Turbulensi Keuangan Garuda yang Tak Kunjung Reda

Oleh: Dano Akbar M Daeng - 30 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
Hingga September 2017, kerugian Garuda melonjak 404,53 persen. Kondisi tersebut dinilai akan sangat sulit bagi manajemen untuk membukukan keuntungan di akhir 2017.
tirto.id - Akhir Agustus lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kinerja PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang terus merugi. Dalam sebuah rapat kerja dengan DPR pada 30 Agustus 2017, Sri Mulyani memang mendapat cecaran soal kinerja Garuda yang memburuk.

"Kami nanti akan periksa. Tentu kalau investasinya salah, itu kemudian menimbulkan masalah yang serius. Kalau dari sisi efisiensi, seharusnya bisa diperbaiki. Sedangkan kalau ada sesuatu yang sifatnya fundamental, apakah tata kelola, kami akan investigasi secara lebih serius lagi," katanya, seperti dilansir dari Antara.

Komitmen itu disampaikannya setelah melihat kinerja Garuda yang mencatat kerugian hingga 283,8 juta dolar AS atau Rp3,77 triliun pada semester I tahun 2017.

Memasuki triwulan ketiga, kinerja Garuda memang membaik. Capaian ini memang sudah bisa diprediksikan mengingat pada triwulan ini terjadi peningkatan jumlah penumpang sehubungan dengan musim liburan dan mudik.

Emiten berkode saham GIAA ini membukukan laba bersih sebesar $61,9 juta sepanjang Juli-September 2017. Laba ini naik 216,1 persen dibandingkan periode yang sama pada 2016. Pendapatan usaha naik 11,2 persen, dari $1,101 miliar pada kuartal III-2016 menjadi $1,225 miliar pada kuartal III 3-2017. Pendapatan usaha tumbuh 8,58 persen atau menjadi $3,111 miliar dari $2,865 miliar pada kurun waktu serupa tahun sebelumnya.

Capaian positif pada triwulan III tersebut mampu menekan kerugian Garuda. Namun, secara keseluruhan, Garuda masih mencatatkan rugi bersih sekitar $222 juta atau sekitar Rp3 triliun sepanjang periode Januari-September 2017. Kerugian ini membengkak 404,53 persen, padahal pada periode sama tahun lalu kerugian perusahaan hanya $44 juta.

Selain itu, beban usaha GIAA meningkat 12,83 persen atau menjadi $3,235 miliar per akhir September 2017 dari periode yang sama tahun lalu sekitar $2,867 miliar. Salah satu penyumbang membengkaknya beban usaha yakni operasional penerbangan yang naik sebesar 14,03 persen menjadi $1,861 miliar, dibandingkan tahun lalu sebesar $1,632 miliar.

Kembali ke belakang, pada periode 2010 hingga 2012, GIAA sempat mencetak pertumbuhan laba bersih yang signifikan. Dimulai dari $39 juta pada 2010, meningkat pada 2011 menjadi $64 juta, kemudian memuncak pada 2012 menjadi $110 juta. Pada periode ini juga GIAA gencar melakukan ekspansi dan inovasi, seperti menambah rute penerbangan domestik dan internasional, hingga menambah jumlah armadanya.

Sayangnya pada akhir 2013 laba bersih perusahaan justru tergerus hingga 90 persen menjadi $11 juta. Alasan Emirsyah Satar, Direktur Utama GIAA kala itu, laba bersih merosot tajam akibat pengaruh gejolak nilai tukar rupiah. Setahun berselang, Emirsyah yang sudah menjabat selama dua periode itu mengundurkan diri pada Desember 2014. Ia mengakhiri masa jabatan tiga bulan lebih cepat. Pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas kemudian menunjuk Arif Wibowo yang sebelumnya memimpin PT Citilink Indonesia sebagai dirut Garuda Indonesia.

Baca juga: Kasus Suap Menodai 10 Tahun Karier Emirsyah

Arif tidak beruntung. Ia didaulat sebagai dirut ketika kondisi keuangan semakin memburuk. Emirsyah mewariskan "pekerjaan rumah" yang berat, yakni kerugian perusahaan. Pada 2014, GIAA berbalik rugi sebesar $371 juta. Kerugian tersebut timbul akibat membengkaknya beban usaha dari semula $3,7 miliar sepanjang 2013 menjadi $4,2 miliar. Operasional penerbangan dan pemeliharaan/perbaikan menjadi beban usaha yang paling mencolok. Operasional penerbangan naik menjadi $2,5 miliar sepanjang 2014 yang semula $2,2 miliar sepanjang 2013. Adapun pemeliharaan melonjak dari yang semula sebesar $287 juta sepanjang 2013, menjadi $420 juta sepanjang 2014.

Sejak awal dilantik, Arif langsung mencetuskan kebijakan agar perusahaan melakukan efisiensi. Dampaknya cukup tercermin dalam laporan kinerja periode 2015, beban usaha mampu ditekan menjadi $3,7 miliar. Laba rugi pun mampu berbalik menjadi untung sebesar $77,9 juta. Hal itu ditopang berkat penghematan operasional penerbangan serta pemeliharaan.

