Bisnis Startup

WeWork: Gagalnya Startup Bergelimang Dana Investor

Kantor WeWork di pusat teknologi Silicon Valley. Startup We Company berkantor pusat di New York City. WeWork membatalkan rencananya untuk IPO.
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 4 Desember 2019
Dibaca Normal 3 menit
Performa WeWork berantakan di tangan pendiri dan mantan CEO, Adam Neumann. Apakah ini gambaran buruknya bisnis coworking space?
tirto.id - Nada bicara eksekutif perusahaan rintisan itu datar saja ketika membacakan segelintir kalimat permintaan maaf kepada para karyawan. Tak butuh waktu lama setelah meminta maaf, sang eksekutif perusahaan menjelaskan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK).

Semuanya disampaikan dalam rapat rutin mingguan yang berlangsung di ruang kaca buram sebuah kantor pusat dengan lokasi di 115 West 18th street, kota New York, Amerika Serikat (AS). Kantor itu adalah kantor perusahaan rintisan 'fenomenal': WeWork, sebuah perusahaan rintisan yang menyediakan ruang kerja bersama.

Rumor PHK memang telah berhembus kencang di kalangan karyawan WeWork. Dua bulan pasca pengumuman batalnya WeWork mencatatkan saham di lantai bursa pada 16 September 2019 lalu, kinerja perseroan kian limbung hingga kini.

Kegagalan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) berbuntut anjloknya nilai valuasi perusahaan. WeWork sempat memiliki nilai valuasi mencapai $47 miliar (sekitar Rp662,7 triliun dengan asumsi kurs Rp14.100 per dolar AS). Namun, angka itu kini terjun bebas menjadi hanya $6,94 miliar (PDF).

Sejumlah 2.400 karyawan WeWork secara global kehilangan pekerjaan. Pemangkasan itu setara 20 persen dari total keseluruhan pekerja yang berjumlah 12.500 karyawan per Juni 2019 berdasarkan prospektus IPO, dan melanda seluruh divisi penunjang operasional perusahaan seperti SDM, arsitektur, dan teknik perusahaan.

"Kami harus melakukan beberapa penghapusan pekerjaan yang diperlukan. Tindakan ini akan membuat kita lebih kuat dan lebih mampu menghasilkan lebih banyak peluang selama beberapa bulan dan tahun mendatang," tulis Marcelo Claure, Eksekutif WeWork melalui surat elektronik yang dikirimkan kepada para karyawan, dilansir New York Times. Ia menambahkan bahwa pemangkasan dimulai di Amerika Serikat.

Perseroan pun kehabisan uang dan membutuhkan dana bailout dari investor terbesar yaitu SoftBank untuk sekedar menunjang keberlanjutan operasional perusahaan. Dana segar senilai $9,5 miliar digelontorkan SoftBank untuk mengambil alih kendali WeWork, termasuk $1,7 miliar yang dibayarkan kepada pendiri sekaligus mantan CEO WeWork Adam Neumann yang didepak dari perusahaan.


Bagaimana WeWork Bisa Hancur?

"WeWork adalah lingkungan baru untuk ruang kerja. Konsep ruang kerja bersama atau berbagi ruang kerja merupakan cara perubahan baru dalam hal bagaimana orang bekerja."

Secuplik kalimat itu diungkapkan Adam Neumann dalam sebuah wawancara dengan International Business Time. Ide berbagi ruang kerja bersama memang datang dari Neumann, yang ketika itu tengah mencari ruangan untuk berkantor. Pemilik gedung yang ia temui ketika itu menunjukkan sebuah gedung di Brooklyn, AS. Menggandeng Miguel McKelvey sebagai arsitek, ruang-ruang di gedung tersebut dibagi-bagi untuk selanjutnya disewakan sebagai kantor atau ruang kerja bersama.

Duet Neumann dan McKelvey yang selanjutnya turut menjadi pendiri WeWork melahirkan proyek bernama Greendesk. Proyek itu berhasil dijual dan menjadi cikal bakal lahirnya WeWork yang berkembang pesat dalam kurun waktu singkat.

Lima tahun setelah berdiri, tepatnya pada 2015, valuasi WeWork menyentuh angka $10,5 miliar. Pelanggan yang membayar keanggotaan untuk menyewa ruang kerja bersama WeWork mencapai 23 ribu di 32 lokasi dengan minimum harga sewa $45 per bulan.

Investor pun masuk dan menggelontorkan dana segar untuk perkembangan WeWork. Antara 2017-2018, SoftBank mengalirkan investasi sekitar $8 miliar ke WeWork, yang membuat valuasi perseroan melonjak hingga $20 miliar pada 2017.

Tak berhenti di situ, SoftBank kembali mengucurkan dana investasi potensial dengan total senilai $16 miliar di 2019 dan menjadikannya sebagai pemegang saham pengendali WeWork. Perusahaan pimpinan Masayoshi Son itu sukses melipatgandakan nilai valuasi WeWork sampai dengan $47 miliar.

Mendapat dana segar miliaran dolar sepertinya membuat Adam Neumann dan jajaran manajemen WeWork terlena. Investasi liar kerap dilakukan perseroan. Misalnya dengan menggelontorkan dana senilai $13 juta di Wavegarden, perusahaan rintisan pembuat ombak buatan dalam ruang. Instalasi ombak buatan dalam ruang Wavegarden bernilai jutaan dolar dan telah tersebar di tiga negara termasuk AS. Sayangnya, mereka kerap menghadapi hambatan dari regulasi setempat.

WeWork juga meluncurkan sekolah dasar swasta bernama WeGrow, yang memiliki misi 'conscious entrepreneurship’' atau sekolah dasar dengan kurikulum kewirausahaan. Salah satu peserta didik dari WeGrow adalah anak bungsu pasangan Adam Neumann dan istrinya, Rebekah. Biaya sekolah di tingkat pendidikan PAUD dan sekolah dasar kewirausahaan ini dipatok antara $22.000-$42.000 per tahun, setara biaya kuliah.


Cerobohnya cara Neumann dalam mengelola miliaran dana segar investor juga terlihat dari pemborosan di pelbagai lini. Misalnya saja dengan membelanjakan 12 juta kaki persegi kaca, 750 ribu kaki persegi karpet, 8,8 juta kaki persegi lantai kayu, 9,6 juta pon aluminium, serta 12 ribu sambungan telepon selama tujuh tahun terakhir, untuk memoles berbagai ruang kerja bersama di WeWork.

Neumann juga memboroskan dana investor untuk membeli unit pesawat jet pribadi mewah senilai $60 juta. Jet pribadi jenis Gulfstream G650 ini digunakan Neumann dan keluarga kecilnya untuk terbang ke seluruh dunia. Akhirnya, pesawat itu dijual untuk menambal biaya operasional perusahaan.

Kejatuhan bisnis WeWork ini tidak semerta-merta mencerminkan buruknya industri perusahaan rintisan di bidang serupa. Salah satu perusahaan penyedia jasa ruang kerja bersama, Regus, yang kini bertransformasi menjadi International Workplace Group (IWG) bisa menjadi gambaran. Sebagai catatan, IWG juga mengelola sejumlah merek waralaba ruang kerja selain Regus, termasuk, Space, Signature dan HQ.



Perusahaan data keuangan PitchBook merinci, kinerja IWG lebih mumpuni dengan 1,5 juga anggota, ketimbang WeWork yang memiliki 500 ribu anggota. Perusahaan yang telah berdiri sejak 30 tahun lalu ini tersebar di 3.000 lokasi di 120 negara, lebih banyak dibanding WeWork yang tersedia di 528 lokasi di 29 negara.

Bahkan perusahaan yang berbasis di Swiss ini meraih pendapatan usaha sampai dengan $3,4 miliar. Angka itu lebih tinggi dibanding capaian WeWork yang senilai $1,8 miliar. IWG juga berhasil mengantongi laba operasional sampai dengan $63 juta sedangkan WeWork merugi hingga $1,37 miliar sepanjang paruh pertama 2019.

PitchBook menyebut, dibanding WeWork, IWG hanya memiliki satu kekurangan: valuasi. Nilai valuasi WeWork sempat menyentuh $47 miliar sedangkan valuasi IWG senilai $3,7 miliar. Namun, saham IWG yang diperdagangkan di London Stock Exchange di Indeks FTSE 250 sejak tahun 2000 telah melonjak lebih dari 60 persen dalam 12 bulan terakhir. Perseroan pun membuka peluang untuk melakukan IPO di Amerika Utara.

"Kami melihat peluang strategis seperti kemungkinan untuk memecah unit bisnis. Kami selalu mencari opsi baru untuk selera industri di pasar AS,” tutur CEO IWG Mark Dixon, dilansir Fortune.

Dosen PR dan Media di Middlesex University di Inggris, Alessandro Gandini, dalam salah satu jurnalnya berjudul "The Rise of Co-Working Spaces: A Literature Review" menuliskan bahwa krisis ekonomi global telah mengubah praktik dan makna kerja di era kiwari.

Saat ini, jumlah profesional perkotaan yang bekerja sebagai tenaga kerja lepas berbasis proyek atau biasa disebut dengan freelance cukup besar. "Ini mendorong para pekerja yang bekerja di bidang data dan informasi menemukan cara baru untuk menjalani kehidupan kerja yang berpindah-pindah dalam konteks profesional. Praktik ruang kerja bersama atau difusi ruang kerja bersama menjadi salah satu fenomena paling menarik yang muncul baru-baru ini," tulis Gandini.

Baca juga artikel terkait BISNIS STARTUP atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight