tirto.id - Senin (15/9/2025) siang, Ahmad Basyari (34) mengawasi aktivitas para pekerja di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS 3R) Meruya Selatan, Jakarta Barat. Sejak setahun terakhir, pria yang akrab disapa Bari itu didapuk sebagai pengawas di Satuan Pelaksana (Satpel) Lingkungan Hidup di Kecamatan Kembangan.
Setelah diresmikan pada awal 2024 lalu, TPS 3R Meruya Selatan, yang dibangun di atas lahan seluas 2.500 meter persegi, menerima pasokan sampah hingga 20 ton setiap hari. Ini adalah fasilitas TPS 3R pertama yang dibangun Pemprov DKI Jakarta di Kota Administrasi Jakarta Barat.
Bari menjelaskan, sebanyak 40 gerobak motor dan 13 gerobak manual menyetor sampah ke TPS 3R Meruya Selatan setiap harinya. Gerobak-gerobak itu mengumpulkan sampah dari rumah warga di 12 RW di Kelurahan Meruya Selatan.
“Petugas gerobak itu yang swadaya RT dan RW. Mereka keliling menjemput sampahnya, lalu mereka bawa ke sini,” tutur Bari saat ditemui Tirto, Senin (15/9/2025).
Bari menerangkan, berton-ton sampah dari Kelurahan Meruya Selatan kemudian dipilah berdasarkan kategori tertentu. Sampah kategori organik diolah menjadi pupuk padat dan cair. Per hari, TPS 3R Meruya Selatan bisa mengolah sekitar 350-450 kilogram sampah organik.
Sementara itu, sampah kategori anorganik yang jumlahnya sekira 1-2 ton per hari diolah dengan beberapa cara. Sebagian dicacah dan dikirim ke Bank Sampah Induk Bambu Larangan, Kalideres, Jakarta Barat.

Selain itu, sebagian sampah anorganik dikirim ke pihak ketiga yang akan mengolahnya menjadi bahan bakar refuse derived fuel (RDF).
“RDF itu kami angkut dua kali seminggu. Kami kirim ke Bantargebang dulu,” jelas Bari.
TPS 3R Meruya Selatan juga mengolah sampah kategori bahan berbahaya beracun (B3). Bari menyebut pihaknya sudah bekerja sama dengan pihak ketiga untuk mengangkut limbah berbahaya tersebut setiap Selasa.
“Karena B3 ada yang infeksius, ada yang mudah terbakar, ada juga yang limbah medis,” sebutnya.
Sampah-sampah berupa residu yang tidak memiliki nilai jual dikirim ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Secara total, Bari mengatakan, TPS tempatnya bekerja mampu mengolah 5 hingga 10 ton sampah setiap hari.
Bari mengakui proses pemilahan sampah sesuai kategori masih menjadi tantangan yang dihadapi sehari-hari. Meskipun sudah diklasifikasikan di lingkungan perumahan, sampah-sampah itu sering kali kembali tercampur pada saat proses pengangkutan oleh petugas gerobak, sehingga para pekerja harus kembali memilah sampah setibanya di TPS 3R Meruya Selatan.
Untungnya, kata Bari, alat-alat pengolah sampah di TPS sudah cukup mumpuni untuk membantu tugas para pekerja. Sampah-sampah akan kembali dipilah di mesin conveyor untuk memastikan sampah yang masuk ke mesin pencacah adalah sampah dengan material yang mudah terurai.
“Seperti kemasan mie, kemasan kopi, kemasan lain-lainnya yang berbentuk plastik. Itu plastiknya yang mudah dicacah. Tapi, kalau yang seperti mika yang agak keras kami belum bisa untuk mengolahnya,” katanya.

Tirto melihat langsung proses pengolahan sampah di mesin conveyor dan pencacah. Pada awalnya, sampah-sampah anorganik yang bisa diolah dimasukkan ke dalam ban berjalan. Para pekerja memastikan sampah yang masuk adalah sampah plastik yang mudah tercacah.
Sampah-sampah itu terus berjalan melewati badan mesin, kemudian dipilah secara manual di sisi tengah mesin. Sebanyak lima orang pekerja bertugas memilah sampah dengan menggunakan tongkat. Sampah akan kembali berjalan hingga sampai di mesin pencacah.
Setelahnya, sampah anorganik dicacah secara otomatis hingga berubah bentuk menjadi serbuk. Serbuk-serbuk ini kemudian ditampung di sebuah bak besar, sebelum diangkut oleh truk dan didistribusikan ke bank sampah.
Berkat mesin conveyor dan pencacah sampah yang mumpuni, Bari mengaku pekerjaannya sangat terbantu. Dia merasa Pemprov DKI Jakarta telah menunjukkan keseriusannya dalam menangani permasalahan sampah.
“Kalau saya, secara pekerja di Dinas Lingkungan Hidup, kami cukup terbantu dengan ada teknologi [pengolahan sampah ini],” tutupnya.
Pemprov Jakarta Gencarkan Pembangunan TPS 3R

Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno, meresmikan empat TPS 3R di Jakarta pada awal 2025. Dalam sambutannya, dia mencanangkan pembentukan 870 bank sampah baru serta reaktivasi 852 bank sampah yang tidak aktif.
Empat TPS 3R yang diresmikan Rano adalah TPS 3R Semper, TPS 3R Sunter, TPS 3R Rawa Terate, dan TPS 3R Bambu Larangan. Khusus TPS 3R Semper, jumlah sampah yang diolah mencapai 25 ton per hari. Kehadiran TPS 3R dan bank sampah akan mengurangi beban TPST Bantargebang serta mendukung Jakarta menuju kota yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Rano menyebut Pemprov DKI Jakarta terus berupaya meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam mengurangi volume sampah dari rumah. Dengan mengedepankan prinsip 3R serta penguatan peran bank sampah, Rano mendorong masyarakat peduli dalam memilah dan mengelola sampah sebelum sampai ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
"Masalah sampah menjadi tanggung jawab kita bersama. Kami mulai memberikan sosialisasi, kita harus memilah sampah dari rumah sehingga kita bisa mengurangi sampah di TPA," ujar Rano di TPS 3R Semper, Jakarta Utara, Jumat (21/3/2025).
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengatakan, dinasnya telah berupaya mengolah sampah dari hulu, tengah, hingga hilir. Di hulu, DLH Jakarta mendorong masyarakat untuk menggiatkan bank sampah.
"Dengan demikian, nantinya warga bisa melakukan pemilahan sampah secara mandiri. Sampah anorganik bisa masuk ke bank sampah untuk kemudian diolah masing-masing. Sedangkan sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis dapat diproses di TPS 3R," katanya.
Asep menjelaskan TPS 3R mampu menghasilkan RDF atau bahan bakar jumputan padat (BBJP) yang akan disuplai ke PLN dan industri semen sebagai offtaker.
“Infrastruktur ini menunjang langkah strategis DLH DKI Jakarta dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Kami juga mendorong masyarakat menjalankan bank sampah berbasis ekonomi sirkular,” ucapnya.
Asep menyebutkan, pada tahun ini, DLH Jakarta akan membangun tujuh fasilitas pengolahan sampah 3R. Dari tujuh TPS 3R ini, tiga di antaranya berada di Jakarta Barat, yaitu di Tanah Sereal (Tambora), Kalideres, dan Duri Kosambi. Sementara empat lainnya berada di Jakarta Selatan, yakni di Menteng Atas (Setiabudi), Waduk Brigif (Jagakarsa), Kramat Pela, (Kebayoran Baru), dan Kemang Utara 9 (Mampang Prapatan).

Menurut Asep, sejak 2022 hingga saat ini, Pemprov DKI Jakarta telah membangun 17 TPS 3R di berbagai wilayah administrasi di Jakarta. Pemprov DKI Jakarta menargetkan dapat membangun TPS 3R di 44 kecamatan untuk mengurangi volume sampah.
"Kami upayakan semakin banyak TPS 3R yang ada di Jakarta," ujar Asep pada Jumat (21/3/2025) lalu, dikutip dari Antara.
Sementara itu, anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Ali Lubis, mengapresiasi upaya Pemprov DKI Jakarta melalui DLH dalam menyediakan fasilitas TPS 3R sebagai komitmen menghadirkan pengelolaan sampah yang baik. Dia juga mendorong Pemprov DKI Jakarta agar menyediakan fasilitas TPS 3R di setiap wilayah. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta harus terus menggencarkan sosialisasi terkait pemilahan sampah. Dengan begitu, masyarakat bisa memilah sampah sejak dari rumah.
“Dengan situasi dan kondisi saat ini, di Jakarta yang sampahnya sampai 7 ribu-8 ribu ton tiap hari, saya kira masih butuh banyak sekali penyediaan TPS 3R,” pungkasnya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id






























