Tan Deseng: Tionghoa yang Menjadi Maestro Musik Sunda

Oleh: Irfan Teguh - 16 Februari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Deseng yang memperkenalkan "ketuk tilu" melalui beberapa rekaman yang digarap bersama pemusik-pemusik rakyat dari Karawang.
tirto.id - Saat berusia 16 tahun, Tan Deseng menuruti keinginan ayahnya pergi ke Palembang untuk berdagang. Di perantauan itulah pertama kali ia mendengarkan lagu-lagu Sunda lewat Radio Republik Indonesia. Dan seketika ia menitikkan air mata.

“Saya menangis mendengar musik dan lagu itu. Saya terus bertanya-tanya mengapa saya menangis? Dan saya mendapat jawaban pasti dalam diri saya, bahwa memang betul saya orang Sunda,” katanya, dikutip dari laman jabarprov.go.id.

Tan Deseng semula ditulis Tan De Seng, kemudian setelah masuk Islam menjadi Mohamad Deseng. Ia dilahirkan pada 22 Agustus 1942 di daerah Pasar Baru, Bandung, tepatnya di Jalan Tamim. Deseng lahir dari keluarga peminat seni sebagai anak kelima dari delapan bersaudara. Kedua orang tuanya adalah Tan Tjing Hong dan Yo Wan Kie.

Tan Tjing Hong berprofesi sebagai pengusaha sekaligus sinshe dan seniman yang bisa melukis serta memainkan berbagai instrumen musik. Dari delapan anaknya, Tan Deseng dan Tan De Tjeng (kakaknya) mewarisi minat dan keterampilan seni dari ayahnya. Meski demikian, saat lulus dari SMP Tsing Hoa di Jalan Cihampelas, Bandung, ayahnya menghendaki dia menjadi pedagang saat Deseng.


Menurut Drs. Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa (2008), umur lima tahun Deseng sudah mahir memainkan harmonika dan meniup seruling dengan notasi yang diajarkan kakaknya, Tan De Tjeng.

“Ia kemudian mempelajari seluk-beluk berbagai jenis kesenian Sunda, selain belajar memainkan waditra (instrumen) musik Sunda. Melalui Adjat Sudradjat atau dikenal juga sebagai Mang Atun, ia belajar memainkan kecapi,” tulisnya. (hlm. 348).

Setyautama menambahkan, dalam usia muda Deseng sudah mampu memainkan lagu-lagu klasik Sunda, salah satunya lagu "Budak Ceurik" ("Anak Menangis"). Untuk meningkatkan kemampuan bermain kecapi dan suling, Deseng berguru kepada para suhu kecapi seperti Ebar Sobari, Mang Ono, Sutarya dan dalang Abah Sunarya.

Hasil berguru itulah yang membuatnya semakin mahir, dan berhasil membawanya malang-melintang di berbagai kota di Jawa Barat. Ia juga aktif di berbagai grup musik, dari Haming Youth, Young Brothers, Palamar, hingga Marya Musika. Untuk kecapi ia pernah mendirikan grup Bhakti Siliwangi. Selain itu, Deseng juga pernah bermain bersama Hj. Titin Fatimah, pesinden kondang lagu-lagu Sunda dari Jakarta (1980), lalu Euis Komariah, Tati Saleh, dan sebagainya, selain juga tampil dalam berbagai ilustrasi dan meng-aransemen musik untuk film-film yang digarap Tati Saleh, seperti Si kabayan, Dukun Beranak, Misteri Jaipong, dan Mat peci.

Menjelajahi Musik

Kemampuan Deseng tidak terbatas pada alat musik tradisional. Dia juga piawai bermain gitar dalam berbagai aliran musik. Dari 1950-an sampai 1960-an, ia sempat menjadi pemain gitar di berbagai band di Bandung, sehingga sempat dijuluki ‘Setan Melodi’.

Dalam Ensiklopedi Musik, Volume 1 (1992) disebutkan meski "ketuk tilu" sebagai dasar jaipong pertama kali dimainkan oleh Topeng Ali di Karawang, namun Deseng yang memperkenalkannya melalui beberapa rekaman yang digarap bersama pemusik-pemusik rakyat dari Karawang.

Bersama dua temannya ia mendirikan studio rekaman. Studio ini menghasilkan ribuan rekaman master kaset berisi berbagai jenis kesenian tradisional Sunda. Di penghujung 2002, bersama Liang Tze Hai dan Ny. Lim Cay Hin, ia mendirikan Padepokan Pasundan Asih. Mereka menggarap macam-macam tari, musik, grup vokal, bahkan teater. Ada jaipong, ketuk tilu, Sunda India, kliningan Sunda, rampak sekar, gendak pencak, dan lain sebagainya.

