Menuju konten utama

AC Inverter vs AC Biasa, Mana yang Lebih Boros Listrik?

Cari AC yang tidak boros listrik? Ketahui dulu perbedaan AC inverter dan AC biasa, mulai dari cara kerja hingga konsumsi listrik agar tidak salah pilih.

AC Inverter vs AC Biasa, Mana yang Lebih Boros Listrik?
Ilustrasi AC. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tahukah kamu mana yang lebih boros antara AC inverter dan AC biasa? AC inverter memang kerap dijadikan pilihan bagi mereka yang ingin mendinginkan ruangan tanpa mengeluarkan biaya listrik terlalu besar. Namun, apa benar AC inverter pasti lebih hemat dibandingkan AC biasa?

AC menjadi perangkat elektronik andalan untuk mendinginkan suhu ruangan, terutama saat cuaca sedang panas. Secara garis besar, semua jenis AC bekerja dengan prinsip yang sama dengan memanfaatnya zat refrigeran.

Saat dinyalakan, AC akan menyerap udara panas dari dalam ruangan dan mengalirkannya melewati kumparan berisi refrigeran, zat khusus yang berperan menyerap panas. Setelah panasnya menghilang dan dibuang ke luar, udara menjadi lebih sejuk dan akan dialirkan kembali ke dalam ruangan.

Perangkat AC pun hadir dalam berbagai jenis dan model, salah satunya AC inverter, yaitu jenis AC yang menggunakan teknologi inverter pada kompresornya sehingga mampu mengatur kecepatan kerja secara otomatis sesuai kebutuhan pendinginan.

AC inverter kerap direkomendasikan karena dinilai memiliki teknologi kompresor yang lebih modern. Akan tetapi, AC inverter tetap memiliki kekurangan tersendiri. Lantas, bagaimana soal listrik? Apa benar-benar lebih hemat dari AC biasa.

Cara Kerja AC Inverter dan AC Biasa

Mode dry pada AC

Ilustrasi AC. foto/istockphoto

Untuk mengetahui mana yang lebih boros listrik, kita patut memahami cara kerja masing-masing AC karena hal ini sangat berpengaruh pada efisiensi energi atau konsumsi listrik.

Baik AC inverter maupun non-inverter, keduanya menggunakan prinsip kerja yang sama, yaitu memindahkan panas dari dalam ruangan ke luar dengan memanfaatkan refrigeran. Perbedaan keduanya terletak pada bagaimana kompresor bekerja dalam mengatur suhu ruangan.

Dikutip dari situs Daikin, AC biasa (non-inverter) memiliki kompresor yang bekerja dengan sistem on-off. Artinya, kompresor akan menyala penuh saat suhu ruangan di atas target, lalu mati ketika suhu yang diinginkan sudah tercapai.

Namun, walau suhu yang diinginkan sudah tercapai dan kompresor berhenti bekerja, suhu ruangan pasti akan perlahan naik seiring waktu.

Guna mengembalikan kesejukan, kompresor AC akan menyala lagi dengan daya penuh, lalu kembali mati setelah suhu yang diinginkan tercapai. Siklus kompresor yang on-off ini pun akan terus berulang sehingga udara dalam ruangan tetap terasa dingin.

Ilustrasi Air conditioner

Ilustrasi Air conditioner. foto/istockphoto

Sebaliknya, AC inverter tidak menerapkan sistem on-off, tapi menggunakan teknologi yang memungkinkan kompresor tetap menyala, tapi dengan kecepatan yang berubah-ubah. Alih-alih mati total, kompresor akan menurunkan atau menaikkan kecepatannya sesuai kebutuhan.

Jika dianalogikan sebagai pelari, AC inverter adalah pelari yang mampu menjaga ritme lari secara stabil dan menyesuaikan kecepatan sesuai kondisi. Ketika medan terasa ringan, cukup berlari santai, tapi saat dibutuhkan tenaga lebih, ia akan mempercepat langkahnya.

Sebaliknya, AC non-inverter ibarat pelari yang bolak-balik melakukan sprint. Ia berlari kencang, lalu berhenti total untuk beristirahat, kemudian berlari kencang lagi dari awal. Pola ini membuat tenaga cepat terkuras karena harus mengeluarkan energi besar setiap kali mulai berlari.

AC Inverter vs AC Biasa, Mana yang Lebih Boros Listrik?

Mode dry pada AC

Ilustrasi AC. foto/istockphoto

AC non-inverter memiliki kompresor yang bekerja dengan sistem on-off dan berulang terus-menerus demi mendinginkan ruangan. Setiap kali menyala, AC akan membutuhkan lonjakan listrik yang cukup besar. Hal inilah yang membuat konsumsi energinya lebih tinggi.

Di sisi lain, AC inverter bisa menghindari lonjakan listrik berulang dan menggunakan energi secukupnya untuk menjaga suhu tetap stabil. Cara ini justru membuat AC inverter lebih hemat listrik ketimbang AC biasa.

Dikutip dari website Panasonic, pemakaian AC inverter merupakan pilihan terbaik karena tidak boros listrik dan bisa menghemat tagihan listrik tahunan hingga 42%. Jadi, jika ditanya mana yang lebih boros listrik, maka jawaban singkatnya adalah AC biasa atau AC non-inverter.

Faktor yang Memengaruhi Konsumsi Listrik AC

AC biasa memang dianggap lebih boros listrik, tapi perlu diketahui pula bahwa boros atau tidaknya sebuah perangkat AC tidak hanya bergantung pada cara kerja kompresor, tapi juga pada pola penggunaan sehari-hari.

Artinya, AC non-inverter pun tidak selalu lebih boros dalam semua kondisi. Lalu, faktor apa saja yang dapat memengaruhi konsumsi listrik AC? Berikut di antaranya:

1. Durasi Pemakaian

Efisiensi energi antara AC inverter dan non-inverter sangat ditentukan oleh durasi pemakaiannya. Sebagai contoh, untuk penggunaan singkat, selisih konsumsi listrik antara AC inverter dan AC biasa mungkin tidak terasa signifikan.

Secara teknis, AC inverter jauh lebih unggul dalam hal efisiensi jika digunakan setiap hari dalam durasi yang panjang karena mampu menghindari lonjakan daya yang besar. Namun, untuk penggunaan singkat atau hanya menyalakan AC sesekali saja, maka AC biasa tetap bisa jadi pilihan.

2. Pengaturan Suhu

Beban kerja kompresor juga bergantung pada selisih antara suhu udara di luar ruangan dengan suhu yang diatur pada remote AC. Semakin rendah suhu yang ditargetkan, semakin berat kerja kompresor sehingga konsumsi listrik meningkat. Suhu AC idealnya diatur di kisaran 24–26°C.

3. Kondisi Ruangan

Ruangan tempat AC bekerja juga berperan dalam efisiensi energi. Misalnya, ruangan tidak tertutup rapat (banyak pintu atau jendela terbuka) akan membuat udara dingin bocor keluar dan udara panas masuk ke dalam.

Akibatnya, sensor suhu pada AC akan mendeteksi bahwa ruangan belum cukup dingin sehingga kompresor dipaksa bekerja terus-menerus tanpa jeda.

Faktor lain adanya banyaknya sumber panas di dalam ruangan, seperti jumlah orang yang banyak atau paparan sinar matahari langsung melalui jendela. Semua ini juga meningkatkan beban pendinginan yang otomatis ikut menguras konsumsi listrik.

4. Kapasitas AC (PK)

Pemilihan kapasitas AC yang tidak sesuai dengan luas ruangan tentunya juga akan menyebabkan pemborosan listrik. Jika AC memiliki PK yang terlalu kecil untuk ruangan yang besar, AC akan terus bekerja pada performa maksimal karena gagal mendinginkan ruangan secara merata.

Sebaliknya, menggunakan AC dengan PK terlalu besar pada ruangan sempit memang cepat mendinginkan, tapi tentu saja konsumsi daya dasarnya jauh lebih tinggi daripada yang diperlukan sehingga tagihan listrik tetap akan membengkak.

5. Kebersihan AC

Komponen AC yang kotor, terutama pada bagian filter udara yang mudah kotor, bisa menghambat sirkulasi udara dan proses perpindahan panas. Debu yang menumpuk memaksa kompresor bekerja lebih keras untuk mengalirkan udara dingin dan otomatis meningkatkan konsumsi daya listrik.

Oleh karena itu, perawatan AC sebaiknya dilakukan secara berkala setidaknya 3–4 bukan sekali untuk membersihkan semua komponennya dan memastikan sistem bekerja dengan baik.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa AC biasa memang lebih boros listrik dibandingkan AC inverter, tapi konsumsi listrik tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola penggunaan, kondisi ruangan, hingga kondisi unit AC.

Di sisi lain, kelemahan AC inverter yang juga patut diketahui adalah harga unit yang lebih mahal ketimbang AC biasa. Namun, untuk penggunaan harian dengan durasi lama dan dalam jangka panjang, selisih harga tersebut dapat terkompensasi oleh penghematan listrik yang lebih besar sehingga AC inverter masih jadi pilihan yang lebih ekonomis dan efisien.

Ingin tahu lebih banyak tentang AC atau butuh rekomendasi produk elektronik lainnya? Cek selengkapya melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel Elektronik

Baca juga artikel terkait AC atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Byte
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani