Menuju konten utama

Warga Resah Lampu Lalu Lintas di Pusat Kota Bandung Masih Rusak

Warga menyayangkan lambannya perbaikan fasilitas umum oleh Pemkot Bandung. Terlebih kondisi demikian sudah berlangsung beberapa hari ke belakang.

Warga Resah Lampu Lalu Lintas di Pusat Kota Bandung Masih Rusak
Salah satu lampu lalu lintas yang masih rusak dan tidak berfungsi di sekitar Gedung Sate dan kantor DPRD Jabar, pertigaan Jalan Diponegoro - Cilamaya, Kota Bandung, pada Selasa (9/9/2025) sore. tirto.id/Amad NZ.

tirto.id - Sejumlah lampu lalu lintas di sekitar jalan Diponegoro dan persimpangan Dago masih belum menyala. Kerusakan fasilitas publik ini di Kota Bandung, terjadi usai gelombang aksi demontrasi solidaritas terhadap Affan Kurniawan yang berlangsung pada 29-30 Agustus 2025.

Pantauan kontributor Tirto, ada sebanyak sembilan lampu lalu lintas tidak berfungsi di pertigaan jalan Diponegoro menuju Cilamaya. Kondisi macet pun sempat terjadi lantaran matinya rambu-rambu tersebut. Pengemudi tampak bergantian melewati jalan dengan lamban.

Sementara itu, ada satu lampu lalu lintas yang mati di jalan Diponegoro menuju Sulanjana. Kondisi ini berbeda dengan kondisi lampu dari arah lain di perempatan tersebut, beberapa rambu sudah berangsur diperbaiki pemerintah kota.

Seorang pengendara, Ardie (34), menyayangkan lambannya perbaikan fasilitas umum oleh Pemkot Bandung. Terlebih kondisi demikian sudah dirasakannya beberapa hari ke belakang. Menurutnya, lampu lalu lintas yang mati membuat arus lalu lintas jadi tidak karuan.

"Arus kendaraan jadi semrawut, apalagi pas jam-jam masuk kerja. Lumayan crowded, sih. Kalau enggak salah, mulai mati itu sejak habis demonstrasi minggu lalu," ungkap pengendara asal Bandung Timur itu kepada Tirto, Selasa (9/9/2025).

Paling parah, kata Ardie, saat memasuki akhir pekan sekaligus libur panjang seperti kemarin. Ia mengaku amat terdampak dengan matinya lampu-lampu lalu lintas tersebut. Perjalanan pun menjadi lebih memakan waktu. Kondisi ini diperparah dengan perilaku beberapa pengemudi yang enggan mengalah saat berkendara.

"Kadang harus nunggu kendaraan dari arah lain dulu baru bisa lewat. Belum lagi kalau ada yang maksa jalan ngebut, rawan kecelakaan juga," sesalnya.

"Kadang ada [petugas lalu lintas], tapi nggak selalu. Kalau pas ramai banget biasanya ada petugas yang bantu atur. Tapi kalau nggak ada ya pengendara harus saling ngerti sendiri. Kadang malah saling klaksonan jadi bikin kagok," tambah Ardie.

Hal serupa dirasakan pengguna jalan lainnya, Lily (22). Kendati kawasan sekitar Cikapayang sudah tidak begitu semrawut lantaran rambu-rambu yang mulai diperbaiki, tapi kondisi sekitar Gasibu masih belum beres.

"Cuma yang di deket Taman Covid itu, yang depan Gasibu kayaknya agak susah. Apalagi kalau mau belok kanan dari arah pasopati/DU itu," jelasnya.

Ia pun menyayangkan sikap pemerintah yang baru mulai memperbaiki kerusakan pada Minggu (8/9/2025) kemarin. Menurutnya rambu-rambu lalu lintas harus segera diperbaiki secepat mungkin. Mengingat rambu-rambu sudah tidak berjalan kurang lebih satu minggu.

"Menurutku kelamaan sih, demonya juga udah dari minggu lalu kan. Mestinya sekarang udah beres, bukan baru mau mulai. Kalau [perbaikan butuh] tiga minggu mah kelamaan euy. Bandung aja kota termacet se-Indonesia, ditambah lampu lalin rusak, wah makin riweuh, apalagi di rush hour," keluh Lily.

Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengharapkan warga sabar dan berhati-hati saat berkendara dalam masa perbaikan fasilitas umum. “Kami pastikan perbaikan ini segera rampung," ungkap Farhan berdasarkan keterangan resmi yang dilihat Tirto, Selasa siang.

Ia menambahkan, perbaikan lampu lalu lintas di kawasan Dago akan berlangsung selama tiga minggu. Kerusakan parah pada lampu merah ini merupakan dampak peristiwa unjuk rasa pada 29-30 Agustus lalu.

Menurutnya, kerusakan lampu merah dikabarkan telah merembet hingga ke jaringan kabel bawah tanah. Bagian yang paling penting perbaikan infrastruktur, kata Farhan, terutama lampu lalu lintas di kawasan Dago-Cikapayang, Dago-Sulanjana, dan persimpangan Jalan Diponegoro-Cilamaya.

"Kerusakannya cukup parah, sampai kabel-kabelnya rusak, sehingga sistem harus dibongkar total,” sambungnya.

Ia menjelaskan, hingga saat ini untuk sementara waktu, pengaturan lalu lintas dilakukan secara manual dengan bantuan traffic cone dan petugas lapangan.

"Meskipun sederhana, cara ini cukup efektif karena masyarakat tetap bisa memahami alur lalu lintas. Namun untuk perbaikan menyeluruh dibutuhkan waktu minimal tiga minggu, dan proses pengerjaannya sudah mulai sejak kemarin,” jelas Farhan.

Baca juga artikel terkait FASILITAS UMUM atau tulisan lainnya dari Amad NZ

tirto.id - Flash News
Kontributor: Amad NZ
Penulis: Amad NZ
Editor: Siti Fatimah