Menuju konten utama

Tokoh Muhammadiyah Tanggapi Pemotongan Nisan Salib di Yogyakarta

Abdul Munir Mulkhan menilai perlu ada kesepakatan warga yang mengedepankan toleransi antar-umat beragama.

Tokoh Muhammadiyah Tanggapi Pemotongan Nisan Salib di Yogyakarta
Makam Albertus Slamet Sugihardi di Pemakaman Jambon, Purbayan Kotagede, Selasa (18/12/2018). Tirto.id/Dipna Videlia.

tirto.id - Tokoh senior Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, menanggapi kejadian pemotongan salib warga Nasrani di makam Jambon, Purbayan, Kotagede, Yogyakarta, Senin (17/12/2018). Menurut Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga ini, jika lokasi makam tersebut merupakan pemakaman umum, maka hal itu tidak seharusnya dilakukan.

"Kalau boleh agama lain dimakamkan di situ, yang muslim juga enggak boleh dong pakai simbol muslim. Kalau simbol Nasrani enggak boleh, bagaimana dengan simbol Islam?" ujar Munir ketika dihubungi Tirto.id, Rabu (19/12/2018).

Munir menambahkan, warga setempat perlu membuat kesepakatan yang mengedepankan toleransi. "Kalau nonmuslim enggak boleh, kenapa muslim boleh? Itu yang perlu disepakati warga. Perlu saling pengertian," beber Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2000-2005 ini.

Mengenai larangan ibadah saat pemakaman dan misa arwah di rumah duka, Munir mengatakan, jika warga nonmuslim boleh tinggal di daerah situ, boleh memakamkan jenazah di pemakaman itu, seharusnya juga diperbolehkan beribadah di situ.

Cendekiawan muslim asal Jember, Jawa Timur, yang sudah menulis puluhan buku ini pun menyebut, warga yang beragama Islam tentu juga tidak nyaman diperlakukan serupa jika menjadi kaum minoritas di suatu wilayah.

"Saya sebagai muslim ketika melakukan ibadah enggak boleh kan sedih sekali. Begitu pula orang lain, yang kristiani, Buddha, atau Hindu. Toleransi itu kan saling menghargai perilaku keagamaan masing-masing," tutur Munir.

Oleh karena itu, warga setempat perlu melakukan rembuk bersama agar tercipta kesepakatan yang adil bagi semua pihak. Munir juga menegaskan, tidak ada aturan soal makam muslim yang tak boleh bersebelahan dengan makam nonmuslim. Menurutnya, itu hanya kesepakatan sosial yang tidak diatur agama.

Kesepakatan itu, lanjut Munir, juga soal apakah pemakaman itu pemakaman khusus muslim atau tidak. Jika pemakaman itu khusus muslim, maka warga perlu memikirkan di mana warga nonmuslim yang meninggal akan dimakamkan.

Meskipun begitu, Munir memahami betul Purbayan adalah daerah dengan mayoritas muslim lantaran ia bermukim tidak jauh dari situ. Namun, di tempat tinggal Munir yang berada di sekitar Kotagede dan sebagian besar muslim, tidak ada aturan pemakaman seperti yang diterapkan di Purbayan.

Sebagai informasi, warga Kotagede mayoritas beragama Islam. Situs kependudukan.jogjaprov.go.id menyebut jumlah muslim di wilayah itu mencapai 30.207 orang dari total penduduk berjumlah 32.246 orang.

"Kesepakatan" Warga

Kayu nisan salib dalam pemakaman seorang warga bernama Albertus Slamet Sugihardi dipotong bagian atas oleh warga RT 53, RW 13, Purbayan, Kotagede. Foto nisan salib yang sudah dipenggal itu kemudian viral di media sosial.

Bejo Mulyono, yang dianggap sebagai tokoh masyarakat Purbayan, mengatakan pemotongan salib sudah jadi "kesepakatan" antara warga, keluarga almarhum, tokoh agama, serta tokoh masyarakat. Menurut Bejo, lingkungan di situ tidak membolehkan ada simbol-simbol agama Nasrani di makam tersebut.

"Artinya, khusus yang makam itu. Walaupun belum resmi, tapi akan dijadikan makam muslim. Kemarin itu karena darurat, diperbolehkan, asal makam [Slamet] dipinggirkan dan tidak ada simbol-simbol Nasrani karena di sini mayoritas Islam," ujar Bejo kepada reporter Tirto.id, di Yogyakarta, Selasa (18/12/2018).

Pelaku pemotong salib, kata Bejo, adalah warga yang saat itu ikut melayat setelah ada "kesepakatan" antara warga setempat dengan keluarga almarhum. Warga kampung Purbayan juga melarang ada misa atau ibadah pemakaman secara Katolik di lokasi pemakaman dan di rumah duka.

Baca juga artikel terkait KASUS INTOLERANSI atau tulisan lainnya dari Dipna Videlia Putsanra

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Dipna Videlia Putsanra
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Dipna Videlia Putsanra