Aris Santoso
Peneliti militer, terutama TNI AD. Bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

45 Tahun Malari: Putaran Kedua Penyingkiran Jenderal Orde Baru

15 Januari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Hampir semua peristiwa besar di Tanah Air tidak bisa dipisahkan dari konflik internal militer, demikian bunyi sebuah adagium. Peristiwa Malari adalah salah satunya. Yang lain: Peristiwa 1965, Peristiwa Santa Cruz (November 1991), Peristiwa 27 Juli (1996), Peristiwa Mei 1998, dan seterusnya.

Berdasarkan pengetahuan selama ini, Peristiwa Malari dipicu rivalitas antara Jenderal Soemitro (Pangkopkamtib/Wapangab) versus Mayjen Ali Moertopo (Aspri Presiden merangkap Deputi Kepala Bakin). Rivalitas di antara kedua belah pihak sudah berlarut-larut dan memperkeruh situasi politik di Jakarta.

Ibarat pertandingan tinju, selalu sang promotor yang meraih keuntungan, dalam hal ini adalah (Presiden) Jenderal Soeharto, yang saat itu masih seorang jenderal aktif.

Seleksi Ulang Pendukung Orba

Lazimnya banyak peristiwa besar lainnya, ada banyak lapisan dalam Peristiwa Malari. Pada lapisan pertama (permukaan), Malari adalah sebuah aksi mahasiswa berskala besar yang acapkali dianggap sebagai rintisan gerakan kaum muda dalam menentang rezim Soeharto. Sebagai sebuah gerakan mahasiswa, Malari memunculkan seorang tokoh legendaris, yaitu Hariman Siregar, yang menjadi inspirasi bagi aktivis gerakan mahasiswa generasi berikutnya.

Namun, di balik lapisan itu terdapat konflik internal militer. Problem pokoknya, para jenderal saling berkompetisi untuk memperoleh pujian dari Soeharto. Bila pertanyaanya adalah siapa pemenang dari kemelut, bisa jadi jawabannya adalah Ali Moertopo, meski hanya sementara. Pada fase berikutnya, giliran Ali yang tersingkir saat diangkat sebagai menteri penerangan (1978).

Peristiwa Santa Cruz, Dili (November 1991) bisa jadi perbandingan menarik di sini. Di permukaan, peristiwa tersebut berupa tindakan keras aparat militer (TNI) terhadap aksi massa pro-kemerdekaan Timor Leste. Namun pada lapis di bawahnya, peristiwa Santa Cruz adalah bagian dari rivalitas antara kubu Cendana (Soeharto) dan Benny Moerdani (saat itu sebagai Menhan) dalam memperebutkan posisi Wakil KSAD. Menurut sistem yang berlaku kala itu, orang yang menempati posisi Wakil KSAD secara otomatis akan menjadi KSAD berikutnya sehingga posisi ini memang layak untuk diperebutkan.


Masing-masing kubu telah memiliki ‘jago’. Kubu Cendana menyiapkan nama Mayjen Wismoyo (Pangkostrad, Akmil 1963), sementara kubu Benny mencalonkan Mayjen Sintong Panjaitan (Pangdam Udayana, Akmil 1963). Pada akhirnya Sintong yang tersingkir.

Dalam konteks kepentingan Soeharto, Malari bisa dibaca sebagai upaya “seleksi ulang” atas para pendukungnya. Malari bisa disebut sebagai putaran kedua. Putaran pertama seleksi ulang terjadi pada kurun waktu 1968-1972, ketika Soeharto menyingkirkan sejumlah jenderal yang sebelumnya merupakan ‘kawan seperjuangan’ selama membangun Orde Baru. Jenderal dimaksud antara lain adalah HR Dharsono (Pak Ton), Kemal Idris, Sarwo Edhi, M Jasin, dan seterusnya.

Sebelum eliminasi jenderal putaran pertama, Soeharto sudah terlebih dahulu melakukan pembersihan terhadap jenderal-jenderal Sukarnois. Dalam polarisasi militer pasca-Peristiwa 1965, jenderal Sukarnois adalah cluster tersendiri. Itu sebabnya saya tidak memasukkan mereka ke dalam kategori ‘kawan seperjuangan’ Soeharto. Salah satu jenderal Sukarnois yang perlu disebut adalah Mayjen Ibrahim Adjie (mantan Pangdam VI/Siliwangi).

Dari sekian banyak jenderal Sukarnois, Ibrahim Adjie perlu diberi catatan khusus. Mungkin karena karismanya yang demikian besar, Soeharto tampak hati-hati memperlakukan Ibrahim Adjie. Berbeda dengan jenderal-jenderal lain yang dipinggirkan secara tertutup, Soeharto menyempatkan turun sendiri ke lapangan untuk menyingkirkannya.

Soeharto menyingkirkan Ibrahim Adjie dengan sangat halus dan cenderung simbolik. Pada 20 Mei 1966, Soeharto (selaku Men/Pangad) meresmikan berdirinya Brigade Infanteri 17/Kujang I di Bandung, satuan baru di bawah Kodam VI/Siliwangi. Dalam peresmian satuan tersebut, Mayjen Ibrahim Adjie (Pangdam Siliwangi) dan Brigjen HR Dharsono (Pak Ton, Kasdam Siliwangi) juga hadir, selaku pimpinan kodam dengan nama besar tersebut.

Upacara itu seolah ‘salam perpisahan’ bagi Ibrahim Adjie, seorang loyalis Sukarno. Sebab, tepat sebulan kemudian dirinya dicopot selaku Panglima Siliwangi dan digantikan HR Dharsono. Pahitnya lagi, yang dilantik sebagai komandan pertama Brigif 17 adalah Letkol Inf Himawan Soetanto. Himawan adalah perwira yang dibesarkan Siliwangi, namun kelak dikenal sangat setia pada Soeharto, yang notabene adalah bagian dari rumpun Diponegoro.

Warisan Soemitro

Setelah 45 tahun berlalu, masih adakah jejak yang bisa kita lihat dari Malari?

Salah satu pihak yang masih rutin mengadakan peringatan, adalah komunitas mantan aktivis mahasiswa, dengan Hariman Siregar sebagai figur sentralnya. Untuk melestarikan spirit Malari, Hariman mendirikan lembaga bernama Indemo (Indonesia Democracy Monitoring) pada 15 Januari 2000, alias tepat pada tanggal kerusuhan Malari.

Bisa jadi Hariman terinspirasi oleh Ali Moertopo, yang pada 1871 mendirikan lembaga yang masih eksis sampai sekarang: CSIS. Meski telah meninggal pada Mei 1984, sosok Ali Moertopo abadi lewat CSIS. Setidaknya setiap lima tahun sekali selalu diadakan seminar atau sarasehan mengenang kepergian Ali Moertopo. Pada momen seperti itulah, nama Ali kembali berkumandang; ada peluang bagi para pengagumnya untuk memuliakan namanya.


Ketiadaan lembaga yang bisa menopang gagasannya itulah yang menjadikan nama Soemitro terlupakan—meski usia Soemitro lebih panjang.

Mirip Ali Moertopo, Soemitro juga meningal pada bulan Mei, tepatnya pada 10 Mei 1998—hanya beberapa saat sebelum Peristiwa Mei 1998, peristiwa yang hampir saja membakar habis Jakarta, seperti halnya Malari dulu.

Meski tidak sebesar Ali Moertopo, Soemitro tetap memiliki jejak yang niscaya kelak abadi. Pertama, peran Soemitro dalam memberi ruang berkarya untuk sastrawan termasyhur Pramoedya Ananta Toer. Saat masih menjabat Pangkopkamtib/Wapangab, Soemitro sempat menemui Pram di Pulau Buru dan menyanggupi permintaan mesin ketik yang dibutuhkan sang novelis.

Kedua, sebuah foto ikonik saat Soemitro berusaha menenangkan massa pada saat terjadinya Peristiwa Malari. Soemitro berdiri di atas jip terbuka, didampingi seorang mahasiswa (?) yang membawa bendera Merah Putih. Gestur Soemitro pada gambar itu sudah cukup memberi gambaran siapa sosoknya. Sepanjang karirnya di TNI, Soemitro dikenal sebagai perwira yang dinamis dan kaya gagasan.

Tidak heran, selepas mengajukan pensiun dini, Soemitro dikenal sebagai purnawirawan yang produktif menulis. Setidaknya, sebulan sekali selalu ada tulisan beliau di media terkemuka, seperti Kompas atau Tempo. Namun, sekali lagi, karena ketiadaan lembaga pendukung, karya-karya beliau masih terserak dan belum bisa diakses publik, khususnya generasi milenial.

Benny Datang, Sayidiman Pergi

Jejak lain Malari lainnya adalah perubahan peta calon pemimpin TNI untuk dekade berikutnya. Asumsi ini berdasarkan dua nama generasi baru TNI yang hilang dan kemunculannya tidak bisa dipisahkan dari peristiwa tersebut, yaitu (dengan pangkat tahun 1974) Kolonel Benny Moerdani dan Letjen Sayidiman Suryohadiprojo.

Sebelum pecah Malari, Letjen Sayidiman (Deputi KSAD) sudah digadang-gadang sebagai calon KSAD. Saat itu, ekspose terhadap Sayidiman terbilang tinggi, berdasarkan kariernya yang cemerlang dan latar belakang pendidikannya. Sayidiman adalah lulusan MA (Akademi Militer) Yogya, sebuah lembaga pendidikan perwira yang didirikan pada era perang kemerdekaan (1945-1949).

Lulusan MA Yogya seolah menjadi ‘anak emas’ TNI, karena latar belakang historis dan kompetensi para alumnusnya. Namun, rupanya nasib baik kurang berpihak pada Sayidiman. Sebagai jenderal yang dianggap bagian dari lingkaran Soemitro, ia harus rela menepi. Pupus sudah harapan menjadi KSAD sebagai representasi MA Yogya, salah satu kelompok perwira paling gemilang dalam sejarah TNI.

Ketika Sayidiman sudah tersingkir dari pusaran kekuasaan, harapan lulusan MA Yogya kemudian dialihkan pada sosok Himawan Soetanto dan Susilo Sudarman. Namun ketika tiba saatnya, posisi ini lepas juga dari mereka yang sudah seharusnya masuk pos KSAD. Pada akhirnya yang menjadi KSAD adalah adik kelas mereka, yakni Jenderal Rudini, lulusan KMA Breda. Sama dengan anggapan saat Sayidiman gagal meraih KSAD dulu, mungkin sudah takdirnya generasi ini untuk tidak menjadi KSAD.

Namun, tidak selamanya Malari membawa kemuraman. Malari juga telah membawa berkah dengan munculnya tokoh generasi baru TNI yang lain, yang sebelumnya (mungkin) sama sekali tidak diperhitungkan, yaitu Benny Moerdani. Meski usianya sedikit di bawah rata-rata lulusan MA Yogya, Benny masih bisa dimasukkan ke dalam kategori Generasi 45. Pasca-Malari, Soeharto melakukan penataan ulang lembaga intelijen, termasuk unsur pimpinannya. Dalam konteks ini Benny—yang saat itu menjalankan tugas diplomatik di Seoul—dipanggil ke Jakarta.


Jalan sejarah atau jalan hidup seseorang acapkali tidak bisa diduga. Demikian pula karier Benny, yang bermula dari seorang perwira yang selalu berdinas di bidang intelijen dan berakhir sebagai Pangab (1983-1988). Sungguh fenomenal dan mungkin akan sangat sulit terulang di masa depan.

Sebelum gambarnya muncul di media saat dilantik sebagai Pangab, terakhir kali Benny muncul di media massa saat memperoleh Bintang Sakti dari Presiden Sukarno pada 1963. Praktis dalam rentang waktu 20 tahun, hanya dua kali wajah Benny muncul di media cetak dan elektronik. Ia memang perwira intelijen sejati.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.