Titik Lemah Penanganan Corona di Yogyakarta: Data Bed Tak Sesuai

Oleh: Irwan Syambudi - 20 Januari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Masalah akut penanganan pandemi di Yogyakarta adalah tidak sesuainya data ketersediaan tempat tidur yang dilaporkan dengan keadaan di lapangan.
tirto.id - Rumah sakit (RS) rujukan COVID-19 makin penuh dan pasien sulit mencari ruang perawatan, akan tetapi di sisi lain saban hari dilaporkan ada puluhan bed kosong. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta pun didesak untuk melaporkan secara detail data ketersediaannya.

Situasi tersebut misalnya terjadi pada 12 Januari 2021. Dalam laporan kolaborasi yang dirilis Tirto pada Jumat (15/1/2021), dari 27 RS rujukan yang ditetapkan oleh Pemprov DIY, 23 di antaranya tak dapat lagi menerima pasien COVID-19. Hal itu diketahui setelah tim kolaborasi menghubungi seluruh RS tersebut melalui pusat kontak resmi.

Pada hari itu per pukul 15.56 dilaporkan secara resmi masih tersedia 23 tempat tidur critical (menggunakan ICU) dari total 76 yang tersedia. Lalu dilaporkan pula masih ada 30 yang kosong dari total 652 tempat tidur noncritical. Total tempat tidur yang kosong, critical maupun noncritical, masih ada 53.

Salah satu yang mendesak Pemda DIY untuk terbuka mengenai data perkembangan penanganan COVID-19 termasuk ketersediaan tempat tidur di RS rujukan adalah Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY Huda Tri Yudiana. “Kita buka kondisi apa adanya. Kita buka agar kemudian masyarakat aware. Ketika rumah sakitnya penuh, ya, kita sampaikan penuh semua. Ya sudah, bagaimana lagi,” kata Huda saat dihubungi reporter Tirto, Senin (18/1/2020).

Ia minta agar data ketersediaan tempat tidur dilaporkan secara real time melalui sistem online sehingga semua orang dapat mengakses. “Real time itu sangat penting, diumumkan sampai detail yang kosong di mana saja.”

Dengan demikian harapannya pasien COVID-19 yang kondisinya darurat tak kesulitan mengakses rumah sakit. Dengan begitu pula makin banyak orang tertolong dan angka kematian dapat ditekan.

Dia bilang saat ini antrean pasien COVID-19 membeludak dan banyak yang tidak tertampung di rumah sakit atau pun layanan kesehatan lain.

Huda juga mendesak agar kapasitas rumah sakit ditambah sekaligus tenaga kesehatannya. Meskipun sulit, menurutnya itu harus dilakukan secepatnya.


Ketua Harian Satuan Tugas Penanganan COVID Yogyakarta Heroe Poerwadi juga mengatakan ketiadaan data real time adalah “titik lemah” penanganan pandemi di sana. Akibatnya adalah “rumah sakit tidak bisa merujuk ke rumah sakit lain yang sekiranya masih memiliki tempat tidur.”


Sedang Diperbaiki

Untuk merespons ini Gubernur DIY Sri Sultan HB X menggelar rapat koordinasi bersama seluruh kepala daerah, Minggu (17/1/2020). Di sana ia sepakat bahwa memang harus ada laporan real time. Menurutnya, laporan real time penting “supaya kondisi faktual di lapangan itu bisa diikuti, tidak sekadar sekali.”

“Jadi mengubah pola sistem report dan sebagainya, supaya kita bisa kontrol karena sudah di atas 80 persen bed terisi dan risikonya lebih besar,” kata Sultan dalam keterangan resmi, Senin (18/1/2021).

Data ketersediaan tempat tidur selama ini diperbarui setiap hari pukul 12 siang.

Akhir pekan lalu selama dua hari terakhir data ketersediaan tempat tidur di RS rujukan COVID-19 tak dilaporkan. Pada Minggu (17/1/2020), juru bicara penanganan COVID-19 Pemda DIY Berty Murtiningsih menyatakan sistem pelaporan sedang dalam diperbaiki agar sesuai dengan yang diinginkan Sultan. “Berhubung perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan, maka data TT RS (tempat tidur rumah sakit) belum bisa publish,” kata Berty kepada wartawan.

Hingga Selasa (19/1/2020), data tersebut masih belum juga dipublikasikan.

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji, dalam keterangan resmi kepada wartawan, Selasa (19/1/2021), menyatakan akan menggunakan aplikasi Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT).

Di situs web SPGDT Yogyakarta yang masih dalam tahap pengembangan, memang terdapat informasi ketersediaan bed RS khusus COVID-19 di Yogyakarta (diakses Rabu 20 Januari 2021 pukul 01.30). Namun untuk mengetahui informasi detail khususnya lokasi RS, harus menggunakan akun khusus yang terdaftar.

“SPGDT yang bisa mengakses layanan kesehatan terutama puskesmas. Kalau ada yang sakit silakan datang ke puskesmas. Puskesmas itu nanti yang punya data terhadap ketersediaan rumah sakit. Apakah seseorang perlu ke rumah sakit atau isolasi mandiri itu yang menentukan puskesmas,” kata Aji.

Dengan kata lain, data detail lokasi ketersediaan bed khusus COVID-19 tetap tidak dapat diakses secara langsung. Masyarakat yang hendak mengakses data atau memerlukan ruang perawatan COVID-19 harus menghubungi puskesmas yang sialnya tak semua buka 24 jam.


Selain meminta perubahan sistem pelaporan, Sultan juga mengatakan kapasitas tempat tidur untuk pasien COVID-19 khususnya di RS milik pemerintah ditambah. “Di [RS] pemerintah yang tadinya 40 persen kita tingkatkan jadi 60 persen.”

Masalahnya sekadar penambahan kapasitas belum tentu menjawab masalah. Penambahan kapasitas harus diikuti penambahan tenaga medis. Ketersediaan tenaga medis di Yogyakarta khususnya untuk penanganan COVID-19 masih kurang.

Maka kemudian untuk menambah kebutuhan akan dicarikan relawan. “Kita cari relawan sesuai kepentingannya kalau kita mau menambah bed,” katanya.

Baca juga artikel terkait RUMAH SAKIT PENUH atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Rio Apinino
DarkLight