Periksa Fakta

Uji Klaim Rumput Paragis Obati Beragam Penyakit, Termasuk Kanker

Oleh: Irma Garnesia - 15 April 2021
Dibaca Normal 3 menit
Rumput paragis memiliki manfaat sebagai antioksidan, namun bagaimana keampuhannya mengobati kanker?
tirto.id - Sebuah unggahan di media sosial membahas manfaat rumput paragis, atau sering juga disebut rumput belulang, untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Unggahan akun Facebook bernama "Bae Zulmi Juminten" diantaranya mengklaim bahwa rumput paragis merupakan kelompok jamu yang bisa dijadikan obat kanker dan benjolan. Unggahan itu juga menyebutkan bahwa tumbuhan ini bisa menyembuhkan penyakit kista ovarium, miom (daging tumbuh non-kanker dalam rahim), kista di payudara, haid tidak teratur, polip serviks, hipertensi, diabetes, infeksi saluran kemih (Urinary Tract Intections/UTI), wasir, diare, ketombe, demam, asma, epilepsi, hingga penyakit gondok.

Akun tersebut kemudian menuliskan cara mengolah ramuan rumput paragis, yakni dengan cara merebus satu genggam paragis di dalam 1 liter air selama 10 menit. Kemudian, hasil rebusan tersebut dimasukkan ke dalam toples kaca. Menurutnya, ramuan tersebut sebaiknya diminum sebanyak satu gelas, satu jam sebelum makan serta sebelum tidur. Sisanya bisa dimasukkan ke lemari es untuk digunakan dengan cara dipanaskan keesokan harinya. Menurut pengunggah klaim ini, olahan rumput paragis sebaiknya terus dikonsumsi hingga kondisi orang yang meminum ramuan ini membaik.

Periksa Fakta Rumput Paragis Obati Kanker
Periksa Fakta Rumput Paragis Obati Kanker. (Screnshoot/Facebook/Bae Zulmi Juminten)


Unggahan tersebut dipublikasikan pada 11 Maret 2021. Hingga 14 April, unggahan tersebut telah dibagikan sebanyak 10 ribu kali dan mendapatkan reaksi dari 3,4 ribu orang. Tirto mengarsipkan unggahan tersebut di sini. Selain dari Bae Zulmi Juminten, unggahan yang sama juga ditemukan di sini, sini, dan sini. Informasi mengenai klaim khasiat rumput paragis ini, termasuk untuk mencegah kanker, juga disebarkan di media-media seperti Tribun Jambi.

Namun, benarkah klaim-klaim khasiat dari rumput paragis yang disebutkan dalam unggahan tersebut?

Penelusuran Fakta

Tirto menelusuri beragam referensi terkait rumput paragis. Penelusuran dilakukan melalui jurnal-jurnal ilmiah dan meminta pendapat ahli terkait klaim-klaim yang disampaikan di media sosial.

Berdasarkan situs klasifikasi tumbuhan, Plantamor, rumput paragis dalam Bahasa latin disebut sebagai Eleusine indica, spesies yang hidup di daerah tropis dan sub tropis.

Menurut Centre for Agriculture and Bioscience International (CABI), pusat informasi agrikultur dan biosains internasional, tanaman ini termasuk jenis rerumputan yang dominan. Satu tanaman ini bisa memproduksi lebih dari 50.000 biji-bijian kecil yang tersebar melalui angin dan air. Menurut sumber itu pula, rumput paragis bisa dikonsumsi baik oleh manusia maupun untuk ternak. Rumput paragis merupakan gulma penting yang sering digunakan sebagai halaman rumput hingga di lapangan golf. Tumbuhan ini subur di daerah dengan sinar matahari yang baik.

Adapun mengenai khasiatnya, penelitian Adel S. Al-Zubairi dkk berjudul “Eleucine indica Possesses Antioxidant, Antibacterial and Cytotoxic Properties” yang dipublikasikan di Evid Based Complement Alternat Med pada Juni 2011, menemukan bahwa rumput paragis memiliki properti antioksidan. Pada latar belakang penelitian, disebutkan pula bahwa rumput paragis, terutama akarnya, bermanfaat sebagai obat diuretik (obat untuk membuang kelebihan garam dan air dari dalam tubuh melalui urine), detoksifikasi, penurun demam, dan karenanya digunakan untuk mengobati influenza, hipertensi, dan oliguria (produksi urin sedikit).

Penelitian itu juga mencatat bahwa rumput paragis juga dimanfaatkan sebagai obat tradisional di Vietnam, dan juga digunakan untuk mengobati masalah ginjal di Trinidad dan Tobago. Biji paragis digunakan sebagai makanan dan mengobati keluhan hati. Penelitian Adel juga menyebutkan bahwa rumput paragis, seperti laiknya kebanyakan produk herbal, memiliki kegunaan tradisional yang kini diteliti untuk memfasilitasi pengobatan medis.

Selanjutnya, penelitian John Sylvester dkk berjudul “Evaluation of Anticancer Potential of Eleusine indica Methanolic Leaf Extract through Ras- and Wnt-related Pathways Using Transgenic Caenorhabditis elegans Strains” yang diterbitkan oleh Journal of Pharmaceutical Negative Results menyebutkan bahwa walaupun ada potensi anti-kanker dari tanaman ini, namun tidak ada dampak dari tanaman ini terhadap mutasi gen dari jalur sinyal yang berhubungan dengan kanker, yakni Wnt dan Ras.

Namun, meski beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tanaman ini memiliki fungsi membunuh sel-sel kanker (cytotoxic) dan anti radikal bebas, hal ini masih belum cukup dan masih perlu penelitian ilmiah lainnya untuk mendukung klaim ini.

Tirto juga meminta pendapat dr. Inggrid Tania, ketua umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI).

Ia menyatakan bahwa rumput paragis memang bersifat antioksidan dan memiliki sifat anti bakteri berdasarkan penelitian in vitro, atau pengujian obat di luar tubuh makhluk hidup.

"Tetapi sifat anti kankernya tidak terbukti," ungkapnya pada Tirto (13/4/2021).

Sebelumnya, Tirto juga pernah meminta pendapat Dokter Onkologi di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr. Aru Sudoyo, terkait obat-obat tradisional yang digunakan untuk terapi kanker. Menurutnya, bahan-bahan tradisional atau herbal secara umum baik untuk dikonsumsi. Pasalnya, memang ada manfaat dari mengonsumsi bahan-bahan tersebut untuk kekebalan tubuh dan kebugaran.



“Namun bahan-bahan tersebut hanya digunakan sebagai pendukung, bukan obat utama. Istilahnya ilmu kedokteran komplementer mendampingi terapi utama,” tuturnya pada Tirto (16/3/2021). Menurutnya, pengobatan yang meninggalkan terapi utama disebut sebagai pengobatan alternatif.

Kemudian, melansir lembaga pemeriksa fakta Turnbackhoax, Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional dari Kementerian Kesehatan RI, Ina Rosalina Dadan, juga menyatakan bahwa hingga saat ini tidak ada obat herbal yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah. Ini termasuk uji praklinik (pada hewan percobaan), uji klinik (pada manusia), serta uji bahan baku sehingga menjadi produk yang terstandardisasi.

Senada dengan Dokter Inggrid, Ina mengatakan bahwa memang ada obat herbal untuk menyembuhkan diabetes dan hipertensi, tetapi tidak untuk mengobati kanker. Menurutnya, obat herbal hanya dapat meringankan efek samping dari kemoterapi, meningkatkan kualitas hidup pasien kanker, dan membantu revitalisasi tubuh.


Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, rumput paragis memang memiliki banyak manfaat kesehatan sebagai antioksidan alami dan zat anti bakteri. Namun, masih perlu penelitian lanjutan dan uji klinis untuk menggunakan tanaman ini sebagai pembunuh sel-sel kanker. Dengan demikian, unggahan di Facebook terkait keampuhan rumput paragis bersifat salah sebagian (partly false).


==============

Tirto mengundang pembaca untuk mengirimkan informasi-informasi yang berpotensi hoaks ke alamat email factcheck@tirto.id. Apabila terdapat sanggahan ataupun masukan terhadap artikel-artikel periksa fakta maupun periksa data, pembaca dapat mengirimkannya ke alamat email tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Farida Susanty
DarkLight