Menuju konten utama

Pigai Pasang Badan Luruskan Sindiran Prabowo ke Kelompok Pakar

Menurut Pigai, Prabowo khusus menyentil kelompok pakar yang sebenarnya adalah partisan partai dan influencer.

Pigai Pasang Badan Luruskan Sindiran Prabowo ke Kelompok Pakar
Menteri Hak Asasi Manusia (MenHAM) Natalius Pigai meluruskan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sempat melontarkan sindiran terhadap kelompok “pakar” di Gedung KemenHAM, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Hak Asasi Manusia (MenHAM), Natalius Pigai, pasang badan meluruskan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang sempat melontarkan sindiran terhadap kelompok “pakar”.

Menurut Pigai, Prabowo tidak menggeneralisasi seluruh akademisi atau ilmuwan dalam pernyataannya itu, melainkan khusus menyentil pakar yang sebenarnya adalah partisan partai dan influencer.

“Status mereka disebut pakar. Ada pengamat, anggota partai politik, birokrasi, aktivis, partisan, buzzer, influencer, partisan kelompok pendukung partai A, partai B, atau kelompok politik A, politik B, tetapi mengklaim diri mereka itu adalah pakar,” ujar Pigai, di Gedung KemenHAM, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Ia menyentil kebiasaan sejumlah pihak yang saat diwawancarai di stasiun televisi atau sinar dilabeli sebagai pakar—seperti pakar hukum tata negara—padahal sejatinya mereka bertindak sebagai kelompok pendukung, partisan, hingga haters.

Menurut Pigai, dengan begitu, keaslian kepakaran mereka sirna karena terdistorsi oleh kepentingan politik tertentu.

“Pakar-pakar yang berasal dari oposisi yang benci kepada pemerintah, itulah yang dimaksud dengan kelompok-kelompok post-truth yang ramai-ramai hidup dalam kebohongan dan menenggelamkan kebenaran,” katanya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto, dalam pidatonya di peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9/2026), menyinggung adanya kritik dari kelompok yang menyebut diri pakar, namun dinilainya telah bergeser menjadi fitnah.

“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya jadi goblok,” ujar Prabowo dalam pidatonya kala itu.

Prabowo mengaitkan tudingan fitnah tersebut dengan ajaran agama di hadapan kader PAN.

“Kalau tidak salah ada hadis yang bunyinya fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Surat Al-Baqarah ayat 191. Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,” tutur Prabowo.

Apa yang disampaikan Pigai ini sekaligus merespons tanggapan mantan Menko Polhukam, Mahfud MD, yang menilai kritik Presiden Prabowo berlebihan terhadap kaum intelektual.

Menurut Pigai, Mahfud telah keliru dalam memahami konteks pidato Presiden Prabowo pada Peringatan HUT ke-28 PAN tersebut.

“Salah satu yang menggeneralisir siapa? Ya Profesor Doktor Mahfud MD. Seakan-akan (Presiden) mewakili kritik terhadap seluruh kelompok pakar. Itu salah, Pak Mahfud," ujar Pigai.

Ia menekankan bahwa Presiden Prabowo sangat menghormati ilmuwan dan akademisi. Bahkan, banyak jajaran menteri dan penasihat di kabinet saat ini berlatar belakang akademisi dan tenaga pengajar.

“Yang dikritik Presiden adalah pakar post-truth, yang membungkam kebenaran demi kepentingan partisan. Jadi tolong dipahami, jangan digiring seolah-olah seluruh ilmuwan diserang,” tegasnya.

Mengutip buku “The Death of Expertise” karya Tom Nichols, Pigai menyebut fenomena matinya kepakaran ditandai dengan upaya sistematis membungkam kebenaran objektif dan hidup dalam narasi kebohongan (post-truth).

Dalam kesempatan tersebut, Pigai juga mengimbau para kelompok kritis untuk bersikap adil dan proporsional dalam menilai kinerja pemerintah. Ia meminta kalangan pakar tidak hanya menebar pesimisme.

“Kalau ada kekurangan dalam manajemen pengelolaan, silakan dikritisi, itu tidak masalah. Tetapi jika ada niat tulus dan program unggulan untuk rakyat banyak, tempatkanlah penilaian itu secara adil dan jujur. Itulah yang dinamakan kejujuran intelektual,” pungkas Pigai.

Baca juga artikel terkait PRABOWO SUBIANTO atau tulisan lainnya dari Khizbulloh Huda

tirto.id - Flash News
Reporter: Khizbulloh Huda
Penulis: Khizbulloh Huda
Editor: Bayu Septianto