Manfaat efisiensi ternyata berlanjut di sepanjang 2016. GIAA masih mampu kembali mencetak laba bersih sebesar $9,3 juta. Meski begitu, angka tersebut terbilang merosot hingga 87,99 persen dari tahun 2015 yang mencapai $77,974 juta. Anjloknya keuntungan diklaim Arif akibat ketatnya persaingan harga tiket antarmaskapai, dan adanya pelambatan ekonomi yang berdampak pada turunnya daya beli masyarakat.

Selama 2016, GIAA melakukan penambahan kapasitas penerbangan sebagai bagian dari program pengembangan revitalisasi armada dengan mendatangkan 17 pesawat, yaitu terdiri dari empat pesawat ATR 72-600, empat pesawat A330-300, satu pesawat B777-300ER, dan delapan pesawat A330-200. Terhitung hingga akhir 2016, GIAA mengoperasikan sebanyak 196 pesawat dengan rata-rata usia pesawat mencapai 4,6 tahun.

Pada 12 April 2017 Menteri BUMN Rini Soemarno menunjuk Pahala N. Mansury sebagai Direktur Utama GIAA. Tujuan penunjukan Pahala yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Keuangan Bank Mandiri itu yakni untuk membenahi kondisi keuangan Garuda Indonesia. Pada kenyataannya, sepanjang periode Januari-September 2017, GIAA justru didera kerugian yang membengkak lebih dari empat kali lipat dibanding periode sama pada 2016.

Infografik garuda terbang

Prospek 2017

Melonjaknya kerugian di sepanjang Januari-September 2017 ditengarai merupakan kelanjutan dari kerugian perusahaan sepanjang semester 1-2017. Kondisi tersebut dinilai akan sangat sulit bagi manajemen untuk membukukan keuntungan di akhir 2017.

"Menurut saya tahun ini net profit masih negatif. Karena loss-nya terlalu besar pada semester 1-2017," kata Equity Research Analyst Ciptadana Securities, Fahressi Fahalmesta kepada Tirto.

Fahressi memperkirakan kinerja GIAA baru akan pulih pada tahun depan. Hal ini dilihat berdasarkan hilangnya beberapa komponen pengeluaran yang besar sebagaimana yang terjadi pada tahun ini seperti penalti tax amnesty sebesar $137 juta dan denda atas kasus persaingan usaha di Australia sebesar 10 juta dolar Australia.

"Saya lihat akan ada recovery tahun depan. Terlepas tidak adanya extraordinary expenses seperti tahun ini, mereka juga membidik cost efficiency," kata Fahressi kepada Tirto.

Meningkatnya kerugian GIAA menyebabkan defisit ekuitas yang belum dicadangkan membengkak jadi $444,4 juta. Pada kuartal III 2017, defisit ekuitas sudah mencapai $221 juta. Sementara jumlah ekuitas perusahaan saat ini sebesar $803 juta. Ekuitas perusahaan cukup membaik dibandingkan capaian semester 1-2017 yang hanya $717 juta.

"Dalam covenant (perjanjian) tidak memperbolehkan ekuitas di bawah $800 juta, lalu manajemen GIAA minta dilonggarkan. Akhirnya sekarang batas ekuitas diturunkan menjadi tidak boleh di bawah $500 juta. sampai dengan September 2017 ekuitas sudah kembali lebih dari $800 juta," ujar dia.

Dalam Pantauan Legislatif

Kondisi Garuda yang terus merugi mendapat perhatian dari wakil rakyat. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Azam Azman Natawijana mengatakan bahwa pihaknya sudah lama mengawasi secara khusus kinerja Garuda Indonesia. Ia menilai jika kerugian yang terjadi pada GIAA bukanlah kerugian yang sifatnya sesaat, melainkan kerugian yang struktural. Oleh karena itu, sudah seharusnya ada upaya-upaya khusus yang dilakukan manajemen perusahaan bersama Kementerian BUMN untuk mengatasi permasalahan tersebut.

“Bleeding ini harus segera diselesaikan. Kita dalam waktu dekat akan memanggil jajaran direksi. Kita akan tanyakan apa upaya yang telah dan akan dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan ini,” kata Azam kepada Tirto.

Menurutnya, setiap terjadi perubahan manajemen harusnya bisa membawa perusahaan ke arah yang lebih baik. Namun pada kenyataannya hingga saat ini masih belum juga menghasilkan apapun. “Nah kita akan tanyakan dulu terkait hal itu nanti dalam rapat. Dalam waktu dekat mereka akan kami undang rapat,” tutupnya.

Baca juga artikel terkait GARUDA atau tulisan menarik lainnya Dano Akbar M Daeng
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Dano Akbar M Daeng
Penulis: Dano Akbar M Daeng
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti