tirto.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama tiga minggu. Keputusan ini diambil setelah kedua pihak melakukan negosiasi yang berlangsung di Gedung Putih pada Kamis (23/4/2026).
Menurut Trump, pertemuan antara duta besar Israel dan Lebanon untuk Amerika Serikat berlangsung sangat baik dan menjadi kelanjutan dari dialog tingkat tinggi kedua negara yang sudah dimulai sejak pekan sebelumnya.
Gencatan senjata awal selama 10 hari, yang mulai berlaku pada Jumat (17/4/2026) sebelumnya, sebenarnya dijadwalkan berakhir pada hari Senin, namun kini diperpanjang untuk memberi ruang bagi negosiasi yang lebih luas.
Dalam pernyataannya, Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Lebanon untuk membantu negara tersebut melindungi diri dari Hizbullah.
“Presiden Amerika Serikat, DONALD J. TRUMP, Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, Menteri Luar Negeri, Marco Rubio, Duta Besar untuk Israel, Mike Huckabee, dan Duta Besar untuk Lebanon, Michel Issa, hari ini bertemu dengan Perwakilan Tingkat Tinggi Israel dan Lebanon di Ruang Oval,” tulis Trump di Truth Social @realDonaldTrump pada 24 April 2026.
“Pertemuan berjalan sangat baik! Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Lebanon untuk membantunya melindungi diri dari Hizbullah. Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon akan diperpanjang selama TIGA MINGGU,” lanjutnya.
Trump menyampaikan optimisme bahwa dirinya akan segera bertemu langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun untuk membahas langkah lanjutan menuju stabilitas di Lebanon.
“aya berharap dapat segera menjamu Perdana Menteri Israel, Bibi Netanyahu, dan Presiden Lebanon, Joseph Aoun. Merupakan suatu kehormatan besar untuk menjadi peserta dalam Pertemuan Bersejarah ini!” pungkasnya.
Trump Minta Iran Berhenti Danai Hizbullah
Dalam sesi tanya jawab setelah pertemuan dengan duta besar Israel dan Lebanon berakhir, Trump menegaskan jika AS akan menekan Iran dalam perundingan damai mereka untuk tidak lagi memberi sokongan dana pada kelompok bersenjata Hizbullah.
Trump juga berharap Israel dan Lebanon akan mencapai kesepakatan damai bersama dengan AS dan Iran.
“Akan sangat bagus jika ini bisa diselesaikan secara bersamaan dengan apa yang kita lakukan di Iran," kata Trump dikutip The Times of Israel (24/4/2026).
Hizbullah adalah kelompok bersenjata yang berbasis di Lebanon. Dalam operasionalnya, kelompok itu disebut mendapatkan dana dari Iran.
Saat Supreme Leader Iran, Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas setelah serangan Israel dan AS ke Iran pada 28 Februari lalu, Hizbullah merasa terpanggil untuk ikut mengangkat senjata melawan dua negara tersebut. Pada awal Maret 2026 lalu, Hizbullah memulai serangan kembali ke Israel.
Dalam pertemuan tersebut, Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, menekankan bahwa fokus utama seharusnya bukan pada penarikan pasukan Israel, melainkan pada akar masalah yaitu Hezbollah. Ia memperingatkan bahwa jika perhatian hanya diberikan pada isu penarikan Israel tanpa mengatasi Hezbollah, maka upaya perdamaian akan gagal.
“Sebaliknya, jika kita fokus pada akar masalahnya, Hizbullah, dan niat jahatnya terhadap Israel, saya tidak ragu bahwa kita akan berhasil menghilangkan ancaman Hizbullah dan mencapai perdamaian antara kedua negara kita,” terangnya.
Dari sisi Lebanon, Duta Besar untuk AS, Nada Hamadeh Moawad menyampaikan apresiasi kepada Trump atas upaya mediasi.
“Terima kasih atas… kehadiran Anda dalam momen bersejarah ini. Dengan dukungan Anda, kita dapat menjadikan Lebanon hebat kembali,” kata Hamadeh.
Al Jazeera melaporkan pada 23 April, sejak konflik pecah pada 2 Maret 2026, Israel telah membunuh 2.294 orang di Lebanon termasuk jurnalis dan petugas medis serta menyebabkan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id





























