Ada banyak perusahaan swasta yang sudah mengembangkan satelit guna kebutuhan operasional mereka. Namun sebagian besar dari perusahaan tersebut tidak mampu meluncurkan satelitnya secara independen. Mereka membutuhkan instansi bidang luar angkasa yang memiliki fasilitas peluncuran satelit seperti salah satunya ISRO.

Baca juga: Bahaya Sampah Luar Angkasa

Jurnalis Neeta Tal menyatakan bahwa keunggulan India dalam bidang eksplorasi ruang angkasa akan semakin meroket. Laporan tahun 2015 oleh Space Foundation memperkirakan ekonomi global ruang angkasa bernilai 323 miliar dolar dengan mayoritas permintaan satelit kecil yang murah, seperti yang berhasil dilakukan ISRO dengan meluncurkan 104 satelit pada Feburari lalu. Tren seperti ini diperkirakan akan terus meningkat.

Di sisi lain, tren perkembangan yang ditorehkan India akan turut mengubah persepsi umum bahwa ruang angkasa beserta seluk beluknya hanya untuk dikuasai negara-negara Barat karena diidentikkan dengan biaya besar.

infografik perjalanan antariksa india


Kerja Keras ISRO

Selama ini anggaran tahunan yang dikucurkan pemerintah India untuk ISRO sebesar 1 miliar dolar. Dibandingkan dana NASA yang sebesar 17,6 miliar dolar per tahun, ISRO hanya lima persennya saja. Karena serangkaian keberhasilan baru-baru ini dalam mencapai target peluncuran ratusan satelit, India menyepakati untuk menaikkan anggaran bagi ISRO tahun ini sebesar 23% meski belum diketahui berapa jumlah pastinya.

ISRO adalah badan antariksa yang dimiliki pemerintah India. Segala urusan peluncuran satelit dan riset luar angkasa ada di bawah naungan dan penyelenggaraan ISRO. Jejak ISRO dapat dilacak pada tahun 1969 saat mulai awal pembentukan. Tetapi cikal bakal badan antariksa India pertama dirintis dengan nama organisasi Indian National Committee for Space Research (INCOSPAR).

Baca juga: Go-Jek, Karya Anak Bangsa Blasteran India

Perdana Menteri India pertama, Jawaharlal Nehru bersama temannya seorang ilmuwan Vikram Sarabhai yang merumuskan program luar angkasa India mendirikan INCOSPAR pada tahun 1962 sebelum akhirnya tumbuh menjadi ISRO.

Satelit pertama yang berhasil dibangun ISRO bernama Aryabhata, menjadi karya pertama anak bangsa India dan diluncurkan oleh roket milik Uni Soviet bernama Kosmos-3M pada 19 April 1975. Peluncuran ini adalah paket kesepakatan antara India dan Uni Soviet yang ditandatangani pada tahun 1972.

Baru di tahun 1980, sebuah satelit buatan India bernama Rohini menjadi satelit pertama yang diluncurkan oleh roket buatan India sendiri bernama SLV-3. SLV-3 ini yang menjadi cikal bakal lahirnya dua roket bikinan ISRO yang dipakai sampai detik ini untuk mengirim berbagai macam satelit, yaitu bernama Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV) dan Geosynchronous Satellite Launch Vehicle (GSLV).

Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV) yang pertama kali bertugas pada 20 September 1993 berfungsi untuk meluncurkan satelit ke orbit kutub. Sedangkan Geosynchronous Satellite Launch Vehicle (GSLV) yang pertama kali bertugas pada 18 April 2001 berfungsi untuk menempatkan satelit ke dalam orbit geostasioner.

ISRO dengan roket andalanya PSLV yang paling banyak diminati untuk mengirimkan satelit. Menurut laporan yang dipublikasikan di pasar satelit internasional, selama tiga tahun terakhir berhasil meraup pendapatan tahunan sekitar 200 miliar dolar. Ini sudah termasuk pasar layanan peluncuran satelit, manufaktur satelit, peralatan darat, dan layanan satelit. Belum lagi tambahan pendapatan melalui Antrix Corporation Limited anak organisasi ISRO yang menyediakan layanan daya tampung peluncuran satelit yang meraup pendapatan sekitar 40 juta dolar selama tahun 2015 sampai 2016.

Meski begitu, ISRO masih dinilai belum sepenuhnya memanfaatkan ruang dan talenta untuk mendapatkan keuntungan yang lebih gemuk. Hal ini diungkapkan oleh Jagdish Khetrapal, seorang ilmuwan asosiasi di Reliance Energy, salah satu pemain sektor swasta terbesar di India dalam bidang energi.

"Meskipun suksesnya luar biasa, India perlu memperbaiki permainannya untuk mengklaim bagian yang lebih besar dari podium ekonomi ruang angkasa. Sejauh ini negara hanya memperoleh jumlah yang sederhana melalui layanan peluncuran komersialnya dan tidak sepenuhnya memanfaatkan potensi penuhnya. Ini perlu diubah."

Ongkos biaya tenaga kerja yang lebih rendah dan peralatan yang bersumber dari dalam negeri dinilai berkontribusi atas biaya murah yang ditawarkan ISRO kepada para kliennya. Meski secara umum, kemampuan ilmiah dan keahliannya lebih sederhana daripada yang selama ini dikerjakan oleh NASA.

Baca : Berbagai Upaya Elon Musk Menjajah Planet Mars

ISRO berarti secara resmi beradu dengan SpaceX, perusahaan milik Elon Musk yang tengah mengembangkan roket yang dapat digunakan bolak-balik dari bumi ke luar angkasa. ISRO tidak mau kalah, mereka tengah mengembangkan roket Avatar, dengan konsep tujuan yang serupa dengan SpaceX.

Baca juga artikel terkait INDIA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf
DarkLight