tirto.id - Topan Ragasa telah menghantam pusat wilayah wisata di bagian timur Hualien, Taiwan, pada Senin (22/9). Bencana alam tersebut melanda pula berbagai wilayah lain, termasuk Cina, Hong Kong, dan Filipina.
Taiwan sudah mengalami bencana angin Topan Super Ragasa sejak Senin lalu berbarengan dengan wilayah Filipina. Mengutip laporan Reuters, bagian tepian luar topan itu kini sedang menghantam Cina dan Hong Kong.
Bencana alam Topan Ragasa Taiwan memang kerap terjadi di daerah-daerah yang telah disebutkan. Khususnya sejak pertama kali muncul, sekarang angin topan itu sudah menimbulkan korban jiwa hingga kerusakan tertentu.
Penyebab Topan Ragasa
Melansir laman Damkar Kota Serang, angin topan umumnya terjadi karena perbedaan tekanan tertentu. Bencana angin yang berputar dan bergerak cepat ini dapat memiliki diameter hingga ratusan kilometer.
Angin topan dengan kecepatan umum lebih dari 120 km sendiri kerap muncul di wilayah-wilayah beriklim tropis. Misalnya di sejumlah negara Asia Timur dan Asia Tenggara yang lokasinya jauh dari garis khatulistiwa.
Adapun Topan Ragasa memiliki kecepatan melebihi angka 195 km/jam. Menurut para ilmuwan, badai tersebut menjadi lebih kuat seiring dengan pemanasan global akibat dampak perubahan iklim.
Ragasa sebagai bencana angin topan sendiri terinspirasi penamaannya dari bahasa Filipina. Di negara berbasis bahasa Tagalog dan Spanyol itu, kata "ragasa" berarti gerakan cepat.
Update Korban dan Dampak Topan Ragasa Taiwan
Menurut Lee Kuan Ting, Anggota Pers Pemerintah Kabupaten Huailen, pada Rabu (24/9) pagi hari pukul 07.00 waktu setempat tercatat ada 14 korban. Kemudian 18 orang lainnya dinyatakan luka-luka.
Sekarang, bencana angin Topan Ragasa Taiwan telah menimbulkan korban jiwa sebanyak 30 orang. Keterangan tersebut didasarkan kepada catatan Dinas Pemadam Kebakaran Negara Taiwan.
Dikutip dari The Guardian, terdapat pula korban hilang sebanyak 124 orang karena Topan Ragasa. Mereka hilang ketika daerah Huailen, Taiwan, terkena banjir bandang, sebagai dampak dari rusaknya tanggul.
Bencana ini juga menimbulkan berbagai kerusakan fasilitas maupun pepohonan di daerah tersebut. Kemudian menyebabkan hancurnya atap bangunan hingga banyak warga yang sudah dimitigasi mengungsi.
Sejumlah aktivitas pun terpaksa diberhentikan akibat adanya Topan Ragasa. Misalnya di Cina bagian selatan, berbagai kegiatan yang sebelumnya normal ditangguhkan mulai Selasa (23/9).
Sejumlah penerbangan dari Jakarta ke Hong Kong hari ini dibatalkan karena diduga terkait Topan Ragasa. Adapun Pemerintah Hong Kong akan menutup operasionalnya selama 36 jam, hingga 25 September 2025.
Hong Kong Airport berhenti menerbangkan pesawat Cathay Pasific sejak malam kemarin. Topan Ragasa juga menyebabkan naiknya gelombang air di Guangfu (Cina). Bencana banjir tersebut muncul karena tanggul di daerah Huailen, Taiwan, jebol.
Hong Kong typhoon update lainnya adalah kenaikan gelombang air di kawasan pejalan kaki tepi laut di distrik perumahan Heng Fa Chuen, Hong Kong. Mengutip laporan AFP News, seorang reporternya telah melihat gelombang air yang mencapai ketinggian lima meter.
Tirto telah merangkum sejumlah informasi terbaru dari berbagai negara. Klik tautan di bawah ini untuk melihat berita internasional lainnya.
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Indyra Yasmin
Masuk tirto.id

































