Menuju konten utama

Update Korban Gempa Venezuela: 188 Orang Tewas, 1.500 Terluka

Dua gempa 7,2 dan 7,5 magnitudo mengguncang Venezuela, menewaskan 188 orang dan melukai lebih dari 1.500 warga, sementara ribuan dilaporkan hilang.

Update Korban Gempa Venezuela: 188 Orang Tewas, 1.500 Terluka
Tim penyelamat mencari korban di sebuah bangunan yang runtuh akibat gempa bumi di Caracas pada 24 Juni 2026. Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Venezuela pada hari Rabu, menurut laporan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), yang memicu kepanikan di Caracas sebagaimana dilaporkan oleh jurnalis AFP. AFP/ Manaure Quintero
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jumlah korban meninggal di Venezuela bertambah menjadi 188 orang menurut data hingga Jumat (26/6/2026) pukul 07.00 WIB.

Warga Venezuela menyisir reruntuhan bangunan yang ambruk pada Kamis (25/6/2026) untuk mencari korban selamat, sementara tim penyelamat bergerak cepat menuju wilayah utara yang diguncang dua gempa bumi dahsyat.

Mengutip pernyataan AP News, Jumat (26/6), pejabat setempat menyatakan sedikitnya 188 orang tewas, 1.500 luka-luka, ribuan masih hilang, dan lebih dari 200 orang masih tertimbun bangunan.

Korban jiwa dikhawatirkan terus bertambah akibat dua gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 magnitudo yang mengguncang pada Rabu (24/6/2026) malam.

Gempa ini termasuk yang terkuat di Venezuela dalam lebih dari satu abad terakhir dan terasa hingga ke seluruh penjuru kawasan. Sejumlah gedung dievakuasi hingga sejauh wilayah Amazon, Brasil.

Merespons bencana ini, Departemen Keuangan AS pada Kamis memutuskan menangguhkan sebagian sanksi hingga 23 Oktober guna memungkinkan transaksi terkait upaya bantuan gempa di Venezuela yang sebelumnya dilarang.

Televisi negara Venezuela menayangkan rekaman dramatis proses penyelamatan, salah satunya seorang perempuan yang tertimpa lempengan beton, hanya telapak kakinya yang tampak, sebelum akhirnya berhasil diselamatkan dalam keadaan hidup.

Namun, tim pencarian nyaris tak terlihat di luar Caracas. Kawasan pesisir La Guaira, di utara ibu kota, mengalami kerusakan dan korban paling parah. Bandara utama negara itu berlokasi di sana dan terpaksa ditutup akibat kerusakan, sehingga mempersulit upaya pengiriman bantuan.

Bencana alam ini menjadi cobaan terbaru bagi Presiden Delcy Rodríguez, mantan wakil presiden yang mengambil alih jabatan sejak Januari setelah penangkapan Maduro.

Venezuela telah dilanda kekacauan ekonomi selama lebih dari satu dekade, dan banyak pihak menolak mengakui legitimasi gerakan politik yang diwakili Rodríguez.

Kesaksian Tim Pencari Soal Kondisi Venezuela

Sebuah kelompok pencari nirlaba yang membantu evakuasi warga menggambarkan situasi di wilayah yang terdampak dua gempa kembar itu sebagai "berbahaya dan rumit".

Salah satu tantangan terbesar dalam membantu warga di negara itu adalah komunikasi, kata Bryan Stern, pendiri Grey Bull Rescue yang berbasis di Florida, dikutip BBC, Jumat (26/6).

"Banyak orang terluka dan membutuhkan pertolongan, namun mereka bahkan tak bisa meminta bantuan. Orang-orang di lapangan membutuhkan segalanya. Mereka butuh pakaian. Mereka butuh komunikasi. Mereka butuh tempat tinggal," ujar Stern.

Kelompok Stern juga bekerja sama dengan organisasi lain untuk mendistribusikan bantuan dan tengah membawa paket komunikasi lengkap ke wilayah tersebut. Namun, ia menyebut timnya membutuhkan sumber daya finansial untuk terus berkontribusi dalam upaya penanganan bencana ini.

"Kami menghabiskan malam di alun-alun umum. Sebagian besar tetangga tidur di jalanan. Saya punya teman yang anggota keluarganya hilang," ujar Leander Perez, warga pusat Caracas, kepada BBC, Rabu (25/6).

Petugas darurat bergegas menjangkau orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan di Caracas dan negara bagian La Guaira. Beberapa jam ke depan menjadi penentu dalam upaya menyelamatkan para korban.

Kerusakan ini berpotensi memperburuk kondisi kehidupan jutaan warga Venezuela di tengah krisis kemanusiaan yang sudah "sangat parah", demikian peringatan lembaga amal Oxfam.

Berbagai negara di seluruh dunia turun tangan menawarkan dukungan finansial dan logistik untuk respons darurat ini, termasuk Inggris, AS, Qatar, Meksiko, China, dan Rusia.

Pemerintahan Trump mengerahkan aset militer dan tim khusus untuk membantu upaya pencarian dan penyelamatan, sekaligus menggerakkan lebih dari 200 juta dolar AS dalam bentuk bantuan.

Baca juga artikel terkait GEMPA atau tulisan lainnya dari Dipna Videlia Putsanra

tirto.id - Flash News
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Anggun P Situmorang