“Pokoknya semua serba Sunda. Deseng disebut-sebut lebih Sunda daripada orang Sunda sendiri,” tambah Setyautama.

Pada 2007, bersama empat tokoh musik yang lain, Tan Deseng menerima Piala Metronome sebagai pengembang musik tradisi Sunda pada ajang penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia.

“Yang dilihat adalah lamanya pengabdian diri dan kontribusi yang diberikan, tanpa melihat bentuk, seberapa luas dampak positifnya. Usia tidak menjadi penghalang,” ujar James F. Sundah, salah seorang pengurus PAPPRI (Persatuan Artis, Penyanyi, dan Pemusik Indonesia).

Belum Layak Jadi Maestro

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mempunyai program bertajuk Belajar Bersama Maestro yang telah diluncurkan sejak Juni 2015, yang salah satu bintang tamunya adalah Tan Deseng. Dalam program tersebut, Deseng mengajarkan anak-anak muda dari berbagai daerah di Indonesia terkait musik modern dan tradisional.

Ketika diwawancara oleh penyelenggara program tersebut, Deseng menyatakan amat bersyukur dilahirkan di tempat yang mempunyai budaya yang indah dan tinggi, satu tempat yang menurutnya sangat luar biasa. Ia berkisah tentang kepekaannya terhadap musik. Sejak kecil, kira-kira berusia tiga atau empat tahun, ia sudah menerima banyak suara, dari musik sampai azan.

"Saya sangat sensitif terhadap seni musik. Sejak kecil, sejak berusia 3-4 tahun. Saat mendengarkan musik-musik tertentu, seperti azan subuh, waktu kecil saya bisa mengeluarkan air mata. saya gak bisa membedakan azan untuk sembahyang atau musik," kenangnya.


infografik tan deseng


Kecintaannya terhadap seni, utamanya seni musik ia rawat dari kecil sampai hari ini ketika usianya sudah tidak lagi muda. Ketika pemerintah mengadakan program ini, tentu saja ia menyambut baik.

“Seberapa derajat tingginya bangsa bisa terlihat dari karya seninya. Karya nenek moyang kita memiliki scale yang patut dibanggakan. Kedua, kita memiliki titilaras yang mandiri dan cukup kaya. Kita memiliki 4 sebenarnya, tapi yang terkenal 3, yaitu pelog, sorog, salendro,” ujarnya.

Terkait program tersebut yang mendapuknya sebagai maestro, Deseng meresponnya dengan rendah hati.

“Merupakan suatu kehormatan bagi saya, walaupun sebetulnya saya belum layak jadi maestro. Saya sekadar tahu sedikit, dan saya merasa malu karena sebetulnya saya belum pernah memberi apa-apa kepada bangsa dan negara. Tiba-tiba saya dijuluki seorang maestro,” ujarnya.

Orang Sunda Pituin

Tahun 1964 Tan De Seng menikah dengan Tan Li Joe dan dikaruniai seorang putra. Pernikahan itu bubar pada 1976. Ia lalu menikah lagi dengan Nia Kurniasih pada 1977. Dari pernikahannya yang kedua ia mempunyai dua orang putri. Dari anak perempuannya, ia mempunyai tiga cucu.

Pada 2008, Deseng menikah lagi dengan Wulan. Anak-anak Deseng—Fitri dan Tantri, juga terjun ke dunia seni budaya. Fitri piawai bermain instrumen musik Sunda dan Tantri pelantun lagu-lagu Cianjuran.

Meski darah Tionghoa mengalir deras di tubuhnya, namun Deseng selalu menyebut dirinya sebagai orang Sunda pituin atau orang Sunda Asli.

“Walau bagaimanapun saya adalah orang Sunda, dan saya merasa orang Sunda pituin. Saya lahir di Bandung. Makan minum dan bekerja di Bandung. Musik yang saya dengarkan setiap hari dari masa kecil adalah musik Sunda. Kebudayaan tempat saya hidup adalah Sunda, hanya kebetulan saya lahir dari bapak yang Cina, tetapi bapak saya juga Sunda banget,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait TIONGHOA atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Musik)

Reporter: Irfan Teguh
Penulis: Irfan Teguh
Editor: Zen RS