tirto.id - Sukses dengan penyelenggaraan perdana tahun lalu, Terap Festival kembali hadir di di kawasan Dago dan Braga, Bandung pada 23-30 Agustus 2025. Mengusung tema “Caang Mumbul dina Batok”—artinya Terang Menyembul dalam Tempurung—Terap Festival #2 akan diramaikan oleh serangkaian kegiatan, mulai dari inkubasi, pertunjukan, diskusi, hingga lokakarya.
Selain tema, ungkapan “Caang Mumbul dina Batok” juga merupakan metafora tentang bagaimana cahaya kehidupan warga kota tetap menyembul dan membumbung, sekalipun sering kali tertutupi oleh tempurung pembangunan, gentrifikasi, dan hagemonisasi ruang.
“Melalui pendekatan artistik yang berakar pada ruang hidup warga, Terap Festival mengajak publik untuk melihat kota sebagai panggung bersama, sekaligus ruang dialog yang inklusif dan berkeadilan,” ungkap Direktur Terap Festival Sahlan Mujtaba dalam keterangan yang diterima Tirto.id, Kamis (21/8).
Sahlan menegaskan, sebagaimana tahun sebelumnya, Terap Festival #2 bertolak dari keresahan atas ruang kota yang semakin menyisihkan warga. Melalui gelaran ini, ia berharap teater dapat menjadi sarana untuk kembali menyalakan cahaya dalam kehidupan warga yang kerap terhalang oleh tembok pembangunan.
“Di balik gang-gang sempit, pasar yang riuh, hingga jalanan kota, ada kehidupan warga yang perlu didengar. Itulah yang ingin kami hadirkan melalui festival ini,” sambung Sahlan.
Dalam Catatan Kuratorial, Kurator Terap Festival #2 Ferial Afiff dan Trianzani Sulshi menuliskan refleksi mendalam tentang lanskap Dago dan Kecamatan Coblong yang terus berubah. Menurut keduanya, pertunjukan di ruang publik bukanlah panggung mewah, melainkan cara warga untuk bertanya dan mengingat.
“Tubuh menjadi pengingat, dan ruang menjadi peristiwa. Dengan tema ‘Caang Mumbul Dina Batok’, kami ingin menegaskan bahwa cahaya itu ada, dan selalu mencari jalan untuk menyinari kota,” tulis Ferial dan Trianzani.
Direktur Artistik Terap Festival #2 Riyadhus Shalihin melihat festival ini sebagai ruang eksperimentasi artistik yang tak terpisahkan dari etika kolaborasi. Melalui inkubasi, ungkap Riyadh, teater bukan hanya ekspresi individual, melainkan kerja sosial yang berakar pada solidaritas.
“Setiap pertunjukan adalah dialog dengan ruang dan relasi sosial di sekitarnya. Inilah cara kami mengembalikan teater sebagai praktik bersama warga, bukan sekadar tontonan,” jelasnya.
Program Festival
Terap Festival #2 menyajikan beragam pertunjukan site-specific yang tersebar di ruang publik. Tahun ini, enam seniman, baik individu maupun kolektif, hadir melalui jalur open call, undangan, karya berkelanjutan, hingga main performance internasional.
Dari hasil open call, Panca Lintang Dyah Paramitha akan berkolaborasi dengan warga dan komunitas ibu-ibu di Sekeloa menyuguhkan pertunjukan intim di rumah warga. Sementara Kolektif Bawah Meja akan bekerja sama dengan ekskul Cakra, Secret, dan Teater AH SMA Negeri 1 (Smansa) Bandung. Keduanya menghadirkan teater sebagai alat pembongkar relasi antara tubuh muda, disiplin sekolah, dan arsitektur institusi pendidikan.
Dari jajaran seniman undangan, Teater Samana akan menghidupkan ruang hijau Babakan Siliwangi, menandai tubuh sebagai bagian dari ekologi yang terancam gentrifikasi. Sedangkan seniman Taiwan Chao Man Chun akan menyusuri ruang-ruang pasar Simpang Dago, menegaskan pasar sebagai “infrastruktur tubuh kolektif” yang menolak untuk direduksi sekadar komoditas.
Dalam kategori karya berkelanjutan, Ganda Swarna kembali menghadirkan eksplorasi Gerilya Bunyi yang pada edisi pertama Terap Festival dimaksudkan sebagai interupsi akustik. Kini, Gerilya Bunyi diproyeksikan ulang di Jalan Braga melalui karya bertajuk "Resep Umur Panjang".
"Resep Umur Panjang" menghadirkan instalasi warung di tengah Braga yang membawa rekaman suara ibu-ibu kampung memasak, termasuk kisah Mak Ira yang berusia seratus tahun, sebagai arsip hidup tentang perawatan, kebersamaan, dan kepedulian warga. "Resep Umur Panjang" juga merupakan undangan bagi audiens untuk merasakan makanan bukan sekadar menu wisata, melainkan pengetahuan kolektif tentang bagaimana umur panjang dirawat bersama.
Sebagai sajian utama, festival menghadirkan Port-B, kelompok teater internasional yang disutradarai Akira Takayama (Jepang), dengan dua karya—Travel Agency dan Board Game. Bertempat di sebuah kafe di kawasan Braga, karya ini membuka dialog lintas budaya tentang kota, mobilitas, dan ruang bersama; menguji bagaimana konsumsi ruang kafe sebagai arsitektur kapital dapat dibalik menjadi ruang percakapan politik.
Selain pertunjukan, Terap Festival #2 juga menyelenggarakan dua diskusi publik yang berfokus pada relasi teater, ruang kota, hak mobilitas, dan hak atas kota. Diskusi pertama bertema Inkubasi dan Riset, sebuah upaya mengembalikan dan menjahit gagasan dari pengalaman yang terurai dalam proses artistik seniman.
Sesi ini digelar pada 23 Agustus 2025 di Gedung Indonesia Menggugat, dengan topik “Tubuh, Mobilitas, dan Performatifitas Ruang Kota”. Forum ini menyoal bagaimana tubuh warga bernegosiasi dengan infrastruktur, serta bagaimana seni pertunjukan dapat menjadi alat untuk menantang logika tata ruang yang menyingkirkan.
Diskusi kedua bertema “Merebut Ruang: Teater, Partisipasi, dan Hak Atas Kota Dalam Perspektif Perempuan” berlangsung pada 25 Agustus 2025 di Gedung Indonesia Menggugat. Sesi ini membuka pembicaraan tentang bagaimana pengalaman perempuan dalam ruang publik kerap dipinggirkan, dan bagaimana teater dapat menjadi praktik partisipatif untuk merebut akses, menuntut kesetaraan, dan merayakan kota sebagai milik bersama.
Sebelum fase pertunjukan, festival diawali dengan program inkubasi seniman. Di sini, para peserta tidak hanya mempelajari teknik artistik, tetapi juga riset bersama warga. Trianzani Sulshi, dalam salah satu sesi, menegaskan bahwa kota harus dilihat bukan sekadar latar, melainkan panggung hidup.
“Kota bukan hanya latar, melainkan pertunjukan hidup yang terus berlangsung. Tubuh warga adalah aktor, dan interaksi sehari-hari mereka adalah naskah yang selalu diperbarui,” kata Trianzani.
Kolaborasi Warga dan Kota
Berakar di Bandung, festival ini menyoroti Dago dan Braga sebagai ruang yang sarat memori, sekaligus arena pertarungan modernisasi. Braga dengan jejak kolonial dan sejarah panjangnya, bertemu dengan Dago, lanskap sosial yang berlapis nostalgia, kos-kosan, pasar, hingga hutan kota. Keduanya menghadirkan medan di mana arsitektur tidak netral, melainkan penuh tegangan antara kapital, negara, dan warga.
“Terap Festival menolak sekadar menjadi tontonan. Gelaran ini memanggil warga untuk terlibat aktif sebagai kolaborator dan audiens partisipatif. Semangat ini menegaskan, ruang publik bukan sekadar infrastruktur kota, melainkan arena perjumpaan, ingatan, dan perjuangan kolektif,” ungkap Sahlan Mujtaba.
Terap Festival #2 terselenggara berkat dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation, Japan Foundation Jakarta, serta Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya Kementerian Kebudayaan. Meski demikian, Terap Festival eksis karena warga, komunitas lokal, dan institusi pendidikan di Bandung yang menjadi bagian integral dari penciptaan. Dengan demikian, festival ini bukan hanya soal seni, melainkan upaya membayangkan ulang kota sebagai komune yang hidup.
Informasi lengkap tentang Terap Festival dapat diakses via laman terapfestival.com dan Instagram: @terapfestival
Editor: Zulkifli Songyanan
Masuk tirto.id


































