tirto.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal perdamaian terbaru yang diajukan Iran. Perang kedua negara kembali terbuka.
Dalam unggahan terbarunya di akun Truth Social, Donald Trump menyampaikan ketidak setujuannya dengan apa yang diusulkan Iran dalam proposal terbaru mereka.
“"Saya baru saja membaca tanggapan dari yang disebut 'Perwakilan' Iran. Saya tidak menyukainya — SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA! Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini." tulisnya di akun @realDonaldTrump pada 11 Mei 2026.
Trump menambahkan di unggahan lainnya berupa kritikan keras terhadap hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran selama beberapa dekade, khususnya terhadap kebijakan pemerintahan Barack Obama terkait perjanjian nuklir Iran.
Dalam pernyataan itu, Trump menuduh Iran selama 47 tahun memainkan permainan dengan AS dan dunia internasional melalui strategi menunda-nunda negosiasi sambil tetap memperkuat posisinya.
“Iran telah mempermainkan Amerika Serikat, dan seluruh dunia, selama 47 tahun (TUNDA, TUNDA, TUNDA!), dan akhirnya mendapatkan "keuntungan" ketika Barack Hussein Obama menjadi Presiden.” tulisnya.
Trump juga mengungkit pengiriman uang tunai sekitar 1,7 miliar dolar AS oleh pemerintahan Obama ke Teheran pada 2016.
“Ratusan miliar dolar, dan 1,7 miliar dolar dalam bentuk uang tunai, diterbangkan ke Teheran, diberikan kepada mereka di atas piring perak.” ujarnya lagi.
Beberapa hari sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat mengajukan proposal damai dengan tujuan membuka kembali jalur negosiasi dengan Iran.
Proposal itu pada dasarnya menginginkan penghentian pertempuran terlebih dahulu sebelum membahas isu-isu yang lebih sensitif, termasuk program nuklir Iran.
Namun, respons Iran yang diumumkan pada Minggu justru lebih menitikberatkan pada penghentian perang secara menyeluruh di berbagai wilayah konflik, terutama di Lebanon, tempat sekutu Amerika Serikat, yaitu Israel, masih terlibat perang dengan kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran.
Dalam tanggapannya, Teheran juga memasukkan sejumlah tuntutan yang dianggap cukup berat oleh Washington. Pemerintah Iran meminta kompensasi atas kerusakan akibat perang dan menegaskan kembali kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.
Selain itu, Iran mendesak Amerika Serikat mengakhiri blokade laut yang dilakukan armada AS, memberikan jaminan tidak akan ada serangan lanjutan, mencabut sanksi ekonomi, serta mengakhiri larangan ekspor minyak Iran.
Daftar tuntutan tersebut dilaporkan oleh media pemerintah Iran dan kantor berita semi-resmi Tasnim. Bagi Iran, syarat-syarat itu dianggap penting untuk memastikan keamanan nasional dan pemulihan ekonomi negara yang selama bertahun-tahun tertekan oleh sanksi Barat.
Namun hanya beberapa jam setelah proposal Iran dipublikasikan, Trump langsung menolaknya. Sikap keras Trump ini memperlihatkan bahwa negosiasi damai antara kedua negara masih menemui jalan buntu.
Penolakan tersebut juga memperkuat kekhawatiran pasar bahwa konflik geopolitik di kawasan Teluk akan berlangsung lebih lama dan terus mengancam stabilitas pasokan energi global.
Trump Tolak Proposal Damai Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak
Ketegangan antara Donald Trump dan pemerintah Iran kembali memicu gejolak pasar energi dunia setelah Trump menolak proposal perdamaian terbaru dari Teheran.
Penolakan cepat dari Trump menyebabkan harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin (11/5) karena pasar khawatir perang akan terus berlanjut dan menghambat jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.
Selat sempit tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia karena sebelum perang pecah pada 28 Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati kawasan itu.
Ketika jalur tersebut terganggu atau lumpuh akibat konflik, pasar langsung merespons dengan kenaikan harga minyak karena kekhawatiran terhadap pasokan global.
Harga minyak mentah melonjak lebih dari 4 dolar AS per barel setelah investor menilai tidak ada tanda-tanda deeskalasi dalam waktu dekat. Pasar energi saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan konflik karena kawasan Timur Tengah merupakan pusat produksi dan distribusi minyak dunia.
Para analis menilai pergerakan harga minyak kini sangat dipengaruhi oleh pernyataan politik dan perkembangan diplomatik antara Washington dan Teheran.
Analis pasar senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menyebut pasar minyak saat ini bergerak seperti mesin headline geopolitik.
"Pasar minyak terus bergejolak seperti mesin pemberitaan geopolitik, dengan harga yang berfluktuasi tajam berdasarkan setiap komentar, penolakan, atau peringatan yang datang dari Washington dan Teheran," kata Sachdeva dikutip Reuters (11/5).
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































