Menuju konten utama

Agar Murid Tidak Takut Matematika, Ubahlah Cara Mengajar

Tujuan besar pendidikan kita bukan hanya mencetak anak yang pandai menghitung, melainkan membantu mereka tumbuh menjadi manusia mandiri.

Agar Murid Tidak Takut Matematika, Ubahlah Cara Mengajar
Header Perspektif Sri Adi Widodo dan Amar Nugraha. tirto.id/Ecun
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Matematika seringkali ditakuti, bahkan memicu trauma akut bagi sebagian murid. Pertanyaannya, apakah matematika memang sulit, atau cara mengajarkannya yang keliru?

Hal ini krusial dalam penguatan numerasi, yang bukan sekadar menghitung, melainkan bernalar dan memecahkan masalah sehari-hari. Jika hasil belajar rendah, kita perlu mengevaluasi proses pembelajarannya secara mendalam.

Setahun perjalanan Gerakan Numerasi Nasional yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 19 Agustus 2025 lalu, melalui program Matematika GEMBIRA telah membuktikan dampak empiris dan ilmiah yang kuat dalam memperkuat kemampuan dasar numerasi siswa di Indonesia. Berbasis data dan praktik baik, inisiatif ini dirancang untuk mendesain pembelajaran yang lebih tepat sasaran guna mengatasi momok matematika yang sering kali dianggap sulit oleh murid.

Landasan empiris ini diperkuat oleh penelitian nasional terhadap 885 guru PAUD dan SD dari 38 provinsi. Hasil analisis Structural Equation Modeling (SEM) membuktikan adanya hubungan positif dan signifikan antara pengetahuan pedagogik matematika dapat meningkatkan kemampuan numerasi guru yang dapat memperkuat penerapan pembelajaran matematika secara konseptual. Kemampuan numerasi guru terbukti menjadi jembatan penting yang memediasi hubungan tersebut.

Jangan Berhenti pada Angka

Data hasil belajar sebenarnya dapat menjadi pintu masuk untuk memperbaiki pendidikan. Sayangnya, data sering kali berhenti sebagai angka dalam laporan. Misalkan nilai 60, 70, atau 80 memang memberikan informasi tentang capaian siswa pada pembelajaran matematika. Namun, angka tersebut sebenarnya belum menjelaskan mengapa seorang anak mengalami kesulitan pada pembelajaran matematika. Apakah mereka belum memahami konsep? Apakah mereka kesulitan dalam membaca soal? Apakah mereka tidak mampu menghubungkan matematika dengan konteks kehidupan sehari-hari? Atau mungkin strategi pembelajaran yang digunakan belum sesuai dengan kebutuhan mereka?

Di sinilah pentingnya pembelajaran matematika berbasis data. Data seharusnya tidak hanya digunakan untuk memberi label kepada siswa sebagai pandai atau kurang pandai. Data seyogyanya dapat digunakan untuk membantu guru untuk menjawab pertanyaan yang lebih penting: apa yang harus dilakukan selanjutnya? Sehingga data yang diperoleh setelah pembelajaran tidak berakhir pada justifikasi berhasil atau gagal, pintar atau kurang pintar. Hal ini dikarenakan data yang diperoleh tersebut dapat menjadi pintu awal untuk melakukan perbaikan pembelajaran.

Perubahan pembelajaran matematika menuntut guru tidak sekadar menguasai rumus, melainkan memahami proses berpikir siswa. Kesalahan siswa bukan sekadar hal yang harus disalahkan, melainkan informasi berharga mengenai pemahaman konsep, strategi, serta hambatan belajar yang mereka alami seperti ketika menjawab soal desimal secara mekanis tanpa memahami makna nilainya.

Informasi dari kesalahan tersebut membantu guru menentukan respons pedagogis yang tepat melalui pertanyaan pemantik, scaffolding, atau perancangan pengalaman belajar yang bermakna. Untuk mewujudkannya, guru membutuhkan pengetahuan matematika, kemampuan pedagogis, serta kemauan kuat untuk terus merefleksikan praktiknya. Guru yang baik adalah mereka yang menjadikan setiap kesulitan belajar sebagai kesempatan untuk memahami murid, memperbaiki pengajaran, dan terus bertumbuh.

Semangat inilah yang tercermin dari perjalanan salah satu guru di lapangan, yang justru menemukan cara mengajar matematika yang menyenangkan dari keterbatasan yang dihadapinya.

Menghidupkan Kolaborasi Guru dari Kebijakan ke Ruang Kelas

Guru memegang peran sentral dalam menghadirkan pembelajaran numerasi yang berkualitas guna mendongkrak capaian numerasi murid. Namun, temuan kajian Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP) tahun 2025 mengungkapkan realitas yang patut menjadi perhatian bersama: rendahnya kompetensi guru, khususnya pada aspek content knowledge (CK) atau penguasaan materi dan pedagogical content knowledge (PCK) yakni cara mengajarkan materi tersebut kepada anak didik. Akibat keterbatasan ini, pengajaran numerasi di kelas sering kali berjalan kurang optimal.

Berlandaskan UU No. 14 Tahun 2005, guru wajib menjalankan pengembangan kompetensi berkelanjutan (PKB). Komitmen ini kini diperkuat lewat Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tentang Hari Belajar Guru.

Kebijakan ini mewajibkan sekolah menjadwalkan hari belajar khusus sekali seminggu melalui KKG, MGMP, KKKS, atau MKKS, dengan dukungan fleksibel dari dana BOS atau BOP. Namun, regulasi ini baru akan berdampak nyata jika dihidupkan oleh kesadaran kultural para pendidik di ruang-ruang kelas kita.

Perubahan pembelajaran bermula dari langkah kecil seorang guru dengan mencoba strategi baru, menganalisis respons siswa, lalu membagikannya kepada rekan sejawat. Praktik baik ini tak boleh berhenti di ruang kelas sendiri. Melalui KKG atau MGMP yang kini memiliki alokasi waktu mingguan, pengalaman sukses tersebut dapat didiskusikan dan diadaptasi oleh guru lain.

Sekolah harus bertransformasi menjadi ruang organik bagi para pendidik untuk saling belajar. Dengan demikian, peningkatan mutu tidak lagi bergantung pada pelatihan insidental, melainkan menjadi proses berkelanjutan yang hidup melalui praktik, refleksi, kolaborasi, dan perbaikan tiada henti.

Agar gerakan bersama ini efektif, diperlukan ekosistem kepemimpinan dan pengawasan yang sehat. Supervisi pembelajaran harus dilepaskan dari stigma mencari kesalahan, dan diposisikan sebagai sarana reflektif untuk memetakan kendala serta dukungan yang dibutuhkan guru.

Ketika hasil observasi dipadukan dengan data belajar siswa dan refleksi mandiri, sekolah dapat memberikan umpan balik konstruktif, memetakan kebutuhan kompetensi, dan menghadirkan pendampingan pengawas yang tepat sasaran. Pada akhirnya, seluruh kolaborasi ini bermuara pada pengalaman belajar yang relevan bagi peserta didik.

Dengan memadukan alokasi waktu belajar mingguan, semangat berbagi, dan tradisi supervisi yang suportif, budaya belajar guru bertransformasi menjadi gerakan kebudayaan yang konsisten mendongkrak kualitas pembelajaran di seluruh penjuru negeri.

Mengubah Cara Pandang

Pada akhirnya, tantangan pembelajaran matematika bukan hanya persoalan kemampuan menghitung. Kita perlu mengubah cara pandang bahwa matematika adalah kumpulan rumus yang harus dihafalkan. Matematika perlu hadir sebagai cara berpikir dan alat untuk memahami kehidupan. Ketika anak menghitung uang belanja, membandingkan harga, membaca grafik, memperkirakan jarak, memahami ukuran, atau mempertimbangkan informasi dalam sebuah tabel, sesungguhnya ia sedang menggunakan matematika.

Karena itu, pembelajaran matematika perlu semakin dekat dengan kehidupan nyata. Anak perlu diberi kesempatan untuk bertanya, mencoba, membuat dugaan, menjelaskan alasan, menemukan strategi, berdiskusi, bahkan melakukan kesalahan. Dari proses itulah kemampuan bernalar dan memecahkan masalah berkembang.

Menyalakan Nalar Gerakan Numerasi dari Kelas

Penguatan kompetensi pedagogi konvensional saja tidaklah cukup; ia harus ditopang dengan peningkatan kapasitas CK dan PCK yang mendalam. Temuan tersebut menggarisbawahi urgensi dilakukannya asesmen kompetensi guru secara terarah untuk memetakan sasaran program peningkatan kapasitas.

Kita membutuhkan model pelatihan spesifik yang secara tajam mendongkrak kemampuan CK dan PCK guru, melengkapi berbagai pelatihan pedagogi umum yang selama ini masif dilakukan. Lebih dari itu, peningkatan kapasitas berkelanjutan ini perlu dihidupkan secara mandiri oleh guru-guru terlatih melalui optimalisasi implementasi hari belajar guru di setiap ruang kelas pembelajaran.

Melalui aktivitas bincang numerasi secara rutin dan pembelajaran kontekstual adalah kombinasi antara peta kompetensi yang objektif dan penguatan kapasitas substansial ini menemukan ruhnya ketika guru mulai membiasakan diri bekerja secara empiris di ruang-ruang kelas.

Kita tentu tidak membutuhkan lebih banyak angka jika angka-angka asesmen tersebut hanya berakhir sebagai tumpukan laporan birokratis. Yang kita butuhkan adalah kemampuan mengubah angka menjadi informasi, informasi menjadi pemahaman, dan pemahaman menjadi tindakan nyata. Makna dari sebuah data bukan terletak pada seberapa banyak statistik yang kita kumpulkan, melainkan pada seberapa jauh data tersebut membantu kita membaca persoalan, mengambil keputusan strategis, dan merancang perbaikan pembelajaran di kelas.

Inilah esensi utama dari pembelajaran berbasis data. Ketika seorang guru membaca data hasil belajar muridnya, menemukan celah persoalan numerasi, mencoba strategi baru yang berbasis penguasaan materi yang matang, mengevaluasi hasilnya, lalu memperbaikinya, di sanalah perubahan pendidikan yang sesungguhnya terjadi.

Perubahan tidak selalu harus menunggu instruksi atau kebijakan besar dari atas. Perubahan dapat dimulai dari ruang kelas yang paling sunyi, dari seorang guru, bermula dari satu pertanyaan sederhana:

“Apa yang dapat saya lakukan agar anak-anak saya lebih memahami konsep matematika dan numerasi ini?”

Jika pertanyaan reflektif itu terus hidup di ruang-ruang KKG, MGMP, maupun ruang kelas kita sehari-hari, wajah pembelajaran matematika perlahan akan bergeser total.

Matematika tidak lagi diperlakukan sekadar sebagai hafalan rumus atau rutinitas mengejar jawaban akhir yang benar. Lebih dari itu, matematika bertransformasi menjadi sarana esensial bagi anak untuk belajar berpikir kritis, bernalar logis, memecahkan masalah kompleks, dan mengambil keputusan dalam keseharian. Dan pada akhirnya, tujuan besar pendidikan kita bukanlah sekadar mencetak anak-anak yang pandai menghitung, melainkan membantu mereka tumbuh menjadi manusia mandiri yang mampu menggunakan nalar numerasinya untuk memahami dan menavigasi tantangan kehidupan. []

Sri Adi Widodo adalah pengajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.

Amar Nugraha adalah ASN di Direkorat Guru Pendidikan Dasar, Kemendikdasmen.

Baca juga artikel terkait OPINI atau tulisan lainnya dari Sri Adi Widodo & Amar Nugraha

tirto.id - Kolumnis
Penulis: Sri Adi Widodo & Amar Nugraha
Editor: Nuran Wibisono