tirto.id - Badai Topan Super Ragasa menerjang Hong Kong pada Rabu (24/9/2025). Sejak awal pekan ini, Ragasa telah menerjang sejumlah negara lain, seperti Filipina dan Taiwan.
Setidaknya, 14 korban meninggal telah tercatat akibat badai siklon tropis ini. Sementara itu ratusan orang lainnya dinyatakan hilang. Meskipun begitu, belum ada informasi mengenai warga negara Indonesia (WNI) yang terdampak ataupun menjadi korban jiwa, sejauh ini.
Badai Topan Super Ragasa merupakan siklon tropis terkuat di dunia tahun ini. Hujan deras dan angin kencang menyertai di daerah yang dilanda Ragasa.
Hujan lebat dan angin kencang itu kemudian berakibat pada bencana turunan yang bisa terjadi. Seperti di Guangfu, Cina, bendungan alami di sana runtuh karena badai, menewaskan orang-orang.
Ragasa pada tahun ini meningkat statusnya menjadi super topan pada Senin (22/9). Badai ini tercatat memiliki kecepatan angin maksimum rata-rata 1 menit mencapai 165 mph, setara hurricane Kategori 5.
Sejauh ini, Ragasa menerjang tiga wilayah di bagian selatan, yakni Filipina, Taiwan, dan Tiongkok bagian selatan.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa dampak Ragasa di Indonesia terjadi tidak secara langsung.
Dampak yang bisa dirasakan wilayah Indonesia karena Ragasa adalah hujan berintensitas sedang hingga lebat selama pekan ini hingga 29 September mendatang.
"Memicu hujan sedang-lebat di Kalimantan, Maluku Utara, dan Papua," tulis BMKG dalam Prospek Cuaca Mingguan Periode 23-29 September 2025.
Imbauan KJRI untuk WNI terkait Topan Super Ragasa & Hotline
KJRI Hong Kong mengimbau WNI di Hong Kong dan Makau agar mematuhi protokol kedaruratan yang dikeluarkan pemerintah setempat terkait badai topan Ragasa.
Dilansir dari Antara, KJRI Hong Kong meminta WNI yang ada di Hong Kong dan Makau untuk selalu waspada serta memperhatikan perkembangan situasi serta kondisi cuaca setidaknya hingga 25 September.
Kondisi cuaca tersebut dapat diperhatikan melalui laman web Hong Kong Observatory melalui tautan https://www.hko.gov.hk.
Selain itu, KJRI Hong Kong juga menutup layanannya selama pemberlakuan sinyal T8 ke atas oleh pemerintah setempat. Sinyal tersebut merupakan kode untuk angin topan nomor 8 yang berarti topan kuat dengan angin kencang dan potensi badai.
Dengan dikeluarkannya sinyal tersebut, pemerintah setempat juga memberlakukan penutupan sejumlah layanan publik, transportasi, hingga sejumlah lini bisnis.
Oleh karena penutupan layanan tersebut, pemegang kode booking Paspor Republik Indonesia pada hari penutupan, diberikan keringanan agar dapat menggunakannya selama tujuh hari kerja berikutnya.
Menurut keterangan mereka, kini KJRI Hong Kong tengah menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah setempat guna memantau situasi dan keamanan para WNI di sana.
KJRI juga mengingatkan bahwa WNI dapat menghubungi kontak darurat Hong Kong dan Makau 999 jika terdapat keadaan darurat. WNI juga dapat menghubungi hotline KJRI Hong Kong +852 5242 2240 dan panic button KJRI Hong Kong +852 6773 0466.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id

































