Pandemi COVID-19

Varian Baru Corona jadi Penyebab Melonjaknya Kasus di Indonesia?

Oleh: Irwan Syambudi - 8 Juni 2021
Dibaca Normal 4 menit
Para epidemiolog sebut lonjakan kasus disebabkan banyak faktor, termasuk sudah menyebarnya varian baru Corona di Indonesia.
tirto.id - Pemerintah klaim peningkatan mobilitas masyarakat saat Hari Raya Idulfitri atau Lebaran 2021 menjadi penyebab lonjakan kasus COVID-19 di sejumlah daerah. Namun para epidemiolog menyebut lonjakan kasus disebabkan banyak faktor, termasuk sudah menyebarnya variant of concern (VoC) COVID-19 di Indonesia.

Setelah terjadi lonjakan tertinggi pada 30 Januari 2021 dengan 14.518 kasus positif COVID-19 dan menurun drastis hingga 2.385 kasus pada 15 Mei 2021 atau tiga hari setelah Idulfitri, pertambahan kasus kembali berangsur naik. Dalam sepekan terakhir, mulai 1 Juni 2021 terjadi penambahan kasus 4.824; 2 Juni 5.246 kasus; 3 Juni 5.353 kasus; 4 Juni 6.486 kasus; 5 Juni 6.594 kasus; 6 Juni 5.832 kasus; dan 7 Juni 6.993.

Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas COVID-19 Dewi Nur Aisyah saat memberikan paparan pada Rapat Koordinasi Satgas COVID-19 Nasional, 7 Juni 2021 mengatakan terjadi kenaikan kasus aktif di 19 provinsi dalam sepekan terakhir.

Sebanyak 19 Provinsi yang mengalami tren kenaikan persentase kasus aktif itu di antaranya: DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Papua, Aceh, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, Lampung, Sumatera Selatan, Yogyakarta, NTT, Maluku, Banten, Maluku Utara, Sulawesi Barat, dan Papua Barat.

Sementara berdasarkan perbandingan jumlah kasus aktif antara pekan ini dengan pekan sebelumnya, kata Dewi, terjadi tren kenaikan pada lebih banyak provinsi yakni 21 satu provinsi.

“Ada 21 pada 7 hari terakhir mengalami rata-rata kenaikan kasus. Bagi saya ini adalah alarm atau lampu kuning agar lebih berhati-hati sehingga dapat menekan jumlah kasus aktif pada pekan ke depan,” kata Dewi.



Penambahan kasus harian dan kenaikan kasus aktif menyebabkan makin sesaknya rumah sakit, tingkat keterisian bed occupancy rate (BOR) pasien COVID-19, baik isolasi maupun ICU pun meningkat dalam sepekan terakhir. Terdapat 7 provinsi dengan dengan BOR isolasi dan ICU COVID-19 di atas 50 persen di antaranya adalah Kepulauan Riau 70 persen; Kalimantan Barat 65,7 persen; Jawa Tengah 59,9 persen; Jambi 53,6 persen; Riau 52,8 persen; Jawa Barat 51 persen dan Sumatera Barat, 50,6 persen.

Namun, jika ditarik ke daerah sejumlah kota dan kabupaten sudah semakin kewalahan menampung pasien COVID-19 karena BOR mengalami kenaikan 100 persen. Hal itu diakui oleh Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi.

“Dampak mudik dan libur Idulfitri maka ada kenaikan BOR, klaster dan kasus meningkat […] kenaikan BOR 80-100%,” kata Nadia kepada reporter Tirto, Senin (7/6/2021).



Epidemiolog Universitas Indonesia Pandu Riono mengungkapkan berdasarkan data yang ia peroleh, kenaikan BOR hingga 100 persen itu terjadi di Kabupaten Toba Samosir, Musi Rawas Utara, Ogan Komering, Muara Enim, Majalengka, Landak, Melawi, Bengkayang, Kotawaringin Timur, Bantaeng dan Lanny Jaya.

Kenaikan kasus diikuti makin sesaknya rumah sakit oleh pasien COVID-19 ini, menurut Pandu, ada indikasi disebabkan oleh varian baru atau variant of concern yakni varian B117 atau Alpha dari Inggris, P1 atau Gamma dari Brazil, B1351 atau Beta dari Afrika Selatan dan B1617 atau Delta dari India.

Berdasarkan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) dan dilaporkan di laman resmi Global Initiative for Sharing All Influenza Data (GISAID), inisiatif sains global dan sumber utama yang menyediakan akses terbuka ke data genom virus influenza dan Corona yang bertanggung jawab atas pandemi COVID-19, total ada 66 VoC yang diidentifikasi di Indonesia. Masing-masing varian Alpha 30 kasus, Beta empat kasus, dan Delta 32 kasus.

VoC terbukti secara ilmiah dapat menular dengan cepat dan terindikasi dapat menularkan kepada orang yang telah divaksin. Kasus-kasus yang terjadi saat ini yang menyebabkan lonjakan seperti di Kudus dan Bangkalan itu menurut Pandu terindikasi disebabkan oleh VoC.

“Kalau tidak karena VoC apa lagi? Kenapa kok tiba-tiba banyak nakes yang kena [COVID-19]. Semua kejadian di Kudus, di Bangkalan dan Bandung itu banyak yang kena meski mereka sudah divaksin. Ini yang kami khawatirkan dari mutasi virus adalah menurunkan daya lindung vaksin.”



Epidemiolog asal Indonesia di Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan lonjakan kasus COVID-19 dipengaruhi oleh banyak faktor. Khusus yang terjadi di Indonesia, lonjakan yang terjadi saat ini merupakan akumulasi dari kasus-kasus yang selama ini tak terdeteksi dan terus menularkan.

“Ketika mereka tidak teridentifikasi, maka tidak bisa diputus kecepatan penyebarannya karena mereka tidak menjalani isolasi dan karantina. Ditambah lagi saat ini yang beredar di Indonesia juga dipengaruhi varian baru, khususnya yang lebih dulu masuk itu varian Alpha yang 70 persen lebih cepat menular,” kata Dicky kepada reporter Tirto, Senin (7/6/2021).

Dengan semakin cepat menular itu, maka meningkatkan risiko paparan pada kelompok berisiko di masyarakat. “Sehingga kenapa terjadi potensi puncak kasus di akhir Juni. Di sisi lain adanya varian Delta juga mengancam karena ada potensi puncak berikutnya yang jauh lebih besar kalau kita tidak mitigasi,” kata Dicky.

Perihal indikasi lonjakan kasus yang disebabkan oleh VoC ini, terutama di daerah-daerah tertentu seperti Kudus dan Bangkalan, Juru Bicara Kemenkes Siti Nadia Tarmizi bilang, “Ada potensi itu [lonjakan kasus karena VoC]”, tapi hal itu belum dapat dibuktikan karena pemeriksaan spesimen untuk mengidentifikasi varian virus yang merebak di sejumlah wilayah terjadinya lonjakan belum selesai dilakukan.



Menangani Lonjakan Kasus

Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam pernyataan pers resmi yang disampaikan melalui YouTube Sekretariat Presiden, Senin (7/6/2021) mengatakan telah mempersiapkan kondisi terburuk jika semua pasien COVID-19 mesti masuk ke rumah sakit.

“Saya sudah sampaikan minggu lalu bahwa kita sudah mempersiapkan 72 ribu tempat tidur (TT) isolasi. Pada 18 Mei lalu baru terisi 22 ribu sekarang sudah ada kenaikan sampai ke 31 ribu,” kata Budi.

Dari lonjakan-lonjakan kasus sebelumnya yang terjadi usai libur panjang, puncak kenaikan kasus terjadi 5-7 pekan setelahnya. Oleh karena itu, ia memperkirakan kenaikan kasus akan terjadi sampai akhir Juni atau awal Juli.

Ia mengakui memang terjadi peningkatan kasus yang sangat tinggi di Kudus dan Bangkalan. Yang semula keterisian ruang isolasi pasien COVID-19 di Kudus hanya 40-an, kini kurang dari dua pekan meningkat sampai 350-an pasien. Hal serupa juga terjadi di Bangkalan yang semula keterisian tempat tidur hanya 10-an sekarang menjadi 70 sampai 80.

“Kenaikan yang tinggi ini terjadi karena adanya peningkatan kasus. Kita tahu Kudus adalah daerah ziarah, sedangkan di [Bangkalan] Madura banyak pekerja migran yang pulang dari negara tetangga,” ujarnya.

Khusus di dua daerah itu kini pihaknya telah melakukan upaya dengan mengurangi beban rumah sakit yang mulai penuh. Untuk itu, pasien COVID-19 di dua daerah itu dirujuk ke daerah-daerah terdekat, yang di Kudus dirujuk ke Semarang dan yang di Bangkalan dirujuk ke Surabaya.

Selain itu, kata Budi, Kemenkes telah mengirimkan tambahan dokter dan perawat di rumah sakit di Kudus dan Bangkalan. Hal ini untuk mengurangi tekanan terhadap para nakes di daerah tersebut yang sudah banyak terpapar COVID-19.

“Di kudus ada 300 lebih nakes terpapar, tapi karena sudah divaksin, kondisi mereka masih baik, termasuk satu dokter spesialis yang usianya sudah 70 tahun alhamdulillah kondisinya juga baik,” kata Budi.

Selain itu, upaya memperketat protokol kesehatan dan peningkatan kapasitas testing di daerah tersebut juga akan dilakukan. Kemudian Kemenkes juga akan segera mengirimkan masing-masing 50 ribu dosis vaksin di dua kabupaten tersebut dengan harapan dapat menekan angka penularan.


Baca juga artikel terkait UPDATE COVID-19 INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight