Menuju konten utama
Byte

Akuisisi Scale AI, Meta Giring AI ke Era Oligopoli?

Meta, salah satu penguasa media sosial, mengakuisisi Scale AI. Secuil entitas bisnis gigantik yang menggabungkan kekuatan berpotensi memonopoli pasar.

Akuisisi Scale AI, Meta Giring AI ke Era Oligopoli?
Header Scale x Meta. FOTO/iStock

tirto.id - Kehebohan mewarnai dunia kecerdasan buatan (AI) pada pekan ketiga Juni 2025. Meta resmi mengakuisisi 49 persen saham Scale AI lewat investasi senilai 14,3 miliar dolar AS. Dengan akuisisi ini, Meta pun resmi mendapatkan akses langsung ke perusahaan yang, secara diam-diam, telah menjadi tulang punggung pengembangan AI dalam beberapa waktu terakhir.

Kegemparan itu bukan hanya karena Meta akhirnya resmi berpartner dengan Scale AI, melainkan juga karena ada sebuah istilah yang digembar-gemborkan setelahnya: Super-intelligence. Penggunaan istilah tersebut mengisyaratkan bahwa Meta telah merencanakan sebuah langkah besar menuju Artificial General Intelligence (AGI), kecerdasan buatan yang mampu menandingi, bahkan mengungguli, kemampuan manusia.

Namun, benarkah demikian? Apakah Meta benar-benar sudah berencana bergerak menuju AGI atau “super-intelligence” itu hanya gimik semata? Lalu, apa yang sebetulnya Meta dapatkan dari akuisisi Scale AI ini?

Sekilas tentang Scale AI

Scale AI didirikan pada 2016 oleh seorang mahasiswa dropout bernama Alexandr Wang yang, sejak saat itu pun, sudah melihat bahwa tak lama lagi AI akan berkembang pesat. Ia yakin, tak lama lagi, perusahaan-perusahaan besar bakal membutuhkan kontraktor yang melakukan pekerjaan-pekerjaan “kotor”.

Awalnya, Scale AI “hanyalah” perusahaan rintisan (startup) yang berfokus pada pelabelan data (data labeling) untuk membantu tim pembelajaran mesin (machine learning) meningkatkan kualitas serta kuantitas set data yang mereka gunakan.

Scale AI tidak pernah mengembangkan AI sendiri. Namun, tanpa Scale AI (dan perusahaan sejenisnya), kecerdasan buatan tidak akan pernah berkembang karena dari sinilah data-data yang ada—entah itu teks, gambar, maupun video—disaring, dianotasi, dan diproses lebih lanjut untuk kemudian diserahkan kembali kepada klien.

Ceruk data itu berhasil dimanfaatkan Scale AI dengan baik. Deretan klien mereka pun makin hari makin mentereng, mulai dari OpenAI, Google, Meta, Microsoft, sampai Departemen Pertahanan AS. Bahkan, setelah AI, Scale AI juga ikut bekerja memproses data-data yang diperlukan untuk pengembangan kendaraan swakemudi.

Seiring waktu, selain jenis klien yang berkembang, layanan yang diberikan Scale AI pun mengalami diversifikasi. Mereka kini tidak cuma melayani anotasi data, melainkan juga mampu menciptakan data sintetis dengan algoritma, melakukan Reinforcement Learning (RL), memoderasi konten, bahkan terlibat dalam proyek pengawasan pertahanan.

Reinforcement Learning adalah metode untuk melatih perangkat lunak dengan menerjunkan agen AI yang bisa secara otonom menentukan benar dan salah serta melakukan perbaikan secara mandiri.

Pendek kata, Scale AI tidak menciptakan AI tetapi juga mengondisikan situasi yang membuat AI bisa dikembangkan dengan cepat, tepat, dan nyaman. Mereka adalah rantai suplai pengembangan AI global. Itulah alasan nilai perusahaan tersebut bisa mencapai miliaran dolar AS.

Ilustrasi akuisisi Scale AI oleh Meta

Ilustrasi akuisisi Scale AI oleh Meta. FOTO/iStockphoto

Sekali Dayung, Dua-Tiga Pulang Terlampaui

Bagi Meta, akuisisi saham Scale AI ini berarti tiga hal.

Pertama, Meta mendapatkan akses pada salah satu saluran anotasi data terbaik di dunia. Memang, mereka tidak akan mendapatkan akses terhadap data milik kompetitor macam Google atau OpenAI. Akan tetapi, dengan infrastruktur dan kapabilitas yang dipunyai Scale AI, Meta dapat mengembangkan set datanya—setidaknya sebagian besar dari set datanya—secara internal tanpa sepenuhnya bergantung pada pihak ketiga.

Kedua, merangkul Scale AI berarti mendapatkan talenta unggul; talenta yang tidak cuma bisa melakukan pelabelan, tetapi juga mampu “memanipulasi” set data yang tersedia untuk keperluan-keperluan yang secara teknis lebih kompleks. Wang selaku pendiri Scale AI bakal bergabung dengan divisi “super-intelligence” Meta. Dengan kata lain, Meta bukan sekadar membeli infrastruktur, tetapi juga menggaet orang-orang yang sanggup mengoperasikannya.

Terakhir, langkah akuisisi Scale AI adalah jalan untuk menyingkirkan kompetitor. Pasalnya, pasca-akuisisi, klien-klien terbesar Scale AI langsung memutuskan untuk balik kanan, termasuk Google, xAI, serta Microsoft. Meski di atas kertas Meta tidak akan mendapat akses kepada data milik klien-klien tersebut, mereka memastikan perusahaan-perusahaan rival itu tidak lagi memiliki akses terhadap infrastruktur dan talenta Scale AI.

Dengan mengakuisisi Scale AI, Meta telah membentuk sebuah ekosistem AI mandiri, yang bisa dikendalikan sesuai keinginan. Singkatnya, Meta telah memperkuat kontrol akan masa depan AI.

Super-Intelligence Beneran Ada?

Sepintas, “super-intelligence” memang terdengar monumental dan, mungkin, menyeramkan. Akan tetapi, konsep itu masih ada pada tahap teoretis. Sehebat apa pun Meta dan Scale AI digabungkan, mereka belum memiliki kapabilitas untuk menciptakan kecerdasan yang menyamai atau mengungguli manusia.

Namun, pemilihan istilah “super-intelligence” ini memang punya tujuan spesifik. Targetnya ada tiga: menggaet kepercayaan investor, memantik peneliti AI yang mungkin akan meneliti lebih jauh kemungkinan menciptakan AGI sungguhan, dan mengedukasi masyarakat luas tentang “super-intelligence” dengan bahasa yang seakan-akan hal itu riil dan dapat dieksekusi.

Meski demikian, seperti yang sudah disampaikan pada bagian sebelumnya, super-intelligence ala Meta dan Scale AI sebenarnya adalah istilah yang merujuk pada penggabungan dua pemain besar dalam dunia kecerdasan buatan sehingga membentuk satu entitas berkekuatan "super".

Super-intelligence yang sesungguhnya, setidaknya untuk sekarang, bagi Meta dan Scale AI berarti optimalisasi model LLaMa, ekspansi infrastruktur komputasi, perbaikan saluran data, dan rekrutmen talenta.

Nasib Ekosistem di Luar Ekosistem

Di luar pemain-pemain besar, ada banyak sekali entitas-entitas kecil di ranah AI. Selama bertahun-tahun, perusahaan seperti Meta dan Google telah menggunakan jasa banyak vendor kecil seperti Sama, Appen, iMerit, Tech Mahindra, CrowdGen, dan lain-lain. Vendor-vendor kecil ini, meskipun sebenarnya tidak bisa dibilang perusahaan kecil juga, umumnya memberikan jasa serupa dengan yang Scale AI sediakan.

Ilustrasi akuisisi Scale AI oleh Meta

Ilustrasi akuisisi Scale AI oleh Meta. FOTO/iStockphoto

Lalu, jika Meta memutuskan untuk menciptakan ekosistem mandirinya sendiri, bagaimana nasib vendor-vendor yang sebelumnya bekerja sama dengan Meta?

Sepintas, ini memang terlihat membahayakan ekosistem pendukung yang ada di luaran ekosistem inti AI. Akan tetapi, ada alasan mengapa sejak awal perusahaan seperti Meta menyerahkan sebagian set datanya kepada vendor-vendor kecil, bukan kepada aktor mayor macam Scale AI.

Biasanya, vendor-vendor kecil masih menggunakan tenaga manusia dan memiliki fokus spesifik, biasanya soal bahasa. Vendor-vendor inilah yang kemudian merekrut anotator, penulis, moderator, serta penilai yang menjadi ujung tombak sesungguhnya dari pengembangan AI. Mereka bergelut dengan data yang seakan-akan tak ada habisnya sehingga mesin besar AI dapat terus berjalan mulus.

Soal kualitas, orang-orang yang direkrut oleh vendor-vendor kecil memang bukan selalu yang terbaik. Namun, mereka bisa menyediakan orang lebih banyak, dengan bayaran lebih rendah, untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan membosankan dan, terkadang, tidak memberi nilai tambah apa pun pada pelakunya selain soal finansial.

Akuisisi Scale AI memang terlihat mengancam, tetapi sebenarnya industri “remah-remah” bisa jadi justru tidak akan tersentuh secara langsung karena lingkup kerja, kualitas pekerjaan, dan spesifikasi yang ditawarkan, tidaklah sama.

Menuju Era Oligopoli?

Aspek yang paling luar biasa dari investasi Meta senilai $14,3 miliar di Scale AI bukanlah uangnya, juga bukan infrastrukturnya, melainkan seberapa efektif perusahaan ini menggunakan narasi untuk menjustifikasi konsolidasi.

Akuisisi perusahaan raksasa semacam ini bukanlah yang pertama. Meta sudah melakukannya dengan WhatsApp dan Instagram. Google mempraktikkan hal serupa kepada YouTube. Tujuannya selalu sama: menciptakan ekosistem tertutup untuk mengontrol segalanya, mulai dari data sampai talenta.

Kini, di jagat AI, langkah serupa juga dilakukan. Laboratorium dan vendor yang tadinya bertebaran di mana-mana berakhir dalam satu payung. Hal yang dilakukan Meta pun sudah dilakukan oleh para kompetitor lain, termasuk Amazon, meskipun memang, harus diakui, dengungnya tidak semasif akuisisi Scale AI. Apple, yang bisa dibilang tertinggal dalam perlombaan AI, juga telah memikirkan langkah serupa.

Pada akhirnya, oligopoli pun akan tercipta, yakni situasi ketika struktur pasar hanya menampung sedikit perusahaan yang menguasai sebagian besar pangsa produk atau jasa. Pertanyaannya bukan lagi apakah ini akan terjadi? melainkan kapan terjadi?.

Ketika oligopoli tercipta, oligarki secara otomatis bakal terbentuk. Di sinilah permainan sesungguhnya dimulai. Di permukaan, semua terlihat seperti perlombaan terobosan. Padahal, di dalam, segalanya soal siapa yang mengontrol moda produksi. Dan, siapa yang mengontrol moda produksi sudah pasti akan mengendalikan hal-hal yang dihasilkan dan disampaikan kepada publik.

Implikasinya jauh lebih luas dari sekadar urusan teknis. Semuanya bakal melebar ke persoalan ekonomi, sosial, dan tentu saja politik. Ketika oligopoli terbentuk secara penuh, ketika pemain-pemain mayor lain menggiring vendor-vendor kecil masuk dalam payung perusahaan induknya, masa depan manusia akan ditulis oleh sebagian kecil orang yang, bisa jadi, punya niat tidak baik untuk kemaslahatan bersama.

Dengan begini, sebuah pertanyaan baru pun bisa diajukan. Sebenarnya, yang artifisial dari kecerdasan artifisial itu adalah kecerdasannya atau iktikad yang dikoar-koarkan oleh para pemain besar dalam industri ini?

Baca juga artikel terkait KECERDASAN BUATAN atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin