tirto.id - Sore di kompleks Pasar Alun-alun, Kota Tegal, begitu riuh. Dentum musik dari wahana permainan bercampur dengan suara tawar-menawar pedagang. Tak jauh dari pintu masuk, aroma rebusan daging yang bercampur dengan rempah-rempah memenuhi udara.
Dari luar, bangunannya tampak sederhana, namun warung itu seperti punya magnet tersendiri. Sebuah papan nama kecil bertuliskan “Warung Kepala Kambing Bu Darti”.
Warung ini sudah ada sejak 1956, dan kini diteruskan oleh generasi ketiga bernama Ade (32), cucu dari pendiri warung. Ia bercerita sambil sesekali melayani pembeli yang datang.
"Sudah generasi ketiga, dulu Mbah Radem nurun ke ibu saya, Bu Darti, dan kini saya yang meneruskan,” ujarnya, Senin (18/08/2025). Sementara tangannya cekatan menyiapkan pesanan dan senyumnya ramah menyambut pelanggan yang silih berganti datang.

Rasa dan Cerita yang Diwariskan
Warung ini bukan sekadar tempat makan. Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah tradisi kuliner bisa bertahan puluhan tahun, bahkan lintas generasi.
“Rata-rata pelanggan dari dulu sampai sekarang kebanyakan dari luar kota. Malahan mereka tahu dari cerita turun-temurun, entah dari orang tua atau kakek-neneknya yang pernah makan kepala kambing di sini. Kalau warga lokal ada yang tahu, ada juga yang belum,” kata Ade sambil tertawa kecil.
Cerita turun-temurun itu dialami Awalina, salah satu pembeli yang sore itu tampak lahap menikmati seporsi kepala kambing.
“Saya sudah tiga kali ke sini. Pertama kali diajak orang tua, mereka memang sengaja jauh-jauh datang dari Semarang untuk mencicipi. Sejak itu, saya jadi ikut ketagihan,” tuturnya.
Hal serupa dirasakan Arif, warga asli Tegal yang juga turut antre sore itu. Ia mengaku sering mengajak teman-temannya yang baru pertama kali datang ke Kota Bahari untuk mampir ke warung ini.
"Kalau ada teman dari luar kota, pasti saya ajak ke sini. Rasanya beda, khas banget. Selain itu suasananya juga unik, makan kepala kambing sambil dengar ramai pasar. Jadi pengalaman tersendiri,” ujarnya.
Bagi sebagian orang, kepala kambing mungkin terdengar ekstrem. Namun di tangan keluarga Bu Darti, ia menjelma menjadi sajian dengan cita rasa khas sekaligus dipercaya menyehatkan.
Sebelum disajikan, daging kepala kambing direbus terlebih dahulu.
"Itu penting, biar lebih aman dikonsumsi dan tetap terjaga kualitasnya,” jelas Ade.
Ia menambahkan, selain rasa gurihnya, banyak pelanggan percaya akan khasiatnya.
“Bagus untuk kalsium dan vitamin. Kalau kaki kambing, ada sumsum yang baik juga buat tulang,” katanya.
Penjelasan itu seakan menegaskan bahwa kuliner ini bukan sekadar soal rasa, tapi juga tentang bagaimana makanan tradisional dipercaya punya nilai kesehatan yang tak kalah dari suplemen modern.

Oase Kuliner di Tengah Riuh
Menu di Warung Bu Darti terbilang ramah di kantong. Mulai Rp30 ribu untuk seporsi jingur, Rp40 ribu untuk jingur plus kaki, hingga Rp50 ribu untuk jingur, kaki, dan lidah. Ada juga menu favorit lain dengan harga Rp70 ribu-Rp130 ribu, sementara kepala kambing utuh dibanderol Rp130 ribu-Rp180 ribu.
Warung ini buka setiap hari, dari pukul 13.00 hingga tengah malam. Tak jarang, kursi-kursi kayu sederhana yang tersedia penuh diduduki pelanggan, terutama menjelang malam.
Beberapa di antaranya datang berombongan, duduk berlama-lama sambil bercakap hangat ditemani seporsi kepala kambing yang mengepul.
Salah satuyang menarik dari Warung Kepala Kambing Bu Darti bukan hanya soal rasa atau harganya, tapi juga lokasinya. Berdiri di kompleks Pasar Alun-alun yang selalu ramai, warung ini seakan menjadi oase kuliner di tengah riuh hiburan rakyat.
Dan karena letaknya hanya beberapa meter dari Stasiun Tegal, banyak penumpang kereta api menjadikannya sebagai tempat singgah sebelum melanjutkan perjalanan.
Bagi Ade, melanjutkan usaha ini bukan sekadar mencari rezeki. Ia merasa punya tanggung jawab menjaga warisan keluarga yang berusia hampir tujuh dekade.
"Saya ingin tetap mempertahankan resep asli dari simbah. Itu yang bikin orang kembali lagi dan lagi,” ucapnya.
Warung Bu Darti adalah potret bagaimana sebuah kuliner tradisional bisa bertahan meski tren makanan datang silih berganti. Mula-mula ia tumbuh bukan karena iklan atau media sosial, melainkan dari mulut ke mulut, dari cerita keluarga ke keluarga lain.
Dan di antara hiruk Pasar Alun-alun Tegal, warung kepala kambing ini tetap setia menyajikan cita rasa lama yang tak pernah lekang oleh waktu.
==========
Tegalterkini.id adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto
Penulis: Tegalterkini.id
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































