tirto.id - Memasuki satu bulan usia Perang Iran-Amerika Serikat (AS), Washington dilaporkan telah mengirimkan 15 poin tuntutan untuk mengakhiri perang. Namun, Teheran sebut tak ada negosiasi apa pun yang berlangsung.
Seturut BBC, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa Washington telah mengirimkan sejumlah ide penghentian perang melalui mediator. Meski tak mendetailkan apa yang dimaksud sebagai ide itu, namun tampaknya hal itu merujuk pada 15 poin tuntutan yang dibuat AS untuk menghentikan perang.
Sebelumnya, Gedung Putih menyatakan bahwa negosiasi antara Washington dan Teheran tengah "berlangsung" dan "produktif". Negosiasi itu kemudian dilaporkan merupakan 15 poin tuntutan yang dikirim AS melalui Pakistan selaku mediator.
Pada Selasa (24/3/2026), Presiden AS Donald Trump juga menyebut bahwa Iran sangat menginginkan adanya dialog untuk mengakhiri perang. Trump juga menyebut bahwa negosiator Iran telah memberinya "hadiah yang sangat signifikan" terkait minyak dan gas.
Meskipun begitu, Iran membantah secara terbuka bahwa telah terjadi proses negosiasi antara mereka dengan AS. Sebagaimana pernyataan Araghchi, Iran menjelaskan bahwa mereka mau mendengar, tetapi tidak sedang dalam negosiasi apa pun.
Di sisi lain, Iran juga memiliki tuntutan versi mereka sendiri untuk mengakhiri perang yang pecah sejak serangan AS-Israel ke Teheran pada 28 Februari 2026.
Sementara peluang perundingan masih simpang siur, AS dilaporkan tengah mengintensifkan pengerahan prajurit ke wilayah Teluk dengan mengirim ribuan prajurit darat. AS juga disebut tengah mempertimbangkan untuk merebut salah satu pulau kecil milik Iran.
Usulan AS dan Iran agar Perang Segera Berakhir
Dalam keterangannya, Gedung Putih menyatakan bahwa mereka tak pernah membuka kepada publik apa saja detail tuntutan untuk mengakhiri perang. Namun, media Israel, Channel 12, menyebut bahwa 15 poin tuntutan AS ke Teheran berisi sejumlah klausul.
Secara garis besar, proposal itu berisi jaminan bahwa Iran akan menghentikan upaya membangun senjata nuklir dan menghilangkan ancaman dari program rudal mereka. Sebelum pecah perang, nuklir merupakan klaim AS untuk mengonfrontasi Iran, kendati Teheran selalu membantah bahwa mereka tengah menyiapkan program senjata nuklir.
Tuntutan untuk mengakhiri program nuklir itu juga diikuti dengan tuntutan agar Teheran "berkomitmen untuk tidak pernah mengejar senjata nuklir", berjanji membongkar fasilitas nuklir, dan menyerahkan uranium yang telah diperkaya milik mereka ke Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Sedangkan, dalam hal eliminasi ancaman program rudal, Iran diminta untuk membatasi jumlah produksi dan jangkauan rudal mereka. Iran juga diminta untuk berhenti mendanai proksi regional mereka seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, dan Houthi di Yaman.
Pengurangan jumlah dan jangkauan rudal, juga menghentikan dukungan ke kelompok paramiliter di regional, sebelumnya merupakan tuntutan yang terus disuarakan Israel ke Iran sebelum dan saat serangan 28 Februari dilakukan.
Selain itu, 15 poin tuntutan juga berisi permintaan agar Iran kembali membuka Selat Hormuz sehingga jadi "koridor maritim bebas". Penutupan Selat Hormuz oleh Iran selama perang sejak Februari kini telah menyebabkan harga minyak dunia yang tak stabil dan meningkatkan kekhawatiran banyak negara di dunia.
Poin-poin tuntutan itu juga disebut berisi kemauan AS untuk mencabut sanksi internasional atas Teheran. Sanksi penuh terhadap Iran sebelumnya telah diberlakukan pada November 2025 lalu pasca Perang 12 Hari antara Iran dan Israel-AS. Sanksi itu membuat ekonomi Iran jatuh dan menimbulkan gelombang protes yang mematikan di seluruh negeri.
Ketika diminta mengonfirmasi informasi tentang isi proposal AS ke Teheran itu, Sekretaris Pres Gedung Putih Karolina Leavitt memberikan keterangan dalam konferensi pers pada Rabu bahwa sebagian sesuai, meskipun beberapa di antara yang diberitakan media "tidak sepenuhnya faktual".
Akan tetapi, poin-poin tuntutan Washington itu tak mendapatkan reaksi positif di kalangan pejabat Iran. Seturut sumber anonim Al Jazeera, Teheran menggambarkan proposal itu sebagai tuntutan yang terlalu berat dan "tidak masuk akal".
Di sisi lain, Iran memiliki tuntutan versi mereka sendiri. Dalam siaran televisi Pemerintah Iran pada Rabu (25/3/2026), seorang "pejabat senior politik-keamanan" Iran menyebut bahwa Teheran punya lima poin tuntutan untuk mengakhiri perang.
Tuntutan pertama Iran adalah syarat untuk melakukan penghentian total "agresi dan pembunuhan oleh musuh". Perang yang berlangsung sejak 28 Februari itu memang telah menimbulkan ribuan kematian dari pihak Iran, termasuk pemimpin tertinggi Iran kala itu Ayatollah Ali Khamenei.
Sepanjang berlangsungnya perang, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga rajin membuat ancaman pembunuhan kepada para pejabat Iran. Dalam beberapa kesempatan, Netanyahu mengungkap keinginan Israel untuk "memenggal kepala gurita".
Tuntutan Iran lainnya adalah jaminan berupa "mekanisme konkret untuk memastikan bahwa perang tidak diberlakukan kembali pada Republik Islam". Namun, tak dijelaskan bentuk jaminan seperti apa yang diinginkan Iran.
Selain itu, Teheran juga menuntut pembayaran ganti rugi perang dan reparasi atas dampak serangan AS-Israel. Iran juga menuntut hak untuk tetap memegang kendali penuh atas Selat Hormuz.
Lalu, Iran juga menuntut agar Israel berhenti menyerang sekutu Iran di kawasan Teluk. Sepanjang berlangsungnya Perang Iran dan AS-Israel, negara Zionis tersebut telah melebarkan target dari Teheran ke sejumlah negara yang jadi basis organisasi militer yang didukung Iran, seperti Lebanon dan Irak.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































