tirto.id - Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, bilang partainya tak kekurangan kader terbaik untuk mengisi posisi Wakil Ketua Umum di Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Pernyataan tersebut merespons disahkannya Adies Kadir sebagai hakim Mahkamah Konstitusi atas usulan DPR RI.
Sarmuji bilang, Golkar memiliki banyak stok orang yang siap mengisi jabatan strategis di internal partai.
“Oh kalau [kader] itu banyak, stoknya banyak di Golkar. Itu bisa siapa saja itu, banyak banget itu stoknya,” kata Sarmuji di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026).
Sarmuji menegaskan kekosongan posisi pimpinan partai tidak akan berpengaruh terhadap kinerja Partai Golkar. Dia menilai Golkar sudah terbiasa menghadapi dinamika pergantian kader di posisi strategis.
“Nggak lah, Golkar sudah biasa begitu tuh. Nggak ada problem kalau Golkar, kadernya banyak kalau urusan itu,” katanya.
Bahlil: Kami Wakafkan Kader Terbaik
Sebelumnya, Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, mengatakan Adies Kadir secara resmi telah mundur dari partainya. Pengunduran diri itu disahkan sebagai calon hakim Mahkamah Konstitusi usulan DPR RI, Adies adalah wakil ketua DPR dari Fraksi Golkar.
Bahlil menilai Adies adalah salah satu kader terbaik yang dimiliki Golkar. Ia rela melepas Adies dari partainya agar bisa mengabdi bagi negara sebagai hakim MK.
"Kami mewakafkan salah satu kader terbaik Partai Golkar yang dulunya adalah pimpinan DPR, namanya Pak Adies Kadir, mewakafkan ke negara untuk menjadi hakim Mahkamah Konstitusi," tutur Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Bahlil memahami bahwa MK mesti independen dari intervensi. Karenanya, klaim dia, Adies sudah lebih dulu mundur sebelum dicalonkan sebagai hakim MK.
"Sebelum diputuskan, itu sudah dilakukan pengunduran diri baik dari kepengurusan maupun keanggotaan (Golkar)," kata Bahlil.
Bahlil menyampaikan surat pengunduran diri Adies Kadir telah diterima Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar beberapa hari lalu.
"Ya beberapa hari lalulah, suratnya. Yang jelas, ketika beliau dipilih, itu sudah posisinya tidak lagi menjadi kader partai atau pengurus partai," ujarnya.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































