Menuju konten utama

AI Jadi Tameng: Perusahaan Lebih Cepat Tanggapi Ancaman Data

AI dapat digunakan untuk membantu tim IT memilih satu dari jutaan log yang memberi sinyal indikasi pelanggaran data sejak dini dalam sistem mereka.

AI Jadi Tameng: Perusahaan Lebih Cepat Tanggapi Ancaman Data
Francis deSouza, Chief Operating Officer, Google Cloud. Foto/ Google Cloud
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perusahaan di Indonesia makin giat menggunakan teknologi cloud di tengah transformasi digital yang cepat. Berbagai industri, mulai dari retail hingga media, telah memanfaatkan cloud untuk mendukung operasional sehari-hari.

Meski penggunaan teknologi cloud makin marak, ada satu pertanyaan penting yang kerap diajukan: seberapa aman data yang disimpan di sana?

Francis deSouza, Chief Operating Officer Google Cloud, mengamini jika isu ini hampir selalu muncul saat berbincang dengan pelanggan di Indonesia. Kekhawatiran ini makin relevan karena Peraturan Pemerintah (PP) No. 71 Tahun 2019 yang mewajibkan beberapa jenis data disimpan di pusat data lokal.

“Sejak awal percakapan, privasi dan keamanan data jadi topik penting,” ujarnya dalam acara Google Cloud: Let’s Talk Cloud 2025, di Singapura (27/8).

Untuk menjawab keresahan tersebut, deSouza berkata bahwa Google Cloud telah menggelontorkan investasi teknologi yang besar. Tujuannya memastikan data bisa disimpan sesuai batas geografis suatu negara, sekaligus tetap aman dan mendapat perlindungan maksimal.

AI Jadi “Tameng” Tambahan

Terkait dengan keamanan, deSouza menyampaikan bahwa keamanan data AI bukan lagi sebatas infrastruktur, tetapi juga bisa digunakan sebagai “tameng” tambahan dalam perlindungan data.

“Kami melihat perusahaan mulai menggunakan produk berbasis agen AI untuk meningkatkan operasional terkait keamanan sistem mereka,” jelasnya.

Contohnya, AI dapat digunakan untuk membantu tim IT memilih satu dari jutaan log yang memberi sinyal adanya indikasi pelanggaran data sejak dini dalam sistem mereka.

Kebutuhan ini jadi makin besar mengingat masalah keamanan bisa terjadi kapan saja. Pusat operasi keamanan bisa menerima ribuan peringatan. Ribuan notifikasi bahkan bisa muncul setiap hari.

Kondisi tersebut bisa memicu masalah baru: bagaimana prioritisasi isu yang perlu ditangani lebih dulu. Dari kondisi itu, penggunaan AI bisa dimanfaatkan sebagai tameng tambahan untuk mengatasinya.

Salah satu AI yang bisa digunakan ialah Teknologi AI For Security di Google Cloud. Alat ini dapat menganalisis data dalam jumlah besar, untuk kemudian mencari pola anomali yang terjadi, lalu membuat peringkat ancaman berdasarkan tingkat kritisnya.

“Dalam situasi pelanggaran data, menit dan jam sangat berarti,” tegas deSouza.

Dengan bantuan AI, alur mitigasi terjadinya insiden bisa diotomatisasi. Hasilnya, respons pun bisa lebih cepat dan dampak negatif bisa ditekan. Dengan begitu Tim IT bisa lebih fokus untuk menangani kasus lain yang benar-benar genting.

Baca juga artikel terkait CLOUD atau tulisan lainnya dari Nanda Saputri

tirto.id - Byte
Penulis: Nanda Saputri
Editor: Nuran Wibisono