Menuju konten utama

Tarif Masuk Ragunan Diusulkan Naik Jadi Rp10 Ribu, Ini Alasannya

Komisi C DPRD DKI dan pengelola Ragunan mengusulkan tarif masuk menjadi Rp10 ribu. Apa alasan perubahan tarif masuk ini?

Tarif Masuk Ragunan Diusulkan Naik Jadi Rp10 Ribu, Ini Alasannya
Sejumlah wisatawan memotret jerapah (Giraffa camelopardalis) di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Kamis (28/5/2026). Pengelola Taman Margasatwa Ragunan mencatat jumlah kunjungan wisatawan saat libur Idul Adha mencapai 15.484 orang pada Rabu (27/5), sementara hingga siang hari pada Kamis (28/5) jumlah pengunjung telah melebihi 10.000 orang. ANTARA FOTO/Reno Esnir/app/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Dimaz Raditya berujar, rencana penyesuaian tarif dilakukan untuk meningkatkan fasilitas-layanan di area Taman Margasatwa Ragunan. Pasalnya, tarif masuk Ragunan seharga Rp4 ribu untuk pengunjung dewasa dan Rp3 ribu untuk anak-anak dinilai kurang relevan saat ini.

"Tarif [tiker masuk] Ragunan ini sudah 20 tahun tidak pernah naik. Sementara, kondisi ekonomi dan pendapatan masyarakat Jakarta terus meningkat," sebutnya dalam keterangan yang diterima, Sabtu (5/9/2026).

Karena itu, Dimaz menyatakan, Komisi C DPRD DKI Jakarta berencana melakukan penyesuaian tarif masuk Ragunan di angka sekitar Rp10 ribu. Angka Rp10 ribu dinilai masih rasional dan ramah di kantong masyarakat Jakarta maupun masyarakat dari wilayah lain.

Mengingat, tempat wisata lain di Jakarta kini terbilang lebih mahal daripada Rp10 ribu. Misalnya, tempat wisata ikonik di Ibu Kota lain, yakni Ancol dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

“Tarif sekarang paling mahal Rp4 ribu. Rencana akan dinaikkan menjadi Rp10 ribu tetapi masih terus kami kaji perihal angka,” ucap dia.

Sementara itu, anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth menilai, penyesuaian tarif memang perlu dilakukan untuk membenahi berbagai sarana dan prasarana di Ragunan.

Kata dia, salah satu hal yang bisa ditingkatkan saat ada penyesuaian tarif kelak, yakni tingkat keamanan kandang. Masih ada beberapa kandang yang tingkat keamanannya yang perlu diperhatikan.

Mengingat, pada Mei 2026, terdapat seorang anak yang terjatuh ke kandang gajah. Dengan demikian, ia menilai, perlu ada evaluasi dengan meningkatkan sektor keamanan kandang supaya kejadian serupa tak terulang.

“Beberapa waktu lalu, ada anak yang terjatuh ke area kandang gajah. Nah, ini menjadi salah satu catatan kami dan kami berharap standar keamanan bisa ditingkatkan seiring penyesuaian tarif,” tuturnya.

Kenneth menyebutkan, penyesuaian tarif tiket masuk dapat mengurangi beban subsidi anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) DKI Jakarta. Pasalnya, APBD DKI diaebut masih menanggung biaya operasional Ragunan hingga 70 persen.

Menurut Kenneth, dengan nilai tarif baru itu, Ragunan diharapkan mampu secara bertahap menjadi badan layanan umum daerah (BLUD).

“Harapan kami dengan adanya peningkatan tarif ini adalah Taman Margasatwa Ragunan bisa mandiri secara finansial. Efisiensi pada anggaran APBD nantinya bisa digunakan untuk program lain yang lebih membutuhkan,” ucap dia.

Kenneth menyampaikan, penambahan pendapatan dari penyesuaian harga tiket masuk itu harus dialokasikan pada aspek-aspek vital.

Misalnya, perbaikan sanitasi, kebersihan toilet, program pemuliaan satwa, kesejahteraan pegawai, serta unsur pendukung Ragunan.

“Kondisi satwa harus tetap prima. Bahkan untuk satwa besar seperti gorila jantan yang saat ini belum memiliki pasangan, kita dorong agar ada skema pertukaran satwa antar-kebun binatang agar bisa mendapatkan gorila betina sehingga mereka bisa berkembang biak dengan layak," tuturnya.

"Kesejahteraan pegawai dan petugas teknis di lapangan juga harus diperhatikan. Semua ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” lanjut dia.

Ia menambahkan, penambahan pemasukan yang diterima pengelola Taman Margasatwa Ragunan dari penyesuaian harga tiket masuk juga dapat dimanfaatkan untuk menambah jumlah dokter hewan.

Sebab, jumlah dokter hewan di Taman Margasatwa Ragunan belum sebanding dengan jumlah satwa yang berjumlah lebih dari 2.200 satwa.

“Ada lebih dari 2.200 jumlah satwa di Taman Margasatwa Ragunan, tetapi jumlah dokter hewannya hanya berjumlah 8 orang, kan timpang sekali ini. Kalau penyesuaian tarif tiket masuk bisa menambah pemasukan, maka penambahan dokter hewan harus menjadi hal prioritas yang wajib dilakukan,” sebutnya.

Merespons hal tersebut, Kepala Taman Margasatwa Ragunan Endah Rumiyanti mengaku pihaknya menyambut baik adanya wacana penyesuaian harga tarif masuk.

Ia turut mengakui, pihaknya terlalu bergantung dengan APBD DKI Jakarta setiap tahunnya. Sementara itu, pendapatan tiket masuk cenderung stagnan selama 20 tahun terakhir.

“Total kebutuhan anggaran operasional kami per tahunnya mencapai sekitar Rp160 miliar, tapi pendapatan mandiri yang mampu kami kumpulkan baru sekitar Rp30 miliar per tahun. Artinya, tingkat subsidi dari pemerintah daerah masih berada di kisaran 70 persen,” sebutnya.

Ia menyatakan, wacana penyesuaian tarif bukan bentuk komersialisasi kawasan, melainkan upaya reorientasi pelayanan publik agar Taman Margasatwa Ragunan dapat merealisasikan rencana pengembangan kawasan secara sistematis.

“Goal utamanya adalah menghadirkan ruang terbuka hijau dan kebun binatang berstandar internasional yang aman, nyaman, dan edukatif,” tutur Endah.

Baca juga artikel terkait RAGUNAN atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Dipna Videlia Putsanra