Yogya Istimewa: Menyangkal Kekerasan dan Diskriminasi di DIY

Oleh: Mawa Kresna - 12 April 2019
Dibaca Normal 5 menit
Ada penyangkalan terhadap peristiwa kekerasan berbasis identitas di Yogyakarta.
tirto.id - Jumat pagi itu asrama Papua Kamasan di Jalan Kusumanegara Yogyakarta dijaga polisi-polisi Indonesia. Beberapa mobil polisi memarkir di sekitar asrama.

Sejak Kamis, 14 Juli 2016, polisi sudah di sana. Itu menarik perhatian wartawan-wartawan Yogyakarta. Beberapa bahkan sudah datang ke lokasi asrama Papua untuk mencari tahu gerangan peristiwa apa yang terjadi atau mungkin terjadi antara mahasiswa-mahasiswa Papua dan personel kepolisian Indonesia.

Salah satu wartawan yang datang Kamis siang itu adalah Suryo Wibowo, fotografer lepas untuk kantor berita Perancis AFP. Suryo nongkrong bareng beberapa fotografer lain, berjaga-jaga bila ada peristiwa yang harus mereka abadikan. Namun, sampai lewat tengah hari, kondisi landai.

Suryo sempat bertanya kepada kawan lamanya, seorang polisi di sekitar lokasi asrama.

“Aman?”

Karena menerima jawaban tidak akan terjadi apa-apa, Suryo pun beranjak dari sana.

Kamis itu memang tidak terjadi apa-apa. Polisi tetap berjaga di sekitar asrama Papua sementara para mahasiswa Papua tetap menjalankan aktivitasnya. Hari itu rencananya mereka membuat kegiatan mimbar bebas di dalam asrama.

Keesokan hari, Suryo kembali ke asrama Papua. Penjagaan hari itu terlihat lebih ketat. Mobil polisi berderet di sepanjang Jalan Kusumanegara. Di depan gerbang asrama, polisi pun berjaga. Suryo memutuskan untuk memotret mobil-mobil polisi dan para personel kepolisian yang berjaga di depan asrama.

Saat Suryo memotret di depan asrama, Anang Zakaria, wartawan lepas Rappler.com, dan Bambang Muryanto, wartawan The Jakarta Post, berada di jalan belakang asrama Papua.

Keduanya sudah janjian bertemu untuk meliput kondisi asrama Papua. Kabar yang beredar: para mahasiswa Papua sulit untuk keluar dan masuk asrama karena penjagaan ketat polisi.

Anang ke asrama Papua dari kantor AJI Yogyakarta. Bambang dari rumahnya. Mereka tiba di lokasi sekitar pukul 9 pagi. Saat di sana, mereka mendengar kabar ada mahasiswa Papua yang hendak masuk ke asrama lewat pintu belakang tapi dihalang-halangi polisi.

Mereka mengikuti sejumlah polisi berpakaian preman bergerak ke jalan belakang asrama.

Begitu tiba di pintu belakang asrama, beberapa polisi menghentikan Obby Kogoya, mahasiswa Papua di Yogyakarta. Obby bersama temannya mengendarai sepeda motor.

Polisi menghentikan Obby karena ia tidak memakai helm. Polisi juga meminta STNK, yang tak bisa ditunjukkan oleh Obby.

Lalu, terjadilah keributan di antara Obby dan temannya dan para polisi Indonesia.

Anang Zakaria merekam kejadian itu dengan ponsel. Anang meminta Bambang ikut merekam untuk berjaga-jaga karena ponselnya bermasalah.

Keributan itu berujung pada aksi kejar-kejaran. Obby, yang dilarang masuk ke Asrama Kamasan Papua, lari ke arah timur melalui lorong sempit hingga tembus Jalan Kusumanegara.

Melihat itu, Anang dan Bambang ikut berlari di belakang polisi yang mengejar Obby. Tiba-tiba polisi melepaskan tembakan peringatan ke udara.

“Dor!”

Anang terkejut. Tangannya yang memegang ponsel goyang. Sementara Bambang terus berlari di belakang polisi. Bambang sempat melihat Obby hendak melayangkan batu ke arah polisi tapi urung.

Sampai di Jalan Kusumanegara dekat pertigaan, Bambang melihat Obby Kogoya sudah ditangkap. Ia memotret Obby melawan polisi yang hendak menangkapnya. Obby terjatuh. Keramaian terjadi di dekat pertigaan.

Saat insiden penangkapan terhadap Obby, Suryo Wibowo, fotografer untuk AFP, berada di seberang asrama. Suryo segera berlari mendekati keramaian. Ia melihat Obby terjatuh. Tanpa pikir panjang, Suryo mendekat, jongkok, lalu merendahkan kameranya nyaris menyentuh tanah, mengambil gambar sebanyak-banyak, sebisanya.

Jarak antara Obby dan Suryo hanya terpaut satu meter. Selagi Suryo mengambil foto, Anang di belakang Suryo mengawasi.

Obby terus memberontak sampai akhirnya seorang polisi mengaitkan dua jari ke lubang hidung Obby, lalu menariknya. Obby berteriak kesakitan. Suryo mendengar teriakan itu.

Kedua tangan Obby diborgol oleh polisi lalu kepalanya diinjak oleh seorang polisi dengan sepatu New Balance.

Semua peristiwa itu tertangkap dalam kamera Suryo.

Setelah Obby dibawa polisi, Suryo berusaha masuk ke Asrama Kamasan Papua. Ia meminta izin kepada dua mahasiswa Papua yang berjaga di depan gerbang.

“Kamu polisi?” tanya seorang mahasiswa.

“Bukan. Saya wartawan foto dari AFP,” jawab Suryo.

Maka, dua mahasiswa Papua yang berjaga di depan gerbang mengizinkan Suryo. Anang dan Bambang, berada di dekat Suryo, ikut menyusul, masuk ke asrama.

Jumat, 15 Juli 2016, hanya tiga wartawan yang bisa masuk ke Asrama Kamasan Papua. Di dalam, Suryo mengambil foto dan video; Anang dan Bambang mewawancarai mahasiswa.

Sekitar pukul 12:30, Suryo selesai dengan pekerjaannya. Ia sudah mengirimkan foto-foto ke AFP. Buat berjaga-jaga, ia menyimpan file cadangan foto-foto di laptop, lalu ia menyembunyikan kartu memori foto-foto tersebut. Ia takut, bila keluar, kartu memori itu bakal dirampas oleh polisi.

Namun, kejadian yang gagal diantisipasi oleh Anang, Bambang, dan Suryo adalah justru ketika mereka terjebak di dalam asrama.

Polisi menutup gerbang depan dan belakang asrama. Suryo sempat mengabari beberapa rekan wartawan bahwa mereka terjebak di dalam asrama. Beberapa wartawan membuat berita tentang ketiga wartawan itu yang terjebak di sana. Ketiganya baru bisa keluar dari asrama pada sore hari.



*

BILA ANDA mendengar cerita di atas, sebaiknya Anda mempertimbangkan untuk meragukannya. Mungkin Anang Zakaria, Bambang Muryanto, dan Suryo Wibowo tengah berhalusinasi menyaksikan kekerasan berbasis rasial di Yogyakarta.

Jumat, 15 Juli 2016, tidak ada kericuhan apa pun di depan asrama Papua. Tidak ada keributan di Yogyakarta.

Yogyakarta, sebagaimana citra yang dibangunnya, adalah "kota yang toleran." Masyarakat Yogyakarta tidak diskriminatif. Yogya itu aman.

Setidaknya itu yang dikatakan polisi, empat hari setelah kejadian di asrama Papua. Dalam konferensi pers di Mapolresta Yogyakarta, Kombes Bambang Pristiwanto mengatakan tidak ada kericuhan apa pun di asrama Papua. Menurutnya, semua kabar dan foto tentang kekerasan terhadap mahasiswa Papua yang beredar di media sosial itu adalah hoaks.

Foto yang dimaksud polisi adalah foto Obby Kogoya yang diambil oleh Suryo Wibowo. Salah satu yang disebut polisi sebagai hoaks adalah kabar ada tiga wartawan yang terjebak dalam asrama Papua.

"Itu hoax. Kami menelusuri itu tidak ada. [Kabar] yang beredar menggambarkan situasi Yogya tidak aman adalah hoax," kata Kombes Bambang pada 19 Juli 2016.

Tak cuma itu, Kombes Bambang Pristiwanto memerintahkan anak buahnya untuk memburu pembuat hoaks. "Memang ada beberapa pihak [yang] sengaja menebar isu dengan tujuan memperkeruh keadaan. Sehingga dalam berita bohong itu, Yogya sedang tidak aman dan lainnya. Padahal realitas di lapangan, tidak ada apa-apa," katanya.

Tudingan hoaks itu tidak hanya dilakukan oleh polisi. Situsweb yang menangkal kabar hoaks, turnbackhoax.id, yang dikelola Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) turut menyebarkan klarifikasi, berisi penyangkalan terhadap peristiwa kekerasan di asrama Papua pada hari itu. Konten serupa juga dibagikan akun Fanpage Facebook Kota Jogja.

Label hoaks terhadap foto jepretan Suryo Wibowo itu yang membuatnya dicari-cari polisi.

Sehari setelah kejadian itu, Suryo bercerita kepada saya, selagi kami dalam perjalanan ke Trenggalek, bahwa ia dicari-cari polisi karena fotonya. Suryo khawatir label hoaks atas peristiwa kekerasan terhadap Obby Kogoya membuatnya dicap sebagai bagian dari mahasiswa Papua yang menyuarakan kemerdekaan Papua.

Suryo tak habis pikir mengapa polisi begitu mudah menyangkal fakta tersebut, melabeli fotonya sebagai hoaks? Kenyataan itu yang membuat Suryo jengkel sekaligus takut.

“Aku ini wartawan, pas di dalam asrama itu mikir, gimana kalau aku dikira bagian dari mereka? Itu yang aku takutkan,” kata Suryo.


Ketakutan Suryo itu wajar. Dalam banyak kasus kekerasan di Yogyakarta, kerap ada gelombang penyangkalan terhadap fakta yang dianggap mencoreng label "Yogyakarta sebagai kota toleran." Penyangkalan itu umumnya berlindung di balik jargon "keistimewaan" Yogyakarta.

Label "istimewa" yang disematkan pada Yogyakarta itu menjadi perisai atas peristiwa-peristiwa kekerasan bertendensi rasial, identitas maupun agama di Yogya, menolak fakta bahwa ada diskriminasi rasial hingga intoleransi di Yogya yang dipublikasikan oleh media.

Pelbagai kekerasan itu, termasuk menyalahkan mahasiswa Papua dalam kasus Obby Kogoya, dianggap mencoreng citra Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sayangnya, citra itu memang sudah tercoreng.

Iqbal Ahnaf dan Hairus Salim dalam Krisis Keistimewaan: Kekerasan terhadap minoritas di Yogyakarta (2017) menyebutkan ada 71 kasus kekerasan bernuansa identitas sepanjang 2000-2016.

Jumlah itu belum termasuk intoleransi yang terjadi belakangan ini.


Riset Tirto pada 2017-2018 ada 7 kasus kekerasan dan intoleransi di Yogyakarta. Sementara pada 2019, sudah ada dua kasus serupa: kasus keluarga Slamet Jumiarto yang dilarang tinggal di sebuah dusun di Bantul karena beragama Katolik; perusakan salib di kompleks makam Kristen yang dikelola Rumah Sakit Bethesda. (Gubernur Sultan HB X merilis instruksi agar bupati dan wali kota "mencegah praktik diskriminasi" di lingkungan Yogya; Polisi menduga pelaku perusakan salib adalah tunawisma.)

Dalam kasus keluarga Slamet Jumiarto, awal April lalu, ada penyangkalan dengan dalih "kearifan lokal". Ada pula argumen warga pendatang sudah seharusnya mengikuti aturan lingkungan setempat.

Sekretaris Daerah Yogyakarta, Gatot Saptadi, memperingatkan bahwa dalih "kearifan lokal" jangan dijadikan senjata untuk melindungi diskriminasi.


Penyangkalan lebih tajam atas kasus kepemilikan tanah berbasis rasial. Warga Tionghoa, yang dilabeli "non-pribumi", tak punya hak milik atas tanah sekalipun sepanjang hidupnya tinggal di Yogyakarta.

Badan Pertanahan Yogyakarta serta Sultan HB X sekaligus Gubernur Yogyakarta menyangkal ada pelarangan hak berbasis rasial dan menyebutnya bukan diskriminasi. Warga Tionghoa dilarang punya hak milik tanah karena "Yogyakarta adalah istimewa."

Larangan hak milik tanah bagi warga Tionghoa itu berdasarkan regulasi kolonial tahun 1918, diperkuat oleh instruksi Wakil Gubernur Paku Alam VIII pada 1975, dipertegas oleh UU Keistimewaan Yogyakarta pada 2012.

Maka, warga Tionghoa sampai kini cuma punya hak guna, bukan hak milik, atas tanah di Yogya, karena etnis Tionghoa masih dianggap sebagai "warga negara timur asing" di daerah istimewa Yogya sekalipun mereka adalah WNI dalam hukum nasional Indonesia.



Infografik HL Indepth Intoleransi di Yogyakarta
Infografik Data kekerasan berbasis identitas di Yogyakarta. tirto.id/Lugas



*

SETELAH hampir tiga tahun foto Obby Kogoya itu disebut hoaks oleh polisi Indonesia, saya bertemu Suryo Wibowo di Jakarta. Saya sengaja meminta bertemu untuk berbincang soal foto yang hingga kini masih dilabeli hoaks. Suryo masih menyimpan dengan rapi arsip foto-foto peristiwa Obby tersebut.

Suryo menunjukkan deretan foto yang diambilnya pada 15 Juli 2016. Totalnya ada 294 foto. Hanya segelintir dari foto-foto itu yang dikirim ke media termasuk ke AFP.

Suryo juga menunjukkan file RAW foto sebagai bukti foto itu otentik, bukan hasil rekayasa. Foto-foto itu diambil dengan kamera Sony Alpha 6300 dan lensa Canon 17-40.

“Aku pakai adaptor lensa. Ini semua asli. File RAW ini tidak bisa dibuat atau direkayasa dengan komputer seperti ini,” kata Suryo.


Sampai saat ini Suryo masih menyayangkan penyangkalan polisi-polisi Indonesia terhadap fakta ada kekerasan rasial terhadap mahasiswa Papua di Yogyakarta.

Padahal, seharusnya polisi bisa melakukan konfirmasi sebelum melabeli fotonya sebagai hoaks. Ia bisa membuktikan foto kaki polisi bersepatu New Balance berwarna biru yang menginjak kepala Obby Kogoya bukan rekayasa.

“Aku bisa buktikan bahwa itu bukan hoaks,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait KASUS INTOLERANSI atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan