Air Mata dan Dugaan Plagiat Lagu Indonesia Raya

Oleh: Alexander Haryanto - 6 Juli 2017
Dibaca Normal 4 menit
WR Supratman, sang pencipta lagu 'Indonesia Raya', memang sangat yakin bahwa untuk dapat menciptakan lagu kebangsaan, ia harus terlibat dan melebur ke dalam perjuangan, serta bersentuhan dengan tokoh-tokoh pergerakan.
tirto.id - Farida Hariani bersama 74 Tenaga Kerja Indonesia yang dideportasi pemerintah Kerajaan Malaysia menangis haru saat menyanyikan lagu kebangsaan 'Indonesia Raya' di Terminal Pelabuhan Tunon Taka Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

"Saya sangat tersentuh dan terharu saat menyanyikan lagu 'Indonesia Raya' karena baru kali ini lagi menyanyikan dan mendengarkannya. Tidak terasa air mata saya berjatuhan karena ingat kembali Tanah Air Indonesia yang selama ini tidak pernah lagi terdengar," ujarnya kepada Antara, September 2015.

Farida berkata ia sangat tergugah sehingga tak kuasa menahan tangis lantaran mengenang negara yang telah puluhan tahun ditinggalkannya bekerja di Negeri Sabah, Malaysia.

Farida bukan satu-satunya. Seorang pengikut Gafatar, Edi Supriyanto, juga berkali-kali mengusap air mata saat menyanyikan lagu 'Indonesia Raya' sebelum "dipulangkan" ke daerah asalnya. Edi menangis lantaran sedih melihat kondisi Indonesia.

Hal sama tergambar pula ketika tim kesenian Indonesia membawakan lagu 'Indonesia Raya' pada pembukaan festival "Aberdeen International Youth Festival" (AIYF) di Skotlandia. Sang konduktor, Irma Noerhaty, tak kuasa menahan air matanya. Tangis pun pecah. Ia terbawa haru ke dalam lagu itu.

Apa yang dialami Irma, Edi, dan Farida cukup membuktikan bahwa lagu 'Indonesia Raya' memiliki spirit yang mampu menggugah perasaan pendengarnya. Lagu 'Indonesia Raya' mampu membuat pendengarnya terharu dan menitikkan air mata. Lantas, hal apa yang membuat lagu tersebut sedemikian memiliki nyawa?

W.R. Supratman dan Indonesia Raya

St. Sularto dalam “Wage Rudolf Supratman Menunggu Pelurusan Fakta Sejarah” di Majalah Prisma edisi 5 Mei 1983 menulis, WR Supratman, sang pencipta lagu 'Indonesia Raya', memang sangat yakin bahwa untuk dapat menciptakan lagu kebangsaan, ia harus terlibat dan melebur ke dalam perjuangan, serta bersentuhan dengan tokoh-tokoh pergerakan.

Supratman mengalami transformasi dalam hidupnya. Ia yang semula sering berkencan dan berfoya-foya bersama sinyo-sinyo Belanda karena ketenarannya sebagai pemain biola Black White Jazz Band, berubah menjadi sosok yang tertarik dalam bidang politik. Ia pun gemar mengikuti pelbagai pidato dan bacaan politik, terutama koran Pemberita Makasar.

Hasratnya menciptakan lagu kebangsaan mulai tumbuh. Konsep lagu mulai dibuat. Sayang, meski sudah berjam-jam mengerjakannya, konsep lagu tak kunjung selesai. Sampai akhirnya ia sadar bahwa untuk bisa menciptakan lagu kebangsaan, ia harus melibatkan diri di dalam perjuangan. Lagu kebangsaan mustahil dibuat tanpa bersentuhan dengan tokoh-tokoh pergerakan.

Berbekal sebuah biola, ia merantau ke tanah Pulau Jawa. Tujuannya ke Bandung, pusat pergerakan tokoh-tokoh muda. Namun, ketika memasuki kota Surabaya, ia segera memutuskan tinggal sementara. Supratman kemudian bergaul akrab dengan anggota Kelompok Studi Indonesia dan terpengaruh dengan semangat kemerdekaan para tokohnya.

Akhir 1924, ia pergi menuju Cihami. Di sana ia sangat mengagumi koran Kaoem Moeda, yang membuatnya tertarik menjadi reporter. Sambil menunggu lamarannya di Kaoem Moeda, Supratman mengikuti kursus kader politik Kelompok Studi Umum yang didirikan oleh Sukarno. Cita-citanya terpenuhi. Supratman diterima sebagai reporter Kaoem Moeda.

Kariernya di Kaoem Moeda tak berlangsung lama. Gaji yang diterimanya tak cukup buat biaya hidup. Ia memutuskan hijrah ke Biro Pers Alpena (Algemene Pers Niews Agency) sebagai reporter dan editor. Pekerjaannya di Alpena tak berlangsung lama. Kondisi ekonomi perusahaan yang seret membuatnya harus hengkang.

Ia lantas bergabung di surat kabar Sin Po. Di sini, kehidupannya jauh lebih membaik. Keuntungan lain: ia bisa dekat dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti M. Tabrani, Sugondo Djojopuspito, dan Sumarso.

Supratman mendapat penugasan untuk meliput Kongres Pemuda Indonesia Pertama pada 30 April–2 Mei 1926. Dari sinilah keinginannya untuk membuat lagu perjuangan kembali muncul, terutama setelah mendengarkan pidato tokoh-tokoh muda seperti M. Tabrani, Sumarno, Sumarto, Paul Pinontoan, dan Bahder Djohan.

Supratman bahkan mengakui hal itu secara langsung kepada M. Tabrani. Ia berkata: “Mas Tabrani, saya terharu kepada semua pidato yang diucapkan dalam Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Terutama Pidato Mas Tabrani dan Sumarto. Cita-cita satu nusa, satu bangsa yang digelari Indonesia Raya itu saya akan buat. Namanya Indonesia Raya.”

Selesai kongres, Supratman membuat konsep lagu kebangsaan yang ditulisnya dalam not balok dan not angka, terdiri dari tiga kuplet dengan bait ulangan dan irama lagu 6/8. Lagu ini selesai dengan judul 'Indonesia Raya'.

Menjelang Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, di Batavia, ia kembali ditugaskan untuk meliput. Kali ini keinginannya tak cuma menulis berita, tetapi ingin membawakan lagu 'Indonesia Raya'. Atas inisiatifnya sendiri, ia menyebarkan salinan lagu itu kepada para pimpinan organisasi pemuda. Gayung bersambut. Lagu tersebut mendapat sambutan hangat.

Sugondo, yang waktu itu memimpin Kongres Pemuda Indonesia Kedua, awalnya mengizinkan Supratman membawakan lagu tersebut pada jam istirahat. Namun, ketika Sugondo membaca lebih teliti lirik lagu itu, ia menjadi ragu. Ia takut pemerintah memboikot acara Kongres. Akhirnya Sugondo meminta Supratman membawakan lagu tersebut dengan instrumen biola saja.

Ketika jam istirahat tiba, Supratman maju, membawakan lagu 'Indonesia Raya' versi instumental. Semua peserta kongres tercengang. Mereka terharu mendengar gesekan biolanya. Itulah kali pertama lagu 'Indonesia Raya' berkumandang.

Lagu itu kembali berkumandang di akhir bulan Desember 1928 saat pembubaran panitia kongres kedua. Pada kesempatan itu, untuk kali pertama, lagu tersebut dinyanyikan dengan iringan paduan suara. Ketiga kalinya, lagu 'Indonesia Raya' dinyanyikan saat pembukaan Kongres PNI 18-20 Desember 1929. Para peserta berdiri dan bernyanyi mengikuti kur dan iringan biola Supratman sebagai tanda penghormatan kepada Indonesia Raya.

Lagu 'Indonesia Raya' semakin populer. Ini membuat resah pihak Belanda. Mereka takut jika lagu tersebut mampu membangkitkan semangat kemerdekaan. Karena itu, pada 1930, lagu itu dilarang dan tak boleh dinyanyikan dalam kesempatan apa pun, Alasan pemerintah kolonial: lagu tersebut dapat "mengganggu ketertiban dan keamanan."

Selaku pencipta, Supratman tak luput dari ancaman. Ia sempat ditahan dan diinterogasi soal maksud lirik “merdeka, merdeka, merdeka”. Tetapi kekangan itu cuma sebentar. Setelah diprotes dari pelbagai kalangan, pemerintah Hindia Belanda mencabutnya dengan syarat hanya boleh dinyanyikan di ruang tertutup.

