tirto.id - Terletak di pesisir selatan Jawa Timur, Pacitan kini mengusung city branding baru “70-Mile Sea Paradise.” Nama ini lahir dari kekayaan alam Pacitan: pantai-pantai eksotis, goa-goa bersejarah, hingga lanskap karst yang khas.
Selain itu, Pacitan yang memiliki luas wilayah 1.389,87 km² juga dikenal sebagai kampung halaman Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dengan karakter geografisnya yang unik, kabupaten ini menawarkan deretan pantai dengan keindahan dan ciri khasnya masing-masing.
Contohnya, Pantai Soge di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo. Para traveler kerap menyebut pantai ini punya lanskap yang tak kalah memukau ketimbang Great Ocean Road di Australia.
Betapa tidak, Jalur Lintas Selatan yang mulus, lebar, dan sarat kelokan bersisian dengan samudera biru dengan ombak-ombak putihnya yang senantiasa berkejaran. Di sisi lain, bukit-bukit kars menjulang, menjadi dinding alami yang menawarkan keteduhan dengan deretan pepohonannya yang hijau rindang.
Di hadapan bentangan luas seperti ini, siapa pun akan dibuat terpesona. Pantai ini sering menjadi spot favorit untuk berfoto dan melepas penat.
Uniknya, meski pantai demi pantai di Pacitan menawarkan pemandangan yang bikin betah, narasi mengenai pantai-pantai tersebut, yang dirilis Pemerintah Daerah Pacitan, justru dibalut cerita lokal sarat mistik. "Soge diambil dari pohon soge, dipercaya jadi alun-alun ghaib yang ramai di malam hari," bunyi keterangan tentang Pantai Soge pada dinding promosi 70-Mile Sea Paradise di Pantai Pancer Dor.
Pantai lainnya, Watu Bale, diberi narasi sebagai tempat rapat Nyi Roro Kidul dan kereta kencana emas. Watu Bale, artinya batu balai-balai, dipercaya sebagai batu sakral di Laut Pacitan. Pantai yang berlokasi di Desa Jetak, Kecamatan Tulakan ini memang memiliki batu karang yang bentuknya menyerupai balai-balai. Sebab itulah warga setempat meyakininya sebagai tempat rapat Ratu Kidul.
Pantai Butun di Desa Plumbungan, Kecamatan Kebonagung juga juga tak lepas dari narasi lokal yang khas. "Tersembunyi di bawah tebing dan pohon butun, mitosnya berkesan mistis dan sakral. Sekilas, dilihat dari atas, penampakan Pantai Butun bakal mengingatkan wisatawan pada karakter batu karang Nusa Penida, Bali. Bedanya, pantai ini memiliki area berpasir, tetapi dari atas terlindungi oleh besarnya batu karang.
Goa Gong

Sebelum menjadikan pantai sebagai destinasi wisata unggulannya, Pacitan lebih dulu dikenal sebagai Kota 1001 Goa. Citra ini juga tidak berlebihan, sebetulnya, sebab memang demikianlah adanya. Salah satu goa di Pacitan, Goa Gong, disebut-sebut sebagai salah satu goa paling indah di Asia Tenggara.
Goa Gong pertama kali ditemukan oleh Mbah Noyo Semito dan Mbah Joyorejo pada 1924. Kedua orang tersebut sampai ke Goa Gong untuk mencari air. Setelah ditemukan, Goa Gong sempat ditutup dan baru dibuka lagi pada 1995, 71 tahun kemudian. Adapun generasi kedua para penemu Goa Gong adalah Wakino, Suramin, Paino RT, Suparni, Suyadi, Paino GR, Misno, dan Suyatno. Nama para penemu terpahat di dinding goa di sisi kanan pintu masuk.
Menurut Sri Rezeki, 37 tahun, pemandu, sebutan Goa Gong diberikan warga sebab salah satu batuan di dalamnya menimbulkan gema atau bunyi mirip bunyi gong jika ditepuk. Saat ini, goa dengan kedalaman kurang lebih 300 meter itu dilengkapi tangga semen, susuran besi, lampu, dan kipas angin. "Saat pertama kali dibuka kembali, untuk menuruni goa orang-orang menggunakan tali," ungkap Sri, Rabu (4/9/2025).
Disinggung soal kisah mistik, Sri tak menampik. "Dulu, orang-orang kerap mendengar bunyi gamelan dari dalam goa," kata Sri.
Salah satu daya pikat Goa Gong adalah susunan stalaktit dan stalagmitnya yang eksotis, terdiri atas beragam batuan mineral, antara lain marmer, gamping, amethyst, bahkan kristal.
"Ketika Pak SBY mendatangi goa ini saat beliau menjabat sebagai presiden, beliau usul agar di dalam goa dipasang lampu warna-warni, biar lebih indah," kata Sri. Sebelum SBY datang, bagian dalam Goa Gong hanya dihiasi neon putih.
Museum & Galeri SBY☆ANI

Pacitan memang tak terpisahkan dari SBY, demikian juga sebaliknya. Tak mengherankan jika SBY pun mendirikan Museum & Galeri SBY☆ANI. Dengan arsitektur berlanggam klasik dan fasad putih, gedung ini sekilas mirip Taj Mahal, tetapi dalam versi lokal: monumen cinta SBY kepada mendiang istrinya, Ani Yudhoyono.
Di gedung ini, wisatawan bisa mendapati babak demi babak yang membentuk SBY sejak kecil sampai sekarang. Mulai dari pemain bass hingga menjadi tentara, serta saat menjadi presiden dan kini dikenal sebagai perupa. Ya, selain memamerkan fragmen-fragmen kehidupan SBY, Museum & Galeri SBY☆ANI juga menampilkan lukisan-lukisan karya SBY maupun lukisan-lukisan yang dikoleksi pasangan tersebut selama 40 tahun berumah tangga.
"Sebagian besar dari koleksi ini justru dilukis oleh para pelukis bersahaja dan lukisan itu saya dapatkan (beli) di sudut-sudut kota dan 'Galeri Rakyat'. Bagi kami, semuanya indah memiliki kenangan yang manis."
Jika Anda bertanya dari mana bakat seni SBY muncul, sedangkan sebagian besar kehidupannya dihabiskan sebagai militer, jawabannya bisa ditemukan pada sesi masa kecil SBY. Sebuah foto menampakkan kawasan Pacitan Tempo Doeloe, keterangannya: Sewaktu duduk di bangku SD-SMA, SBY sering mengunjungi Pantai Teleng Ria untuk berseni dan bermain voli.
Embung Tremas Kawasan Ekowisata Anyar

Selain pantai demi pantai, goa-goa, serta Museum & Galeri SBY☆ANI, destinasi lain yang patut kamu kunjungi sekiranya bertandang ke Pacitan adalah Embung Tremas di Desa Tremas, Kecamatan Arjosari. Fasilitas konservasi air Embung Tremas dibangun oleh The Coca-Cola Foundation dan Yayasan Obor Tani, dilengkapi solusi inovatif pengelolaan sampah organik oleh Coca-Cola Foundation Indonesia bersama BenihBaik.com. Kehadirannya memperkuat visi jangka panjang Tremas sebagai destinasi ekowisata lokal.
“Diharapkan semua program ini dapat memberdayakan masyarakat secara keseluruhan, dan Embung Tremas dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk pertanian yang punya nilai ekonomi tinggi. Area ini juga berpotensi menjadi destinasi ekowisata mengingat keindahan alamnya,” ungkap Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji.
Terlepas dari kekayaan lanskapnya, Pacitan juga kaya akan keragaman budaya dan kuliner. Untuk kekayaan budaya, Pacitan punya Batik Pace (mengkudu), Wayar Beber, dan Kethek Ogleng, sedangkan untuk kuliner ada Tempe Benguk dan Nasi Tiwul. Semua itu bisa kamu nikmati dan saksikan langsung di Pacitan atau dibawa pulang sebagai kenang-kenangan yang menyenangkan.
Editor: Nuran Wibisono
Masuk tirto.id

































