tirto.id - Kenapa harga emas naik terus akhir-akhir ini menjadi tanda tanya. Pasalnya, kenaikan harga emas telah melampaui rekor selama ini. Apa penyebab harga emas naik?
Harga emas hari ini 29 Januari 2026 di dunia meningkat 2,26 persen atau tembus ke level 5.539 dolar AS per ons troi. Salah satu faktor utama kenaikan harga emas hari ini adalah situasi geopolitik dunia.
Per hari ini, dolar AS mengalami pelemahan usai Presiden AS Donald Trump menyatakan tak khawatir dengan penurunan nilai mata uang itu.
Bank sentral AS juga menahan suku bunga acuan, membuat banyak investor meresponsnya dengan memborong aset riil. Respons ini merupakan upaya para investor demi melindungi nilai kekayaan para investor di tengah potensi devaluasi uang fiat dan inflasi.
Sementara itu, harga emas Antam hari ini 29 Januari 2026 tembus Rp3.168.000 per gram seturut laman Logam Mulia. Harga buyback emas Antam juga mengalami kenaikan, dari Rp2.856.000 menjadi Rp2.989.000.
4 Alasan Harga Emas Terus Naik
Seturut analis OCBC, situasi geopolitik dan kebijakan bank sentral AS terhadap dolar kini membuat emas menemukan momentum sebagai aset netral penyimpan nilai, bukan lagi sekadar perlindungan nilai krisis.
Berikut beberapa alasan yang melatari kondisi tersebut.
1 Kebijakan Moneter AS
Salah satu faktor dominan kenaikan harga emas adalah kebijakan moneter AS, khususnya oleh Federal Reserve (Fed). Kini, Fed telah memutuskan untuk menahan suku bunga acuan meskipun inflasi masih berada di atas target bank sentral.Kebijakan tersebut kemudian memperkuat narasi debasement trade. Kepercayaan investor akan uang kertas mulai tergerus. Para investor lalu beralih dari valuta ke aset riil, seperti emas.
2 Pelemahan Dolar AS
Situasi di pasar uang kini terguncang usai Presiden AS Donald Trump menyebut dolar "berkinerja baik" dan tidak melemah berlebihan. Banyak investor mengartikannya dengan tafsir yang lain.Sebelumnya, dolar AS telah merosot ke level terendah dalam empat tahun terakhir pada awal pekan ini. Dolar AS kini mencatatkan penurunan nilai harian tercuram sejak peluncuran tarif tahun lalu.
Dengan pernyataan Trump tersebut, investor menafsirkannya sebagai pengesahan dari pemerintah Trump bahwa pelemahan dolar AS akan bertahan lebih lama. Pernyataan Trump itu jadi lampu hijau bagi pasar untuk menjual dolar dan mengalihkannya ke aset safe haven seperti emas.
Seturut keterangan analis FP Markets Aaron Hill, pelemahan dolar AS "menguntungkan eksportir", namun membuat "harga pembelian dolar bagi pembeli asing turut menurun" sehingga para investor lebih memilih emas.
"Hal itu dapat meningkatkan tekanan inflasi," katanya, dikutip dari The Economic Times.
3 Geopolitik Seputar AS
Selain kebijakan moneter AS, situasi geopolitik seputar Negeri Paman Sam itu juga pada akhirnya turut memengaruhi harga emas. Menurut analis Aaron Hill, pelemahan dolar AS ini terus terjadi pada awal tahun ini karena ketidakpastian Trump dalam beberapa polemik geopolitik."Dari ancaman tarif hingga rencana [pencaplokan] Greenland, tindakannya terus mengguncang pasar, mendorong investor utnuk mengurangi eksposur terhadap aset AS," katanya.
Menurutnya, situasi geopolitik yang tak menentu belakangan ini menjadi bahan bakar penurunan nilai dolar AS. Jika terus terjadi, Aaron Hill memperkirakan hal tersebut "dapat meningkatkan inflasi".
4 Turut Dipengaruhi Tren Jangka Panjang
Kenaikan harga emas juga turut dipengaruhi oleh tren jangka panjang akibat pemberlakuan sanksi terhadap Rusia pada 2022 lalu. Sejak penerapan sanksi, bank sentral di banyak negara secara bertahap mengalihkan cadangan aset berbasis dolar ke emas.
Di tengah kebijakan itu, kini muncul kekhawatiran akan nilai dolar, kebijakan suku bunga, juga mahalnya harga saham. Komposisi tersebut kemudian memperkuat tren kenaikan harga emas sebagai aset netral penyimpan nilai.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id



