Supratman kemudian menciptakan lagu Matahari Terbit. Lagu ini membuatnya kembali merasakan tahanan pemerintah Hindia Belanda. Otoritas kolonial menafsirkan bahwa Supratman ikut memuji Dai Nippon. Berkat bantuan van Eldik, Supratman dibebaskan dari tuduhan tersebut.

Keluar dari masa tahanan, Supratman jatuh sakit. Di masa itu ia berkenalan akrab dengan kakak iparnya, Oerip Kasansengari. Supratman berkata, “Mas, nasibku sudah begini. Inilah yang disukai oleh pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saya meninggal, saya ikhlas. Saya sudah beramal, berjuang dengan caraku, dengan biolaku. Saya yakin Indonesia pasti merdeka.”

Pada 17 Agustus 1938, Supratman tutup usia setelah jatuh sakit. Jenazahnya dikebumikan di Kuburan Umum di Jalan Kejeran Surabaya, dengan jumlah pelayat tak lebih dari 40 orang.

Infografik Hikayat Indonesia raya


Supratman telah tiada. Tapi fobia terhadap lagu 'Indonesia Raya' tak kunjung reda. Maka ketika Jepang menduduki kawasan Hindia Belanda pada Maret 1942, lagu tersebut kembali dilarang. Lagu itu baru bebas dicekal di ambang kejatuhan pendudukan Jepang pada medio 1945.

Lagu 'Indonesia Raya' kembali bergema setelah Sukarno membacakan teks Proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945.

Sebagai bentuk penghormatan, pada 16 November 1948, dibentuklah Panitia Indonesia Raya. Hasilnya adalah Peraturan Pemerintah RI tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya pada 26 Juni 1958. Peraturan yang berisikan 6 bab ini mengatur tata tertib dalam penggunaan lagu 'Indonesia Raya' dilengkapi pasal-pasal penjelasan.

Tentang penting dan nilai luhur 'Indonesia Raya', Presiden Sukarno pernah mengatakan “... Setia kepada Indonesia Raya, setia kepada lagu Indonesia Raya yang telah kita ikrarkan bukan saja menjadi lagu perjuangan, tetapi menjadi lagu kebangsaan. Bukan saja lagu kebangsaan, tetapi pula menjadi lagu Negara kita. Permintaan batin kita ialah Allah S.W.T. menjadikan lagu Indonesia menjadi lagu Kebangsaan, lagu bangsa kita sampai akhir zaman pula. Jangan ada sesuatu golongan memilih lagu baru, setialah kepada lagu Indonesia Raya, setialah kepada Pancasila.”

Dugaan Plagiat

Meskipun lagu 'Indonesia Raya' telah melewati serangkaian peristiwa bersejarah, seniman Remy Sylado mengatakan bahwa lagu tersebut menjiplak dari lagu Lekka Lekka Pinda Pinda. Hal tersebut tertuang dalam Buku Pintar Politik: Sejarah, Pemerintahan, dan Ketatanegaraan yang disusun oleh Redaksi Great Publisher.

Sylado menyampaikannya saat Festival Film Indonesia (FFI) 2006. Ia mengatakan bahwa lagu 'Lekka Lekka' telah diciptakan sekitar tahun 1600-an. Ia juga pernah menuliskan dugaan tersebut di harian Kompas pada 1990-an.

Namun, dugaaan Remy dibantah oleh pengamat musik Kaye A Solapung yang menuliskannya juga di Kompas. Menurut Solapung, Remy hanya mengulang tuduhan Amir Pasaribu pada 1950-an. Solapung membedah lagu tersebut dan mengatakan lagu 'Lekka Lekka' tidak sama dengan lagu 'Indonesia Raya' dan hanya memiliki persamaan delapan ketuk, begitu juga dengan penggunaan kord yang jelas berbeda. Ia menyimpulkan lagu tersebut bukanlah jiplakan.

=========

Naskah kali pertama dipublikasikan pada 18 Agustus 2016. Dimutakhirkan ulang karena relevan dengan topik laporan mendalam soal Indonesia Raya tiga stanza

Baca juga artikel terkait LAGU INDONESIA RAYA atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Musik)

Reporter: Alexander Haryanto
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight